Meramalkan Masa Depan

Masa depan akan menjadi milik orang yang meyakini indahnya mimpi-mimpi mereka. (Eleanor Roosevelt)Bayangkan kalau kita semua bisa mengetahui segala apa yang akan terjadi esok hari dan seterusnya. Anda, misalnya tahu bahwa dalam 2 hari lagi akan dipromosi dalam jabatan karier Anda. Menunggu hari itu hati senang tak terkira. Hati berbunga-bunga. Senyum ceria akan senantiasa menghiasi wajah Anda.
Pongki Pamungkas Penulis The Answer Is Love, All You Need Is Love, dan To Love and To Be Loved | 01 Mei 2018 16:06 WIB
Pongki Pamungkas - Jibi

“Masa depan akan menjadi milik orang yang meyakini indahnya mimpi-mimpi mereka.” (Eleanor Roosevelt)

Bayangkan kalau kita semua bisa mengetahui segala apa yang akan terjadi esok hari dan seterusnya. Anda, misalnya tahu bahwa dalam 2 hari lagi akan dipromosi dalam jabatan karier Anda. Menunggu hari itu hati senang tak terkira. Hati berbunga-bunga. Senyum ceria akan senantiasa menghiasi wajah Anda.

Akan tetapi, dari sudut negatif karena Anda bisa tahu masa depan. Anda pun akan tahu. Bahkan, misalnya Anda akan kehilangan hidup sang pasangan hidup 3 bulan lagi. Atau bahkan Anda tahu, kapan kematian Anda menjelang. Tahu kapan anak kita mendapat kecelakaan lalu lintas dan harus diamputasi kakinya. Dan lain-lain, dan lain-lain. Amit-amit. Naudubillahi mindzalik!

Apakah Anda senang memiliki kemampuan melihat masa depan ini? Saya tidak. Betapa meresahkannya setiap hari menunggu kejadian yang menyusahkan, menyakitkan, dan menyedihkan akan menimpa kita. Betapa kita akan tertekan, galau, makan tak enak tidur tak nyenyak, menunggu musibah demi musibah yang akan kita alami, yang telah kita ketahui itu.

Dengan memikirkan situasi imajiner di atas itu, betapa kita memang wajib mengakui bahwa Allah itu Maha Baik, Maha Pengasih, dan Maha Penyayang.

“Kebahagiaan sesungguhnya adalah menikmati masa kini, tanpa kegundahan akan masa depan,”kata Lucius Annaeus Seneca. Allah SWT memberikan kesempatan kita untuk berbahagia dalam hidup.

Tuhan Yang Maha Baik tidak membuat suatu skenario kehidupan yang akan menyengsarakan segenap umat Nya. Beliau Maha Tahu apa yang terbaik bagi segenap umat Nya. Oleh karena itu, layak kita simak petuah tetua ini, “Masa lalu tak dapat kita ubah. Masa depan belum berada dalam genggaman kita.”

Belum lama berselang, muncul suatu ramalan bahwa negara ini akan bubar pada 2030. Kejadian yang jelas memicu kontroversi dalam masyarakat. Suatu hal yang secara kuantitatif dan kualitatif, meramalkan NKRI bubar. Bisa dikatakan bahwa hal itu hanya akan membuat heboh dan hingar bingar yang tak perlu. Meskipun bisa saja ramalan itu akan terbukti, karena sekali lagi, kita tak akan pernah tahu apa yang akan terjadi esok.

Ini adalah soal peramalan. Bukan memperkirakan. Padahal biasanya, pembahasan ilmiah terhadap hal-hal masa depan yang mendekati soal semacam ini adalah soal “memperkirakan atau forecasting. Perkiraan ini hanya mungkin dilakukan terhadap hal-hal yang secara empiris (pengalaman) memiliki data penunjangnya.

Forecasting adalah suatu ilmu pengetahuan untuk memperkirakan kemungkinan kondisi masa depan, bukan ramal-meramal, yang biasanya dikaitkan dengan pendekatan klenik, pendekatan ilmu mistik. Suatu pendekatan yang menurut agama dikatakan sebagai syirik, musrik, menduakan sang Khalik.

Rasanya kita sepakat kalau dalam mengarungi kehidupan ini kita berfokus pada masa kini. Berbuat hal-hal yang terbaik sekarang-sekarang ini. Menikmati kehidupan, dalam suka dan duka, yang kita alami saat ini. Itulah pendekatan dasar manusia yang berbahagia.

Oleh karena itu, dalam bahasa Inggris, masa kini disebut sebagai present (identik dengan kata hadiah). Adapun masa lalu adalah yesterday dan masa depan adalah the future.

Sah-sah saja bila sesekali kita menoleh ke belakang, meninjau masa lalu, mempelajari sejarah sebagai suatu proses pembelajaran. Suatu proses yang secara sosial politik adalah anjuran yang populer dikatakan sebagai ‘jas merah’, jangan melupakan sejarah. Akan tetapi, lakukanlah evaluasi masa lalu itu dalam takaran yang wajar. Karena, sekali lagi, kita selayaknya berfokus pada hari ini.

Gus Dur, mantan Presiden RI, pernah memberi advis, “Kalau sampeyan sedang mengemudikan kendaraan, jangan terlalu sering melihat spion.” Ini suatu nasihat bijak. Bisa terjadi risiko fatal, bila Anda nyetir kendaraan dan sering menengok spion.

“Kita akan bertumbuh bijaksana bukan karena menghimpun kenangan masa lalu, melainkan dengan bertanggungjawab atas masa depan,” ujar George Bernard Shaw.

Di sisi lain, meskipun kita harus berfokus pada saat sekarang, mempersiapkan diri untuk menyongsong masa depan adalah langkah yang bijak. Bukan dengan ramal-meramal tetapi memperkirakan segala sesuatunya setelah kita menengok masa lalu, dan mengevaluasi saat ini.

Memperkirakan masa depan adalah suatu sikap antisipatif yang positif. Bukan dengan sikap ‘sok tahu’ terhadap kejadian masa depan.

Kita hanya mampu merencanakan, Tuhan yang akan menentukan. “Anda tak dapat melarikan diri dari tanggung jawab atas masa depan, dengan menghindarinya saat ini,” kata Abraham Lincoln.

Atau kata Sitting Bull, “Mari kita pikirkan bersama dan kita lihat kehidupan apa yang bisa kita buat bagi anak-anak kita.”

Mari menikmati masa kini dengan bersiap diri menyongsong masa depan. Beberapa tip untuk itu saya kutipkan di sini. “Biarkan harapan Anda, bukan sakit hati Anda, merencanakan masa depan,” kata Robert H. Schuller. Kutipan ini sungguh tak diniatkan menyinggung siapa pun.

“Masa depan bergantung pada apa-apa yang kita lakukan saat ini,” ungkap Mahatma Gandhi. Jadi, melakukan hal-hal terbaik hari ini adalah suatu pilihan yang bijaksana. Dengan sesekali mempelajari masa lalu dan memperkirakan masa depan.

Sama sekali tak dianjurkan, meramalkan masa depan, dengan menunjukkan seolah-olah hal itu pasti akan terjadi. Nasihat tetua yang cespleng, yang layak kita camkan,”Berharaplah yang terbaik tetapi tetap bersiap menerima yang terburuk.”

Sekali lagi, hukum alam yang pasti adalah manusia merencanakan, Tuhan menentukan.

Tag : kepemimpinan
Editor : Bambang Supriyanto

Berita Terkait



Berita Terkini Lainnya

Top