Ini Harapan Milenial Hadapi Industri 4.0

Meskipun penghasilan dan budaya perusahaan kerap menjadi pertimbangan utama bagi generasi milenial dan gen Z, menurut mereka faktor terpenting adalah seperti toleransi dan inklusivitas, rasa hormat, dan cara berpikir yang berbeda.
Asteria Desi Kartika Sari | 03 Juli 2018 13:32 WIB
Ilustrasi - Reuters/Wolfgang Rattay

Bisnis.com, JAKARTA-Meskipun penghasilan dan budaya perusahaan kerap menjadi pertimbangan utama bagi generasi milenial dan gen Z, menurut mereka faktor terpenting adalah seperti toleransi dan inklusivitas, rasa hormat, dan cara berpikir yang berbeda. Hal tersebut adalah kunci.

“Tingkat loyalitas yang berubah-ubah menunjukkan adanya peluang unik bagi bisnis untuk melipatgandakan kemampuan dalam mempertahankan tenaga kerja,” tambah Michele Parmelee, Deloite Global Talent Leader dikutip Selasa (3/7/2018)

Michele menilai dunia bisnis perlu mendengarkan apa yang diharapkan generasi milenial dan mempertimbangkan kembali pendekatan bisnis yang telah dijalankan dalam menajemen tenaga kerja, apalagi memasuki industri 4.0.

“Jadi membuat fokus baru pada pembelajaran dan pengembangan untuk membantu semua orang bertumbuh dalam karir mereka sepanjang masa hidup,” katanya.

Dia mengatakan mereka yang bekerja di perusahaan dengan latar belakang yang beragam lebih cenderung ingin menetap selama lima tahun atau lebih. Berdarkan hasil Survei Milenial Tahunan Deloitte 2018 , sebanyak 55% mengatakan fleksibilitas baik tempat maupun waktu di tempat kerja mereka saat ini dibandingkan dengan tiga tahun yang lalu.

Hal senada diungkapkan Deloitte Indonesia Country Leader Claudia Lauw Lie Hoeng, dia mengatakan hasil survei ini dengan mengajak para pemimpin bisnis untuk melakukan instrospeksi, yakni melihat lebih kritis lagi cara kerja dalam bisnis dan juga dampak positif yang bisa kita berikan baik bagi karyawan maupun bagi dunia secara lebih luas. “Berkat pandangan skeptis generasi milenial, para pebisnis tidak lagi bisa melakukan business as usual, untuk bisa survive di masa depan yang penuh ketidakpastian, kita dituntut untuk mampu keluar dari zona nyaman,” katanya.

Seiring dengan masuknya industri 4.0, hal tersebut menjadikan kaum milenial dan Gen Z menginginkan lingkungan kerja yang membebakan dari pekerjaaan yang rutin atau lebih fokus pada pekerjaan kreatif. Namun ada pula yang khawatir terkait hadirnya teknologi industry 4.0. Dalam survei, tujuh 17% dari seluruh kaum milenial, sebesar 32% yang bekerja di perusahaan yang telah menggunakan teknologi Industri 4.0 secara luas. “Mereka mengungkapkan rasa takut bahwa sebagian atau seluruh pekerjaan mereka akan tergantikan,” tambahnya.

Selain itu, kurang dari 4 orang diantara 10 milenial dan 3 dari 10 karyawan Gen Z merasakan bahwa mereka telah memiliki keterampilan yang mereka butuhkan untuk berhasil, dan mereka ingin bekerja di perusahaan yang dapat membantu mempersiapkan mereka untuk mencapai keberhasilan di era baru tersebut. Dengan kata lain mereka mencari panduan yang lebih luas dari sekadar pengetahuan teknis.

“Para profesional muda ingin mendapatkan bantuan dalam meningkatkan soft skills mereka seperti kepercayaan diri, kemampuan interpersonal, dan khususnya untuk Gen Z adalah etika atau integritas,” jelasnya.

Akan tetapi dalam pandangan mereka, lanjutnya, para pebisnis tidak responsif terhadap kebutuhan perkembangan mereka. Hal tersebut tampak dalam hasil survei, hanya sebanyak 36% dari kaum milenial dan 42% responden Gen Z melaporkan bahwa perusahaan tempat mereka bekerja membantu dalam memahami dan mempersiapkan diri menghadapi perubahan terkait Industri 4.0.

Tag : generasi milenial, Revolusi Industri 4.0
Editor : Rustam Agus

Berita Terkait



Berita Terkini Lainnya

Top