INSIGHT : Mengakui Kesalahan

Kesalahan selalu dapat dimaafkan, bila yang bersangkutan memiliki keberanian untuk mengakuinya. Bruce Lee
Pongki Pamungkas, Penulis Buku The Answer Is Love, All You Need Is Love, dan To Love and To Be Loved | 13 Juli 2018 02:00 WIB

“Kesalahan selalu dapat dimaafkan, bila yang bersangkutan memiliki keberanian untuk mengakuinya”. Bruce Lee

Rumah mungil itu nyaris terbakar. Penyebabnya, sang anak yang usai merebus makanan lupa mematikan kompor gas.

Seorang anak TK pulang dengan wajah yang sedih, setengah menangis. Ketika ibunya bertanya kenapa, si anak menjawab, “Iya Ma. Tadi Adi salah menjawab pertanyaan dari ibu guru. Padahal Adi sudah mempelajarinya semalam.”

Sepasang suami bertengkar hebat karena suami tertangkap OTT berkencan dengan wanita lain. Seorang karyawan suatu pabrik tak sengaja membuat proses assembly line terganggu sehingga target produksi tak tercapai.

Dalam skala yang besar, kita sering membaca penarikan produk kendaraan karena ada cacat produksi. Ada suatu komponen yang salah dalam proses produksi dan harus diganti atau diperbaiki. Bila tidak, hal itu berpotensi membahayakan pengendara atau para penumpangnya.

Kesalahan adalah salah satu kodrat manusia. Kesalahan demi kesalahan juga merupakan pelangi kehidupan. Mulai dari kesalahan tingkat yang remeh hingga kesalahan besar sekali akan senantiasa terjadi di dunia, dan berkorelasi dengan perilaku manusia. Orang sering mengatakannya sebagai kalimat baku. “Manusia itu tempatnya salah”.

Kesalahan bisa pula dikategorikan sebagai kesalahan yang tak disengaja, atau kesalahan yang direncanakan atau disengaja. Membobol rumah tinggal seseorang dan kemudian melakukan pencurian harta benda pemilik rumah, bahkan mungkin membunuh sang pemilik adalah suatu kesalahan yang jelas disengaja. Melakukan pengeboman karena fanatisme agama atau kebencian dan dendam adalah kesalahan disengaja. Demikian pula melakukan korupsi, menggarong uang rakyat yang dikelola negara, adalah suatu aktivitas yang disengaja.

Kesalahan adalah suatu stimulus, suatu aksi yang layak disambut dengan respons atau reaksi. Secara umum dianjurkan bahwa cara terbaik untuk belajar dari kesalahan Anda adalah dengan mengakuinya daripada menimpakan kepada orang lain. Itu adalah anjuran yang mengajarkan, setidak-tidaknya, suatu sikap sportif atau jujur.

Dalam kenyataan, fenomena yang terjadi adalah banyak pelaku kesalahan tak mengakuinya. Ada beban psikologis untuk menyatakan, “Ya, itu salah saya.”

Tidak mau mengakui ini, kalau dilakukan oleh para orang yang sengaja berbuat salah, mulai dari pasangan yang selingkuh, pencuri, pembunuh koruptor, serta apa pun situasinya adalah hal yang amat mudah dipahami. “Mana ada maling ngaku”. Itu persepsi standar dalam masyarakat.

Siapa yang sengaja berbuat jahat lalu dengan ringan mengakui perbuatannya? Pasti sangat jarang. Biasanya, dalam hal semacam ini orang suka “lempar batu sembunyi tangan“.

Apalagi, dalam dunia politik, yang mohon maaf, sering dipandang tiada mengenal etika kemanusiaan yang layak. “Dalam politik, tak ada istilah mundur, menarik, mengakui kesalahan. Tak pernah ada,”kata Napoleon Bonaparte.

Banyak praktik keseharian membuktikan hal tersebut. Dalam beberapa acara televisi, yang menampilkan perdebatan para politikus menunjukkan dengan gamblang. Semua orang yang berdebat, merasa paling benar, paling hebat tiada cela. Menemukan seorang politikus yang secara sportif mengakui kesalahannya ibarat menemukan satu jarum dalam tumpukan jerami.

Sebaliknya, dalam pandangan yang bersangkutan, kesalahan ada di pihak lain dan memang itu harus dipersalahkan. Tak heran, banyak lapisan masyarakat yang alergi terhadap politik, khususnya secara langsung terhadap partai pelakunya.

“Semakin Anda mengamati dunia politik, Anda akan makin paham dan mengakui bahwa partai satu lebih buruk dari yang lainnya,” kata Will Rogers, seorang aktor sekaligus kolumnis.

Padahal, semakin Anda gemar mengingkari kesalahan, akan semakin buruk reputasi Anda di mata orang lain. Sebaliknya, semakin Anda jujur mengakui setiap kali berbuat salah, semakin hormat orang lain kepada Anda.

Dogma tersebut diperkuat oleh beberapa pandangan, pertama, mengakui kesalahan bukanlah indikasi kelemahan seseorang. Justru itu adalah indikasi kebesaran jiwa seseorang.

Kedua, Anda dapat belajar banyak hal yang hebat dari kesalahan Anda, bila Anda tak menyibukkan diri menyangkal kesalahan itu.

Ketiga, jika Anda berbuat kesalahan, akuilah. Bila tidak, Anda hanya akan membuat segala sesuatunya menjadi lebih buruk. Demikian kata Ward Cleaver, seorang karakter fiktif dalam suatu film serial televisi.

Dalam kehidupan spiritual, mengakui kesalahan adalah hanya salah satu unsur dari kata taubat. Di samping pengakuan, ada unsur penyesalan bagi pembuat kesalahan. Menyesal karena telah berbuat salah. Menyesal telah menyusahkan orang lain.

Unsur ketiga adalah komitmen, janji untuk tak mengulangi kesalahan itu. Di dalam unsur komitmen ini pulalah kebesaran jiwa kita kembali ditantang. Kalau sekadar janji dengan model lidah tak bertulang jelaslah reputasi yang sempat memburuk itu benar-benar akan hancur lebur. Tiada lagi orang akan percaya. Tiada lagi orang akan menaruh rasa hormat.

“Setiap orang harus cukup ‘besar’ untuk mengakui kesalahannya, pintar mengambil hikmah kesalahan dan kuat untuk memperbaikinya”. Ini adalah taubat versi John C. Maxwell.

Dalam bahasa spiritualitas, yang tak mudah untuk ditafsirkan, dikatakan oleh Augustus Hare, penulis Inggris yang meninggal pada 1903. “Intelektualitas seorang yang bijaksana, itu seperti gelas, mengakui sinar keillahian dan surgawi, dan merefleksikannya“. Paham?

 

Tag : pemimpin
Editor : Bambang Supriyanto

Berita Terkait



Berita Terkini Lainnya

Top