Ternyata, Bukan Kambing yang Sebabkan Hipertensi

Namun, tidak sedikit masyarakat yang khawatir jika mengkonsumsi daging, terutama daging kambing dapat menyebabkan tekanan darah menjadi tinggi atau hipertensi. Hal tersebut rupanya dibantah oleh dokter spesialis penyakit dalam Tunggul D. Situmorang.
Dewi Andriani | 21 Agustus 2018 07:59 WIB
Pedagang dan pembeli kambing bertransaksi di pasar hewan Kranggan, Temanggung, Jateng, Senin (28/8). - ANTARA/Anis Efizudin

Hari Raya Iduladha segera dijelang pada Rabu (22/8/2018) esok. Bahkan Majelis Tafsir Al-Quran (MTA) perwakilan Pacitan, Jawa Timur, akan melakukan salat Idul Adha pagi ini, Selasa (21/8/2018).

Iduladha juga dikenal sebagai Lebaran Qurban, terkait dengan aktivitas penyembelihan hewan qurban, seperti sapi dan kambing. Daging-daging tersebut kemudian diolah menjadi berbagai ragam makanan yang memiliki cita rasa nikmat, mulai dari sate, gulai, tengkleng, hingga nasi kebuli.

Namun, tidak sedikit masyarakat yang khawatir jika mengkonsumsi daging, terutama daging kambing dapat menyebabkan tekanan darah menjadi tinggi atau hipertensi. Hal tersebut rupanya dibantah oleh dokter spesialis penyakit dalam Tunggul D. Situmorang.

“Itu harus diluruskan. Tidak ada di buku manapun yang mengatakan makan daging kambing menyebabkan hipertensi,” tegasnya.

Meski demikian dia mengingatkan agar para penggemar daging membatasi konsumsi agar tidak berlebihan. Pasalnya, daging merah memiliki jumlah kandungan lemak jenuh yang cukup tinggi dan dikenal dapat meningkatkan kolesterol serta memicu penyakit jantung.

“Biasanya penyakit itu suka datang secara bersamaan. Hipertensi, kolesterol, diabetes melitus, dan asam urat. Jadi tetap harus dibatasi,” tuturnya.

Lantas, mitos yang mengatakan bahwa konsumsi daging menyebabkan darah tinggi muncul dari mana? Ternyata hal ini dipicu oleh proses pengolahan dan penggunaan berbagai bumbu penyedap selama memasak daging kambing.

Bumbu penyedap makanan seperti garam dan mecin memiliki jumlah sodium dan natrium yang sangat tinggi. Apalagi dengan semakin banyak proses pengolahan maka akan semakin tinggi juga kandungan sodiumnya.

Dokter yang juga menjabat Ketua Perhimpunan Hipertensi Indonesia ini mengatakan kandungan yang ada di dalam garam inilah yang menjadi penyebab utama tekanan darah tinggi jika dikonsumsi secara berlebihan.

“Faktor penyebab hipertensi jelas garam. Ketika ada orang yang terkena hipertensi dan tidak diketahui penyebabnya apa, itu pasti karena konsumsi garam berlebih. Apalagi jika ada riwayat keluarga terkena hipertensi, ini dikatakan hipertensi primer. 90% penderita hipertensi karena hipertensi primer.”

Meski demikian, bukan berarti masyarakat tidak boleh mengonsumsi garam sama sekali. Boleh saja, asalkan takarannya lebih dibatasi. Sebab, bagaimanapun kandungan sodium dan natrium pada garam masih dibutuhkan oleh tubuh manusia.

DIET RENDAH GARAM

Badan kesehatan dunia, World Health Organization (WHO) menganjurkan untuk membatasi konsumsi sodium 2.400mg atau sekitar 1 sendok teh garam per hari.

Adapun pasien hipertensi berat dianjurkan untuk melakukan diet rendah garam I dengan hanya mengkonsumsi 200-400 miligram natrium atau garam setiap harinya. Sementara itu, pasien hipertensi tidak berat dianjurkan melakukan diet rendah garam II dengan mengonsumsi hanya 600-800 miligram atau sekitar setengah sendok teh garam setiap harinya.

Untuk meningkatkan kesadaran masyarakat terhadap penyakit hipertensi, Perhimpunan Hipertensi Indonesia atau Indonesian Society of Hypertension bekerja sama dengan PT Omron Healthcare Indonesia menggelar Bulan Tekanan Darah atau May Measurement Month.

Pada 2017, May Measurement Month diikuti lebih dari 70.000 orang di 34 provinsi di Indonesia. Adapun pada 2018, lebih dari 120.000 orang di 27 propinsi telah menjalani pengukuran tekanan darah.

Dokter spesialis jantung dan pembuluh darah Bambang Widyantoro yang juga Ketua Panitia May Measurement Month mengatakan dari hasil pengukuran di 2017 ditemukan bahwa 1 dari 3 orang dewasa dengan rerata usia 41 tahun mengalami peningkatan tekanan darah. Selain itu, diketahui juga bahwa 1 dari 10 orang baru mengetahui bahwa tekanan darahnya di atas normal.  

Bambang mengatakan hal menarik yang didapatkan dari hasil penemuan tersebut adalah tingkat pendidikan ternyata memiliki korelasi dengan tingginya level tekanan darah. “Makin baik edukasinya maka tingkat tekanan darahnya semakin baik, ini mungkin karena mereka lebih peduli terhadap kesehatannya,” tutur Bambang.

Tidak hanya dari tingkat pendidikan, perbedaan lokasi tempat tinggal juga cukup berpengaruh. Jika selama ini banyak masyarakat yang beranggapan bahwa hipertensi merupakan penyakit orang kota, ternyata belum tentu benar. Dari hasil penelitian justru ditemukan bahwa masyarakat pedesaan memiliki tingkat tekanan darah yang lebih tinggi.

Hal ini, sambungnya, tidak lepas dari kebiasaan masyarakat pedesaan yang senang mengkonsumsi makanan asin seperti garam dan ikan asin.

Menurut dokter yang juga berpraktek di RS Jantung dan Pembuluh Darah Harapan Kita ini, hasil survei yang didapatkan tersebut sejalan juga dengan data yang pernah dikumpulkan sebelumnya mengenai studi hipertensi di kawasan pedesaan di Bandung dan Bogor.

Dari hasil survei ditemukan bahwa masyarakat di daerah tersebut banyak mengonsumsi natrium dan sodium tinggi seperti ikan asin. Selain itu, banyak juga yang mengkonsumsi jajanan yang mengandung banyak garam dan mecin.

“Pola makan yang tidak sehat dikaitkan dengan pengetahuan dan level edukasi yang rendah membuat tingkat kesadaran masyarakat terhadap kesehatan kurang sehingga bisa menyebabkan tekanan darah tinggi,” ujarnya.

Tag : hipertensi
Editor : M. Taufikul Basari

Berita Terkait



Berita Terkini Lainnya

Top