10 Pola Perilaku Berdandan Perempuan Indonesia

Makeup atau kosmetik adalah bagian dari perempuan yang tidak bisa dipisahkan.
10 Pola Perilaku Berdandan Perempuan Indonesia Mia Chitra Dinisari | 21 Agustus 2018 13:52 WIB
10 Pola Perilaku Berdandan Perempuan Indonesia
Ilustrasi Makeup - Istimewa

Bisnis.com, JAKARTA - Makeup atau kosmetik adalah bagian dari perempuan yang tidak bisa dipisahkan.

Banyak perempuan yang tidak percaya diri dengan penampilannya tanpa polesan kosmetik di wajah.

Bahkan, menurut survey yang dilakukan oleh Zap Clinic dengan menggandeng Markplus mencatat, belanja kosmetik perempuan tiga kali lebih besar daripada belanja fashion setiap bulannya.

Data ini tentu menjadi menarik dan menjawab alasan mengapa produk kosmetik makeup hingga asing membanjiri industri kosmetik di tanah air.

Data lainnya dari survei tersebut menyebutkan media sosial memberikan pengaruh pada pola belanja kosmetik perempuan di Indonesia. Meski demikian, mereka justru berhati-hati saat belanja makeup via media sosial.

Dari hasil survei ZAP Beauty Index yang dilakukan terhadap 17.889 wanita Indonesia, terungkap bahwa hanya 21% wanita milenial yang membeli produk kecantikan lewat media sosial.

Sementara 54,8% masih memilih membeli produk kecantikan di gerai/toko resmi. Hasil ini mungkin berhubungan dengan temuan lainnya yaitu 64% perempuan lebih mementingkan keamanan produk kecantikan di atas faktor lainnya.

ZAP Beauty Index buatan ZAP Clinic sendiri menemukan sekitar 70 temuan yang menjadi potret wanita Indonesia dalam mempercantik diri.

“Survei ini memotret perilaku wanita Indonesia sebagai konsumen terbesar industri kecantikan. Mulai dari definisi cantik yang berubah seiring usia, berapa banyak pengeluaran untuk mempercantik diri, sampai sedetail produk apa yang selalu dibawa setiap hari di dalam tas wanita. Kami harap ZAP Beauty Index ini bisa menjadi gambaran yang komplit tentang industri kecantikan Indonesia, dan berguna buat banyak pihak, termasuk pemerintah dan media”, ujar Fadly Sahab, CEO dan pendiri dari ZAP Clinic.

Survei ini mencakup 17.889 responden wanita Indonesia, dengan berbagai macam latar belakang pekerjaan. Mulai dari pelajar, mahasiswi, karyawati, guru, ibu rumah tangga, psikolog, pramugari, arsitek, perias, koki, hingga pensiunan. Usia responden antara di bawah 18 tahun sampai melebihi 65 tahun. Survei ini dilakukan secara online pada bulan Mei - Juni 2018. Lokasi responden tersebar di pulau Sumatera, Jawa - Bali dan Sulawesi.

Berikut sepuluh temuan Zap Beuaty Index dalam pola perilaku ber-makeup perempuan di Indonesia:

Definisi kecantikan berubah seiring usia

Lebih dari 70% dari wanita yang disurvei mendefinisikan cantik sebagai kondisi di mana kulit tubuh dan wajah mereka terlihat bersih, cerah dan berkilau. Bahkan satu dari empat gadis remaja berusia < 18 tahun menganggap kulit yang putih lebih penting daripada merasa bahagia. Tapi pada wanita berusia > 24 tahun, kepercayaan diri yang ada mulai meningkat, menandakan mereka dapat menerima kekurangan yang ada pada diri masing-masing.

Pengeluaran untuk mempercantik diri

Wanita generasi milenial rata-rata membelanjakan uang sebesar Rp600.000 - 1 juta per bulan untuk membeli produk kecantikan dan Rp1-3 juta perbulan untuk perawatan kecantikan. Anggaran untuk membeli produk kecantikan bertambah tiga kali lipat, antara Rp1-3 juta per bulan pada wanita yang termasuk dalam Generasi X (35 tahun keatas).

Sebelum beli produk, cari info di mana?

Sebelum membeli produk/merawat diri di klinik kecantikan, 73% wanita mencari review di internet. Sebanyak 55% mencari referensi di  Instagram sementara 41% di Youtube. Beauty blogger berperan besar dalam mensuplai informasi ke konsumen, terlihat dari 41% wanita lebih percaya pada beauty blogger ketimbang teman mereka sendiri. Menariknya, saat membeli produk kecantikan, saran dari teman lebih berpengaruh ketimbang review dari beauty blogger.

Ketika kami tanya, siapa yang menggerakkan anda untuk merawat kecantikan, 82 persen menjawab diri sendiri, disusul 22 persen lingkungan, 16 persen media sosial, 10 persen pasangan dan hanya 8 persen yang tergerak oleh beauty influencer.

Tempat beli produk: gerai resmi vs e-commerce vs sosmed

Gerai resmi masih menjadi pilihan terfavorit wanita semua usia dalam urusan membeli produk. Sebanyak 53% wanita Indonesia membeli produk  kecantikan lewat gerai resmi, disusul 44% di gerai farmasi ritel (seperti Century, Guardian & Watson) dan hampir 34% masih membeli di supermarket. Wanita yang terbiasa membeli produk kecantikan di media sosial hanya sekitar 21%, diikuti dengan pembelian produk kecantikan lewat e-commerce sebanyak 27%. Hasil yang kurang lebih sama terlihat dari tempat favorit wanita generasi milenial dalam membeli produk kecantikan.

Yang diinginkan konsumen dari produk perawatan kulit

Hampir 60% dari 17.889 wanita Indonesia yang kami survei menginginkan produk perawatan yang bisa mencerahkan kulit. Di luar kulit yang cerah dan putih, 53% konsumen ingin produk yang bisa mengecilkan pori-pori dan menghilangkan bekas jerawat, 43% ingin mengencangkan kulit, sedikit lebih tinggi dari konsumen yang ingin menghaluskan kulit wajah. Dari 10 keinginan konsumen terhadap produk perawatan kulit, produk yang bisa mencegah keriput ada di posisi terakhir dengan 30% konsumen yang membutuhkannya.  Uniknya, ada sekitar 22% wanita yang lebih memilih membawa pensil alis ketimbang membawa sunblock di dalam tasnya.

Produk kecantikan favorit: Indonesia setelah Korea

Produk perawatan kulit yang paling sering digunakan setiap hari adalah pembersih wajah (78%) diikuti pelembab kulit (47%), toner (41%) serum (31%) dan krim mata (16%). Tapi produk yang wajib ada di tas wanita adalah lipstik (66%), compact powder, lip balm, pensil alis dan kertas minyak.

Jika dibedah dari negara asal produk, 46% wanita paling suka produk asal Korea Selatan, diikuti 34% yang memfavoritkan produk asal Indonesia, lalu 21% yang memilih produk asal Jepang. Sementara dari merknya, produk SK II menjadi produk kecantikan yang paling sering digunakan setiap hari, diikuti Laneige, The Body Shop, Innisfree, Nature Republic dan Wardah.

Siapa peduli dengan label?

Meski sebagian besar menyatakan peduli dengan keamanan produk, tapi nyatanya masih ada 13% wanita yang tidak memperhatikan label saat akan membeli produk kecantikan. Mereka lebih melihat logo brand, khasiat produk, atau promosi/diskon yang sedang berjalan. Hanya sekitar 16% wanita yang memperhatikan label kandungan alkohol, dan 15% memperhatikan label kandungan merkuri.
Bahkan hanya 0,1% wanita milenial yang mengecek label/informasi kandungan produk kecantikan yang mereka beli.

Harga VS kualitas

Belum besarnya perhatian konsumen terhadap kandungan produk, berbanding terbalik dengan keinginan mereka akan produk yang aman. Sekitar 64% wanita Indonesia menyatakan lebih mementingkan keamanan produk baru harga. Ini berbeda dengan gadis remaja berusia < 18 tahun, di mana buat mereka harga produk yang murah adalah yang utama.

Seiring dengan bertambahnya usia, wanita Indonesia mulai beralih dari sekedar produk menjadi perawatan di klinik kecantikan. Ada sekitar 40% wanita berusia 36-55 tahun yang memilih perawatan kulit di klinik ketimbang menggunakan produk perawatan kulit. Berbanding terbalik dengan wanita millenial yang lebih mementingkan produk, dan harus produk yang mudah dicari ketimbang yang menggunakan bahan dan proses yang canggih.

Perawatan kecantikan saat ini VS dulu

Lima tahun yang lalu, perawatan facial tradisional dimana kulit ditusuk dan dijepit, menjadi perawatan kecantikan favorit wanita Indonesia. Ada sekitar 62% wanita mengaku mereka menjalani facial tradisional, dan hanya kurang dari 11% yang menjalani perawatan menghilangkan bulu.
Ini berbanding terbalik dengan saat ini, dimana hampir 43% wanita mengaku menjalani laser wajah. Persentase ini sudah lebih tinggi dari yang masih melakukan facial tradisional. Sementara perawatan menghilangkan bulu tubuhnya, sudah naik menjadi perawatan keempat yang paling banyak dilakukan wanita Indonesia, setelah facial tradisional.

Lama berdandan VS menata rambut

Hampir 44% wanita yang kami survei, mengaku hanya menghabiskan waktu 15-30 menit untuk mengaplikasikan make up. Durasi menggunakan make up semakin singkat pada wanita yang berusia 61-65 tahun. Sementara ada sekitar 60% lebih wanita yang tidak full make up ketika kencan dengan pasangannya. Lebih banyak jumlah wanita yang wajib full make up saat pergi ke pesta atau hangout dengan teman-teman, ketimbang saat bersama pacar. Rata-rata waktu yang dibutuhkan untuk make up juga dua kali lipat lebih lama dari menata rambut.

Simak berita lainnya seputar topik artikel ini, di sini :
kosmetik

Editor : Mia Chitra Dinisari

Berita Terkait



Berita Terkini Lainnya

Top