Begini Cara Deteksi Dini Hipertensi Paru

Ahli Hipertensi Paru dari Rumah Sakit Jantung Harapan Kita Bambang Budi Siswanto mengatakan hipertensi paru terjadi ketika tekanan darah paru mencapai di atas 25 mmHg, sedangkan tekanan darah normal pada arteri pulmonal biasanya berkisar antara 8 hingga 20 mmHg.
Dewi Andriani | 29 September 2018 15:00 WIB
Ilustrasi paru-paru. - Istimewa

Bisnis.com, JAKARTA -- Mungkin tidak banyak yang familiar dengan kondisi hipertensi paru. Padahal, ini termasuk kondisi kesehatan yang serius.

Ahli Hipertensi Paru dari Rumah Sakit Jantung Harapan Kita Bambang Budi Siswanto mengatakan hipertensi paru terjadi ketika tekanan darah paru mencapai di atas 25 mmHg, sedangkan tekanan darah normal pada arteri pulmonal biasanya berkisar antara 8 hingga 20 mmHg.

Menurutnya, pemeriksaan tekanan darah pada paru berbeda dengan pemeriksaan tensi biasa. Pemeriksaan dilakukan melalui proses katerisasi jantung kanan dengan biaya yang terbilang cukup mahal yaitu mencapai Rp10 juta.

Namun, sebelum dilakukan proses katerisasi, dokter akan memulainya dengan serangkaian pemeriksaan, yang dimulai dari pengecekan detak jantung dengan stetoskop. Jika iramanya tidak beraturan dan terdapat tanda-tanda khusus, maka akan dilanjutkan dengan rontgen dada dan rekam jantung, tes darah, tes fungsi paru.

“Jika pada deteksi awal ditemukan tanda-tanda yang mengarah pada hipertensi paru, harus dilakukan proses katerisasi jantung kanan sebagai tes paling akurat untuk mendiagnosa hipertensi paru,” jelas Bambang kepada Bisnis, baru-baru ini.

Deteksi sedini mungkin perlu dilakukan untuk menghindari komplikasi lebih lanjut. Sebab, tingkat kematian hipertensi paru lebih tinggi dibandingkan kanker payudara dan kanker kolorektal.

Berbeda dengan hipertensi atau tekanan darah tinggi pada umumnya, hipertensi paru atau pulmonary hypertension lebih spesifik terjadi di pembuluh darah arteri di paru-paru yang menghubungkannya ke jantung.

Tekanan darah yang tinggi pada paru-paru terjadi karena saluran arteri pulmonalis menyempit, tersumbat, atau menebal. Hal ini menyebabkan aliran darah dari sisi kanan jantung yang menuju ke paru-paru untuk mengambil oksigen dan disebarkan ke semua organ menjadi terganggu.

Akibatnya, darah akan sulit mengalir ke paru-paru dan tekanan pada arteri paru juga meningkat sehingga bilik kanan jantung harus bekerja ekstra keras untuk memompa darah menuju paru-paru.

Tag : kesehatan, paru-paru
Editor : Annisa Margrit

Berita Terkait



Berita Terkini Lainnya

Top