Orang Tua, Begini Cara Mengajarkan Politik kepada Anak

Ketika Anda harus menceritakan soal politik kepada anak berusia 8 tahun, mungkin berpikir mereka akan lebih memilih bermain video game, atau untuk anak usia 14 tahun mereka akan memilih chatting dengan teman-temannya, namun percayalah itu salah.
Gloria Fransisca Katharina Lawi | 23 Oktober 2018 11:35 WIB
Butet Manurung saat mengajar anak-anak Suku Anak Dalam - Antaranews.com

Bisnis.com, JAKARTA – Ketika Anda harus menceritakan soal politik kepada anak berusia 8 tahun, mungkin berpikir mereka akan lebih memilih bermain video game, atau untuk anak usia 14 tahun mereka akan memilih chatting dengan teman-temannya, namun percayalah itu salah.

Dikutip dari KidsHealth.org, ada lebih dari 2.000 anak dan remaja di Amerika Serikat yang memikirkan tentang pemilihan presiden dan bagaimana mereka bisa berdampak pada proses itu. Ada sekitar 75% anak kecil dan 79% remaja menjawab ‘ya’ bahwa hasil dari pemilu akan mengubah kehidupan mereka. Setengah dari remaja yang disurvei percaya mereka memilih pengaruh dari pilihan orangtua mereka.

Pada setiap pemilu, banyak tanda di jalan raya seperti stiker, spanduk, dari para kandidat. Mereka juga muncul di layar TV dan radio, memberi pesan perubahan dari soal jaminan kesehatan, pemerataan ekonomi, peluang kerja, dan hubungan internasional serta masalah iklim.

Sebagai orangtua, Anda mungkin tidak memprediksi anak Anda tidak akan terpengaruh oleh media massa. Faktanya, mayoritas remaja mengaku bahwa isu seperti harga makanan, pendidikan, jaminan kesehatan, perang, dan lingkungan hidup sangat penting bagi mereka.

Mengetahui apa yang anak-anak pikirkan tentang isu ini, dan bagaimana mereka mungkin bisa memberi dampak pada keluarga menjadi penting. Membicarakan politik tidak hanya membantu mempromosikan pengembangan pendidikan kritis, tetapi juga memberi penjelasan dari konsep-konsep yang sulit dicerna oleh anak-anak, atau tentang rasa takut mereka terhadap masa depan.

Ketika mendiskusikan tentang pemilu, apa yang Anda yakini dan alasannya, tanyakan kepada anak Anda, apa yang mereka pikirkan dan mereka rasakan. Ini menunjukkan bahwa Anda menghargai pendapat mereka dan mau mendengarkan apa pemikiran mereka.

Jika pendapat mereka berbeda dari pendapat Anda, itu bukan masalah. Jadikanlah ini peluang untuk mengajarkan ‘mengapa mereka bisa merasakan hal itu?’

Berikut tips mengajarkan politik pada anak:

1. Tetaplah berpikir positif

Dalam suasana pemilu yang panas, perasaan yang kuar pada sejumlah isu bisa memicu perbedaan pendapat. Gunakan kesempatan ini untuk menunjukkan kepada anak, bagaimana perbedaan pendapat harus tetap saling menghormati. Utarakanlah ketidaksukaan terhadap kandidat dan jelaskan apa yang membuat Anda menyukai kandidat tersebut. Doronglah anak untuk melakukan hal serupa. Fokuslah pada cara berpendapat yang positif.

2. Tetap kaji ulang

Anak anda mungkin cemas dengan apa yang kandidat dan orang lain katakan soal ekonomi dan peluang kerja. Mereka mungkin cemas kehilangan rumah atau orangtua yang kehilangan pekerjaan. Dengarkanlah suara mereka dan berikan kajian lebih dan perspektif baru. Jika menghadapi masalah keuangan, katakana dengan jujur kepada anak apa yang akan Anda lakukan untuk mengatasi hal itu.

3. Libatkan mereka

Banyak anak yang tertarik dan peduli pada isu-isu saat ini. Memperkuat mereka dan menyelesaikan masalah akan membantu anak Anda berpikir positif. Bicarakanlah hal-hal yang bisa memberikan perubahan. Jika mereka tertarik pada isu lingkungan, mereka mungkin bisa menemukan cara bagaimana menjadikan hunian ‘go green’. Biarkanlah anak-anak bereksplorasi seperti halnya mereka memberi pilihan pada kandidat-kandidat tertentuk dan membuat perubahan, sehingga, mereka bisa fokus bekerja pada permasalahan tertentu yang ingin mereka ubah.

Membicarakan isu-isu penting seperti proses elektoral, dan mengapa pemilihan umum menjadi penting, memberikan anak Anda pelajar kecil tentang bagaimana pemerintahan mempengaruhi kehidupan di dunia. Selain itu juga menunjukkan bahwa setiap orang memiliki pendapat  masing-masing. Meskipun mereka belum bisa memilih, namun suatu hari nanti mereka bisa.

Tag : politik, parenting
Editor : Nancy Junita

Berita Terkait



Berita Terkini Lainnya

Top