Studi: 70% Pasien Sarkoma Salah Penanganan

Banyak dari kita mungkin mengesampingkan beberapa gejala umum sebagai tanda-tanda penyakit ringan. Nyeri sendi, misalnya, sering diasosiasikan dengan rematik, sementara perut kembung dihubungkan dengan asam lambung. Namun, gejala-gejala ini sebenarnya dapat menjadi tanda-tanda penyakit yang lebih serius dan rumit, seperti sarkoma.
Mia Chitra Dinisari | 01 November 2018 13:34 WIB
Ilustrasi kanker - Istimewa

Bisnis.com, JAKARTA - Banyak dari kita mungkin mengesampingkan beberapa gejala umum sebagai tanda-tanda penyakit ringan.

Nyeri sendi, misalnya, sering diasosiasikan dengan rematik, sementara perut kembung dihubungkan dengan asam lambung. Namun, gejala-gejala ini sebenarnya dapat menjadi tanda-tanda penyakit yang lebih serius dan rumit, seperti sarkoma.

Sarkoma merupakan jenis kanker yang berkembang di jaringan ikat, seperti otot, lemak, tulang, tulang rawan, dan pembuluh darah. Kanker ini bisa muncul di bagian tubuh mana pun, serta memiliki gejala yang tampaknya tidak berbahaya dan sulit dibedakan dari penyakit-penyakit ringan.

Sebuah studi dari Amerika Serikat (AS) memprediksi, lebih dari 13.000 orang di AS akan terdiagnosis memiliki sarkoma jaringan lunak di tahun 2018, dan mengakibatkan sekitar 5.000 kematian. Sementara, penelitian lain menemukan kesalahan penanganan pada 70% pasien, sehingga turut berkontribusi pada masih rendahnya tingkat kelangsungan hidup rata-rata lima tahun (five-year survival rate), yaitu sekitar 50% saja.

Sarkoma dianggap langka karena hanya ditemui pada 1% kasus kanker dewasa. Namun, data-data terbaru mengindikasikan bahwa sarkoma mungkin lebih umum daripada yang diyakini sebelumnya. Antara lain, studi di Inggris menunjukkan lompatan signifikan dalam jumlah orang yang didiagnosis terkena sarkoma setiap tahunnya, dari 3.800 menjadi 5.300 saat ini.

"Ini memprihatinkan karena sampai saat ini pemahaman kita akan sarkoma yang begitu kompleks ini masih kurang lengkap, khususnya di Asia," kata Konsultan Senior Onkologi Medis Parkway Cancer Centre (PCC) Dr. Richard Quek, dalam siaran persnya.

"Dibandingkan dengan populasi barat, masih belum banyak pusat data nasional yang resmi di Asia, sehingga data tentang prevalensi sarkoma dan bagaimana penyakit tersebut dikelola di wilayah ini masih terbatas. Ini sering menyebabkan diagnosis yang terlambat atau tidak akurat, yang kemudian menyebabkan penanganannya juga tidak tepat," sambung Dr. Quek, sembari menambahkan bahwa kesadaran dan pemahaman tentang sarkoma masih cenderung rendah, baik di kalangan masyarakat umum maupun tenaga kesehatan profesional.

Sebuah studi dari Belgia, misalnya, mengungkapkan bahwa 47% pasien yang menderita sarkoma jaringan lunak membiarkan gejalanya selama sekitar empat bulan sebelum akhirnya menemui dokter. Setelah itupun, pasien umumnya berkonsultasi ke dokter umum, yang kemungkinan besar hanya akan menghadapi satu atau dua kasus sarkoma sepanjang karier mereka. Tak heran jika penelitian di Inggris kemudian juga menunjukkan bahwa, karena kurangnya kecurigaan klinis pada gejala awal, 20% dokter umum terlambat lebih dari tiga bulan dalam merujuk pasien tersebut ke spesialis.

“Sudah saatnya kita menanggapi sarkoma dengan lebih serius, dan ini bisa kita mulai dengan edukasi,” kata Dr. Quek, yang juga mendirikan Singapore Sarcoma Consortium pada tahun 2013 dan Asia Sarcoma Consortium pada tahun 2015 sebagai wadah untuk penelitian dan pendidikan profesional.

Sarkoma mencakup lebih dari 70 sub-tipe, menjadikannya salah satu tipe kanker yang paling sulit untuk didiagnosis. Namun, secara umum pasien dapat dibagi ke dalam empat sub-tipe utama sarkoma: sarkoma jaringan lunak, gastrointestinal stromal tumor(GIST), sarkoma tulang seperti osteosarcoma, dan Ewing's/Rhabdomyosarcoma. Kedua kelompok terakhir ditemukan terutama pada remaja dan kelompok usia dewasa muda (young adult).

“Meskipun sarkoma mungkin kurang umum dibandingkan tipe kanker lainnya, kasus sarkoma banyak ditemui pada pasien dewasa muda dan remaja. Kelompok usia tersebut biasanya tidak kita asosiasikan dengan kanker. Ini berkontribusi terhadap keterlambatan diagnosis, sehingga dampak yang dialami oleh penderita sarkoma tersebut pun cenderung lebih parah. Terlebih, karena para pasien muda ini tengah berada di masa paling produktif dalam hidup mereka, entah itu di sekolah, atau baru saja memulai karier baru, atau tengah membangun keluarga,” tambah Dr. Quek.

Gejala sarkoma yang timbul dapat berbeda-beda, tergantung dari mana sarkoma tersebut berasal. Bagi pasien yang memiliki sarkoma jaringan lunak di lengan atau kaki, misalnya, gejala paling umum adalah munculnya benjolan besar tanpa rasa sakit. Sedangkan, jika sarkoma tumbuh di tulang tangan atau kaki, pasien umumnya mengeluhkan nyeri tulang, serta sakit di sekitar area tulang yang terdampak ketika beristirahat atau tidur malam. Beberapa pasien bahkan mungkin mengalami retak tulang. Gejala-gejala lainnya meliputi ruam gelap (angiosarcoma atau kanker pembuluh darah); batuk dan sesak napas jika sarkoma berkembang di area dada; serta kembung dan mudah merasa kenyang jika sarkoma berasal di bagian perut.

“Langkah pertama yang harus dilakukan adalah menyadari kondisi tubuh sendiri. Kemudian, tanyakan pada dokter umum apakah Anda perlu menemui dokter spesialis atau menjalani tes lebih lanjut, seperti MRI atau CT scan, jika gejala Anda tidak hilang setelah pengobatan rutin,” kata Dr. Quek.

"Jika kita mengidentifikasi sarkoma pada tahap awal, ketika sel kanker masih terlokalisasi di satu area, tingkat kelangsungan hidup akan jauh lebih tinggi dibandingkan jika didiagnosis pada tahap akhir," tambahnya, seraya menekankan bahwa memiliki diagnosis yang tepat adalah kunci untuk menentukan perawatan yang paling optimal.

Karena keberagaman sub-tipe dan lokasi muncul sarkoma, sebenarnya tidak ada satu formula atau metode khusus yang dapat berlaku untuk semua kasus sarkoma. “Di PCC, keahlian kolektif dari para pakar onkologi kami, yang merupakan salah satu tim terbesar di Singapura dan sekitarnya, memungkinkan kami untuk membantu pasien mendapatkan diagnosis yang tepat sedini mungkin, memahami berbagai pilihan perawatan yang tersedia, serta memilih kombinasi yang akan memberi mereka hasil paling optimal,” kata Dr. Quek.

PCC mengambil pendekatan multidisiplin, menggunakan kombinasi  dari operasi, kemoterapi, dan/atau radiasi, untuk mengobati pasien sarkoma dalam upaya meningkatkan hasil klinis. Dalam menerapkan pendekatan ini, tim multidisipliner PCC juga bekerja dengan tim ahli medis yang berpengalaman dan berkualifikasi tinggi lainnya, seperti dari Parkway Hospitals.

“Contoh pendekatan multidisiplin ini adalah dengan menggunakan kemoterapi atau terapi radiasi untuk mengecilkan ukuran sarkoma, yang diikuti dengan operasi untuk mengangkat tumornya. Teknik ini memungkinkan kami untuk memperkecil efek samping, serta menyelamatkan lebih banyak jaringan dan fungsi tubuh,” kata Ahli Bedah Ortopedi Parkway Hospitals Dr. Leon Foo yang berbasis di Mount Elizabeth Orchard Hospital.

Di banyak belahan dunia, amputasi juga merupakan metode umum untuk menghilangkan sarkoma tulang dan sarkoma jaringan lunak. “Namun, dengan kemajuan ilmu medis dan bedah saat ini, di Parkway Hospitals kami sekarang dapat lebih banyak melakukan operasi penyelamatan anggota gerak tubuh, untuk kasus sarkoma tulang dan sarkoma jaringan lunak,” tambah Dr. Foo.

Perkembangan perawatan sarkoma ini menegaskan pentingnya membangun kesadaran terhadap penyakit ini dan menggalang dukungan untuk penelitian lanjutan. “Memiliki pusat keunggulan (centers of excellence) sarkoma di kawasan ini, seperti yang kami miliki di PCC, memainkan peran besar dalam hal ini, sehingga kami dapat terus meningkatkan perawatan sarkoma dan tingkat kelangsungan hidup pasien,” tutup Dr. Quek.

Tag : kanker
Editor : Mia Chitra Dinisari

Berita Terkait



Berita Terkini Lainnya

Top