Bisnis.com
Epaper Bisnis Indonesia BIGStore Koran Bisnis Indonesia Bisnis Indonesia Group bisnis tv bisnismuda

Beras Analog Ini Aman bagi Pertumbuhan Balita

Elfi Anis Saati, dosen Ilmu dan Teknologi Pangan (ITP) Universitas Muhammadiyah Malang (UMM) berhasil menciptakan beras analog yang sangat bermanfaat bagi balita pada masa pertumbuhan.
Choirul Anam
Choirul Anam - Bisnis.com 22 November 2018  |  20:55 WIB
Elfi (kanan) berfoto bersama produk dan mahasiswa bimbingannya. Foto:Istimewa
Elfi (kanan) berfoto bersama produk dan mahasiswa bimbingannya. Foto:Istimewa

Bisnis.com, MALANG  Elfi Anis Saati, dosen Ilmu dan Teknologi Pangan (ITP) Universitas Muhammadiyah Malang (UMM) berhasil menciptakan beras analog yang sangat bermanfaat bagi balita pada masa pertumbuhan.

Tingginya jumlah penderita gizi buruk dan kurang gizi pada balita, kata dia, terus meningkat. Data Pusat Data dan Informasi (PDI) Kementerian Kesehatan Republik Indonesia tahun 2015, sebanyak 25% bayi hingga balita di Indonesia mengalami stunting dan gangguan kesehatan lainnya akibat rendahnya kualitas gizi. 

Selain itu, PDI juga menunjukkan angka 30% balita di Indonesia mengalami Kurang Kalori Protein (KKP).

"Balita itu punya beberapa permasalahan pada masa pertumbuhan, salah satunya tentang KKP," tuturnya di Malang, Kamis (22/11/2018).

Karena alasan itulah, dia berinovasi dengan beras analog tinggi protein, berekspreimen dengan beras analog yang terbuat dari tepung tapioka, tepung kedelai, dan bayam hijau dan merah.  Beras analog tersebut kaya akan protein yang dihasilkan dari kacang-kacangan, terutama kacang kedelai, karena  mudah dijumpai di sekitar.

"Beras analog ini mengandung tepung kedelai yang  tinggi protein. Itu yang membuat beras ini tidak hanya mengandung karbohidrat," ucapnya.

Beras analog yang diberi label Elviza ini memiliki keunggulan lain yaitu tingkat antioksidan yang tinggi. Antioksidan merupakan senyawa yang dapat meningkatkan sistem imun dalam tubuh manusia.

Hal tersebut sangat bermanfaat bagi balita pada masa pertumbuhan. Pigmen pada penelitian ini terbukti memiliki tingkat antioksidan yang sangat tinggi.

Untuk  beras analog, Elfi memilih pigmen yang terkandung pada sayuran. Sayuran dipilih karena banyak balita yang cenderung kurang mengkonsumsi sayuran.

Beras analog ini tak hanya mengandung karbohidrat dan protein, namun juga kandungan sehat lain yang ada pada sayur.

"Saya memilih bayam sebagai tambahan komposisi untuk memanfaatkan pigmen yang ada pada bayam itu sendiri," ujarnya.

Tak hanya berinovasi pada beras analog, sebelumnya Elfi juga telah bereksperimen dengan minuman antioksidan yang memanfaatkan pigmen dari bunga mawar. Antosianin dari bunga mawar diketahui dapat mencegah penyakit ginjal dan juga hati. Hasil penelitian itu sudah dipublikasikan pada jurnal Internasional dan telah dipatenkan. 

Untuk menyediakan pangan yang sehat bagi masyarakat dan mengurangi penggunaan pewarna non-pangan berbahaya, seperti Rhodamin B, Amaranth, dan Pauncou, Elfi melakukan hilirisasi produk minuman antioksidan, juga dengan nama merk Elviza. 

Selain Elviza, dia juga tengah mengembangkan produk pewarna alaminya dengan ragam warna yang diisolasi dari bahan alam Indonesia.  Produk pewarna alami saya tengah dikembangkan untuk memenuhi permintaan pengusaha batik ekspor asal Medan yang memiliki usaha batik di Malang.

Saat ini pigmen dari bahan alam di Indonesia memiliki potensi yang tinggi untuk dimanfaatkan sebagai produk pada pangan, kosmetik, obat herbal, kerajinan, batik, bahkan menjadi sumber listrik.


Simak Video Pilihan di Bawah Ini :

Simak berita lainnya seputar topik artikel ini, di sini :

produksi beras
Editor : Sutarno

Bergabung dan dapatkan analisis informasi ekonomi dan bisnis melalui email Anda.

Artikel Terkait



Berita Terkini Lainnya

Terpopuler

Download Aplikasi E-Paper sekarang dan dapatkan FREE AKSES selama 7 hari!
qrcode bisnis indonesia logo epaper

BisnisRegional

To top