Cara Efektif Komunikasi dengan Anak yang Beranjak Remaja

Hindari memberi saran dalam bentuk kalimat negatif dan memojokkan. Lebih baik ajak anak berdiskusi mengenai pilihannya sehingga dia juga tidak merasa ditekan.
Dewi Andriani
Dewi Andriani - Bisnis.com 05 Januari 2019  |  19:35 WIB
Cara Efektif Komunikasi dengan Anak yang Beranjak Remaja
Ilustrasi - Webmd

Bisnis.com, JAKARTA -- Ketika meninjak usia remaja atau beranjak dewasa, anak mulai memiliki dunianya sendiri. Tak jarang, hubungan antara anak dan orang tua pun mulai sedikit merenggang.

Hal ini terjadi karena banyak orang tua masih memperlakukan anak remajanya seperti anak kecil dengan pola asuh otoriter sehingga membatasi ruang lingkup perkembangan anak. Alhasil, anak akan memberontak.

Wiwiek Wiral, pengusaha yang juga ibu dari dua remaja, mengatakan bahwa tantangan terbesar orang tua saat ini adalah menjadi teman dan sahabat yang baik bagi anak-anaknya. Dengan demikian, mereka akan lebih mudah dan terbuka berkomunikasi dengan orang tua.

“Ibu zaman modern ini harus bisa menjadi teman yang baik untuk anak sehingga anak akan lebih mudah mengungkapnya dan menyampaikan keinginannya. Dengan tetap menjaga figurnya agar anak juga bisa tetap respek dengan kita,” ujarnya.

Wiwiek sendiri mengaku terus berusaha menjadi ibu yang menyenangkan bagi dua anaknya Jordan dan Justin yang kini berusia 17 tahun dan 16 tahun. Caranya adalah dengan tidak mendiskreditkan pilihan anak-anaknya, dan tidak bersikap otoriter.

Dia juga tidak pernah terlalu ikut campur dalam urusan dan pilihan anak-anaknya. Namun, bukan berarti cuek sama sekali. Setidaknya, pemilik Biotalk.id ini selalu berusaha untuk menghadirkan figur sebagai seorang ibu yang siap memenuhi kebutuhan mereka kapanpun dan di manapun

“Kedekatan emosional dan psikologis ini penting untuk terus dijaga sehingga mereka akan tetap membutuhkan kita sebagai ibunya. Dan kita sebagai orang tua juga harus tahu selanya pada saat kapan kita masuk sehingga anak tidak merasa diintervensi secara berlebihan, layaknya seorang sahabat.”

Wiwiek sangat menghindari pola pengasuhan diktator kepada anak-anaknya. Dia akan memberikan kebebasan kepada anak-anaknya untuk memilih dan melakukan yang mereka sukai dengan sesekali menanyakan dan memastikan semuanya berjalan lancar dan sesuai dengan koridornya.

Misalnya saja ketika akan memilih untuk melanjutkan pendidikan di luar negeri. Meski sebetulnya Wiwiek merasa sangat berat harus ditinggal kedua putranya, tetapi dia tetap mendukung apapun pilihan sang buah hatinya.

Kedekatannya dengan sang putra juga masih dirasakan ketika dia masih diminta tolong untuk memijat dan mengoleskan minyak kayu putih di perut dan punggung putranya saat masuk angin meskipun sudah hampir lulus SMA.

Wiwiek sendiri mengakui bahwa proses untuk menjadi ibu sekaligus sahabat bagi anak tidaklah mudah dan membutuhkan proses yang panjang, sudah dimulai sejak anak masih kecil. Dari situlah dia menamakan nilai dan pola pengasuhan.

“Nilai-nilai dan karakter moral yang sudah saya tanamkan kepada anak-anak menjadi bekal bagi mereka ketika jauh dari saya. Saat anak jauh tentu ada rasa panik tapi pengendalian diri untuk mengendalikan emosi itu juga penting,” ujarnya.

Sementara itu, psikolog Tiga Generasi Saskhya Aulia Prima mengatakan bahwa pembiasaan dari kecil sangat penting dalam membentuk karakter anak. Jika orang tua ingin menjadi teman dan sahabat bagi anak, usahakan untuk selalu menjalin komunikasi yang berkualitas, minimal 15 menit setiap hari.

 TEMPAT BERCERITA

Namun, harus hati-hati jangan sampai terjebak pada komunikasi yang salah. Misalnya saja, ketika anak pulang sekolah orang tua bisa menanyakan kondisi di sekolah sehingga anak terbiasa untuk bercerita, tetapi jangan langsung memborbardir anak dengan berbagai pertanyaan karena justru akan membuat anak malas untuk bercerita.

Selain itu, hindari memberi saran dalam bentuk kalimat negatif dan memojokkan. Lebih baik ajak anak berdiskusi mengenai pilihannya sehingga dia juga tidak merasa ditekan.

“Jadikan diri kita sebagai tempat utama anak bercerita agar dia lepas dan bebas ngomong apa saja dengan kita. Jangan banyak judgment atau melontarkan pertanyaan bertubi-tubi karena anak akan malas. Jika sudah malas, akan sulit untuk membiasakannya curhat dan bercerita,” ujarnya.

Ketika anak mulai beranjak remaja, orang tua juga harus tetap jadi teman yang menyenangkan untuk anak. Caranya dengan memahami dunia mereka. Kalau perlu, orang tua baik ibu maupun ayah mengikuti perkembangan musik, gim, maupun film yang populer di kalangan remaja sehingga ketika mengobrol dengan mereka akan nyambung.

Sebab, jika orang tua bersikap cuek dan tidak mau tahu tentang kehidupan dan dunia remaja, si anak juga akan malas untuk bercerita dengan orang tua karena tidak pernah nyambung dan mungkin akan saling bertentangan.

Intinya, Saskhya mendorong agar orang tua yang anak-anaknya terlahir sebagai generasi Z maupun generasi alfa harus lebih fleksibel dalam mengontrol kehidupan anak. “Tetap beri mereka batasan tetapi pagar tersebut tidak kaku dan fleksibel mengikuti perkembangan zaman yang berubah dengan sangat cepat,” ujarnya.

Hal ini penting dilakukan agar anak tetap menganggap penting orang tua dan jika membutuhkan sesuatu, larinya ke orang tua. Sebab, tidak sedikit remaja yang salah pergaulan karena didikan orang tua yang tidak benar. Orang tua bersikap otoriter sehingga anak akan cenderung memberontak.

“Jadilah teman yang menyenangkan sehingga anak juga merasa nyaman dan cenderung lebih mudah menerima nasihat, masukan, maupun arahan dari orang tua.”

Simak berita lainnya seputar topik artikel ini, di sini :
parenting

Editor : M. Taufikul Basari
KOMENTAR


0   Komentar

Berita Terkait



Berita Terkini Lainnya

Top