Inilah Pentingnya Sarapan Sehat Bagi Metabolisme Tubuh

Kesibukan di pagi hari sering kali menjadi alasan seseorang melewatkan waktu sarapan. Meneguk segelas susu atau teh manis hangat kadang sudah dianggap sebagai sarapan. Padahal, sarapan bukan hanya minum atau makan melainkan makan sekaligus minum.
Dewi Andriani
Dewi Andriani - Bisnis.com 02 Februari 2019  |  16:22 WIB
Inilah Pentingnya Sarapan Sehat Bagi Metabolisme Tubuh
Menu sarapan sehat - Antara

Bisnis.com, JAKARTA -  Kesibukan di pagi hari sering kali menjadi alasan seseorang melewatkan waktu sarapan. Meneguk segelas susu atau teh manis hangat kadang sudah dianggap sebagai sarapan. Padahal, sarapan bukan hanya minum atau makan melainkan makan sekaligus minum.

Sebaliknya, tidak sedikit pula masyarakat Indonesia sarapan dengan menu makanan berat yang mengandung terlalu banyak karbohidrat seperti bubur ayam, nasi uduk, nasi goreng, ditambah gorengan yang tinggi lemak.

Tak heran bila data Study on Nutrition, Health, and Wellness pada 2016 menemukan bahwa 76% masyarakat Indonesia sarapan tetapi nutrisinya tidak terpenuhi sesuai golden standard breakfast.

Bahkan hanya 10,6% anak Indonesia yang sarapannya sehat dan seimbang. Adapun 26% anak hanya mengonsumsi minuman pada waktu sarapan.

Sarapan sehat yang didasarkan padaGolden Standard Breakfast menurut Pergizi Pangan Indonesia dilakukan sebelum jam 9 pagi, terdiri dari makan dan minum.

Selain itu, saat sarapan mengkonsumsi makanan yang mengandung karboidrat, protein, vitamin, dan mineral secara seimbang ditambah dengan lemak baik.  Sarapan juga harus dapat memenuhi ¼ kebutuhuhan gizi harian atau sekitar 15% hingga 30% kebutuhan.

Dokter ahli gizi Rita Ramayulis mengatakan bahwa sarapan yang sehat diperlukan untuk dapat memenuhi kebutuhan energi dan zat gizi pada tubuh.

Pasalnya, pada malam hari saat tertidur, tubuh tidak mendapatkan pasokan energi padahal proses pembakaran dari metabolisme tubuh terus terjadi.

“Karena itu jangan sampai melewatkan sarapan karena tubuh membutuhkan pasokan energi di pagi hari minimal 25% dari energi total harian agar dapat menjalankan aktvitas dari pagi hingga siang hari,” tutur Rita.

Namun, sarapan yang sehat dan baik itu pun harus tetap memperhatikan komposisi kandungan di dalamnya. Jangan sampai terlalu tinggi lemak, gula dan karbo, atau malah tidak mendapatkan karbohidrat sama sekali karena hanya berupa cairan atau minuman.

Rita mengatakan jika makanan terlalu padat akan membuat lambung terasa penuh."Saat perut penuh, akan membuat oksigen berada di sekitar lambung sementara otak akan kekurangan oksigen. “Hasilnya, seseorang akan menjadi cepat mengantuk dan lebih mudah lelah,” tutur Rita.

Sementara itu, jika sarapan bentuknya cair atau hanya minuman berisiko membuat seseorang kekurangan zat gizi karena di dalamnya hanya terkandung mikronutrisi. Apalagi ketika seseorang minum tidak ada gerakan mengunyah di mulut yang memengaruhi metabolisme dalam tubuh.

Saat metabolisme terjadi, jantung akan memompa darah lebih cepat sehingga peredaran darah dan oksigen di dalam tubuh menjadi lebih baik. Hal ini merangsang kemampuan kognitif seseorang.

Di samping itu, saat mengunyah juga ada kepuasan psikologis karena ada rasa yang tercampur di dalamnya, serta menstimulus pencernaan secara baik.

“Saat seseorang secara psikologis tidak puas maka ada risiko dia akan makan secara emosional yang dampaknya justru akan membuat seseorang yang melewati waktu sarapan menjadi overweight atau obesitas,” terang Rita.

Menurut Rita, sarapan yang sehat dan bergizi adalah yang di dalamnya mengandung tiga zat gizi makro yaitu karbohidrat, protein, dan lemak yang diolah oleh mikronutrien yaitu vitamin, mineral dan air dengan tetap memperhatikan komposisi gula dan lemak jenuh.

“Nasi uduk enggak ada sayuran sebagai sumber vitamin maka tidak bisa mengolah makro nutrisi. Ini akan membebani reaksi kimia di tubuh. Energi banyak yang masuk tapi tidak siap pakai karena tidak ada yang membantu proses metabolismenya,” papar Rita.

Menurutnya, dalam menyediakan menu sarapan sehat pada pagi hari harus memenuhi dua syarat yaitu makanan memberikan rasa kenyang yang lebih lama dan secara berkesinambungan diolah menjadi energi sepanjang hari. Kedua, tidak membuat tubuh bekerja terlalu lelah.

Untuk sumber karbohidrat bisa diambil dari roti, singkong, ubi, ataupun nasi dengan tambahan protein yang bersumber dari telur, daging ayam, maupun susu. Adapun vitamin bisa berasal dari sayur dan buah-buahan.

“Cara simpelnya dengan membuat omelet  yang dimakan dengan kentang rebus dan segelas jus. Atau satu tangkap roti bakar dengan segelas susu dan satu buah pisang, Itu sudah cukup dan tidak terlalu memberatkan organ,” ujar Rita.

Namun jika tidak memiliki waktu menyiapkan itu semua, berbagai jenis makanan olahan bisa menjadi pertimbangan untuk dikonsumsi di pagi hari. Sebab, biasanya makanan olahan tersebut sudah memperhitungkan kandungan zat gizi baik mikro maupun mikronutrien.

Eka Herdiana Corporate Nutritionist Nestle Indonesia mengatakan Nestle Nestum memiliki kandungan multigrain yang terdiri atas gandum utuh, beras, jagung, serat pangan, vitamin, dan mineral.

“Multigrain ini akan membuat kenyang lebih lama dan menyediakan energy berkelanjutan tetapi tidak membuat perut terlalu penuh,” jelasnya.

Business Executive Officer Dairy Nestlé Indonesia Windy Cahyaning Wulanmengatakan bahwa multigrain ini penting bukan hanya untuk orang dewasa saja tetapi juga anak-anak sehingga bisa menjadi menu sarapan keluarga.

Untuk itulah Nestle meluncurkan gerakan 101 Nestum Healty Bowl sebagai bentuk insitaif mengajak masyarakat Indonesia mengkreasikan aneka makanan sehat dengan bahan dasar Nestum.

“Kami harap gerakan ini akan membuat masyarakat tidak lagi melewatkan waktu sarapan,” ujarnya.

Simak berita lainnya seputar topik artikel ini, di sini :

Editor : Saeno
KOMENTAR


0   Komentar

Berita Terkait



Berita Terkini Lainnya

Top