Anak-Anak Indonesia Masih Konsumsi Susu Kental Manis untuk Penuhi Gizi

Koalisi Perlindungan Kesehatan Masyarakat (Kopmas) menilai bahwa ancaman gizi buruk dan stunting akan terus menghantui anak-anak di Indonesia seiring dengan masih minimnya edukasi mengenai gizi seimbang
Eva Rianti
Eva Rianti - Bisnis.com 06 Februari 2019  |  15:09 WIB
Anak-Anak Indonesia Masih Konsumsi Susu Kental Manis untuk Penuhi Gizi
Ketua Koalisi Perlindungan Kesehatan Masyarakat (Kopmas) Arif Hidayat - Bisnis/Eva Rianti

Bisnis.com, JAKARTA – Kasus gizi buruk di Indonesia terbilang masih memprihatinkan. Koalisi Perlindungan Kesehatan Masyarakat (Kopmas) menilai bahwa ancaman gizi buruk dan stunting akan terus menghantui anak-anak di Indonesia seiring dengan masih minimnya edukasi mengenai gizi.  

Berdasarkan hasil termuan terbarunya yang dilakukan pada November—Desember 2018, Kopmas menemukan para orang tua masih banyak yang memberikan anak-anaknya asupan berupa susu kental manis (SKM) sebagai minuman bernutrisi, padahal sebenarnya hanya sebagai pelengkap sajian. 

Akibatnya, anak-anak Indonesia justru kekurangan nutrisi, bahkan terindikasi mengalami gizi buruk. Nahasnya, kondisi tersebut menimbulkan potensi stunting pada anak.

“Pemahaman yang salah di masyarakat kita hingga saat ini bahwa SKM adalah susu yang memiliki nutrisi tinggi bagi anak-anak terutama bayi, padahal 50% kandungan pada SKM adalah gula,” ujar Ketua Kopmas, baru-baru ini.

Eneng, 39, seorang warga Pandeglang mengakui hal tersebut. Di kampungnya, tidak sedikit para orang tua yang menganggap SKM memiliki nutrisi yang tinggi bagi anak-anak mereka.

“Di kampung saya banyak [bayi] yang konsumsi SKM. Dan bayinya itu sekitar usia 3 tahun jadinya gatal-gatal, bahkan ada yang melepuh. Ada lagi yang minum SKM pada usia 2 tahun, pipinya kembung dan mau meledak. Ada lagi bayi yang tidak minum susu formula atau SKM, tapi minum kopi. Yang terjadi rambutnya beruban dan perutnya cacingan,” terang Eneng.  

Menyikapi hal tersebut, Direktur Registrasi Pangan Olahan BPOM Anisyah mengatakan bahwa perlu adanya perlindungan untuk masyarakat dari informasi-informasi yang menyesatkan. Dia menegaskan bahwa SKM hanya sebagai nutrisi pelengkap.

“Hal ini sudah diupayakan dalam tiga peringatan yang tertera pada SKM. Bunyinya: ‘Perhatikan! tidak untuk menggantikan Air Susu Ibu’, ‘tidak cocok untuk bayi sampai usia 12 bulan’, dan ‘tidak dapat digunakan sebagai satu-satunya sumber gizi’,” katanya. 

Simak berita lainnya seputar topik artikel ini, di sini :
gizi

Editor : Mia Chitra Dinisari
KOMENTAR


0   Komentar

Berita Terkait



Berita Terkini Lainnya

Top