Sebanyak 1.111 eksemplar novel terbaru Ika Natassa berjudul Critical Eleven habis terjual dalam waktu kurang dari 11 menit pada pre-order di enam toko buku online pada awal Juli silam./Antara
Relationship

Kata Penulis: Minat Baca Indonesia Tidak Rendah, Hanya Saja....

Asteria Desi Kartika Sari
Senin, 18 Maret 2019 - 19:35
Bagikan

Bisnis.com, JAKARTA -- Mengukur minat baca seseorang secara akurat dinilai masih sulit diperhitungkan. Pasalnya ada banyak indikator yang butuh diperhitungkan. Menurut Ika Natassa, penulis buku Antologi Rasa, minat baca masyarakat Indonesia boleh dikatakan tidak rendah.

Hal itu bisa dilihat dari animo masyarakat ke toko buku, festival buku, atau pembicaraan buku di media sosial. Bahkan beberapa buku Indonesia sangat marak untuk dibajak. Artinya, masih banyak demand untuk membaca buku. Hanya saja cara tersebut salah.

Menurut Ika, permasalah yang dihadapi adalah akses terhadap buku tersebut, karena perpustakaan yang belum tersebut di kota-kota kecil, hingga soal ketersediaan atau update buku baru dari setiap perpustakaan. Lebih lanjut, menurutnya masyarakat masih belum cukup kesadaran menghargai suatu buku atau suatu karya lebih dari sekedar membacanya. Tapi juga menghargai di balik proses  penciptaan tersebut.

"Ada salah satu indikator lagi meskipun itu sangat jelek indikasinya, seperti buku-buku Indonesia itu laku dibajak. Artinya demand-nya memang tinggi," kata Ika kepada Bisnis, dikutip Senin (18/3/2019).

Ika menilai, sebenarnya banyak orang yang ingin membaca, hanya saja permasalahannya akses terhadap buku masih terbatas, misalnya perpustakaan yang belum menyebar. "Kemudian juga dengan harga kertas yang terus naik, ongkos produksi, pajak dan segala macam sehingga harga buku tidak bisa murah," katanya.

Untuk menumbuhkan minat baca, lanjutnya, yang harus ditekankan adalah literasi terhadap anak. Menurutnya, biasanya kalau sudah terbiasa baca pasti akan terbawa sampai dewasa.

"Jadi bacaan apapun itu boleh , tidak harus buku pelajaran , tidak harus buku yang serius. Bahkan komik yang ringat itu penting. Kalu dari kecil sudah di larang-larang baca komik gimana dia mau akrab dengan konsep bercerita," ceritanya.

Dia mengatakan sebenarnya inti dari membaca adalah story telling, bentuknya pun bisa berbagai macam seperti novel, komik, bahkan hingga format film.

Saat ini, orang Indonesia masih dicap memiliki minat baca yang rendah. Diantaranya berdasarkan survei Most Literate Nation In The World 2016, yang menempatkan Indonesia di urutan ke-60 dari 61 negara soal minat baca. 

Indonesia persis berada di bawah Thailand (59) dan hanya menang dari Botswana yang ada di peringkat 61.

Perpustakaan Nasional menyebut, frekuensi membaca orang Indonesia rata-rata hanya tiga sampai empat kali per minggu. Sementara itu, jumlah buku yang dibaca rata-rata hanya lima hingga sembilan buku per tahun saat survei diadakan pada 2017.

Rata-rata orang Indonesia hanya membaca buku 3–4 kali per minggu, dengan durasi waktu membaca per hari rata-rata 30 menit–59 menit, sedangkan jumlah buku yang ditamatkan per tahun rata-rata hanya 5–9 buku.

Namun, ada bukti bahwa minat terhadap buku semakin tinggi dalam beberapa tahun terakhir. Hal itu bisa dilihat dari pertumbuhan industri penerbitan dan permintaan nomor Angka Standar Buku Internasional atau International Standard Book Number (ISBN) ke pemerintah.

Selama beberapa tahun lalu, permintaan terhadap penerbitan ISBN hanya berkisar di angka 30.000 – 40.000 judul buku, namun sejak 2017 – 2018 permintaan naik menjadi sekitar 70.000.

Bagikan

Artikel Terkait

Berita Lainnya

Berita Terkini

Nyaman tanpa iklan. Langganan BisnisPro

Nyaman tanpa iklan. Langganan BisnisPro

Terpopuler

Nyaman tanpa iklan. Langganan BisnisPro

Rekomendasi Kami

Nyaman tanpa iklan. Langganan BisnisPro