Sneaker Bagian dari Karya Seni

Anggota komunitas Indonesia Sneaker Team Dayu Yudana Putra, akrab dipanggil Dayu, mengaku sudah menyukai sneaker sejak kecil. Tetapi dia mulai rajin membeli sneaker sejak 2004, setelah berpenghasilan sendiri.
Tika Anggreni Purba
Tika Anggreni Purba - Bisnis.com 19 April 2019  |  11:50 WIB
Sneaker Bagian dari Karya Seni
Pengunjung memperhatikan koleksi sepatu di sela-sela konferensi pers BCA Jakarta Sneaker Day 2019, di Jakarta, Jumat (18/1/2019). - Bisnis/Nurul Hidayat

Bisnis.com, JAKARTA—Anggota komunitas Indonesia Sneaker Team Dayu Yudana Putra, akrab dipanggil Dayu, mengaku sudah menyukai sneaker sejak kecil. Tetapi dia mulai rajin membeli sneaker sejak 2004, setelah berpenghasilan sendiri.

Hingga hari ini Dayu sudah mengumpulkan 55 pasang sneakers. “Belum banyak sih, di luar sana juga lebih banyak penggila sneaker lainnya,” katanya merendah.

Dayu tipikal pencinta sneaker yang lumayan santai. Berburu sneaker tidak dijadikannya sebagai beban, tetapi hobi yang memuaskan. Apalagi sejak zaman teknologi merambah dunia jual beli, berburu sneaker tidak sesulit di waktu dulu. Jika dulu harus menunggu lama untuk mendapatkan sneaker, kini ikon fesyen streetwear itu lebih mudah didapatkan melalui jual beli daring.

“Yang sulit didapatkan mungkin sneaker keluaran tahun-tahun lama, atau bergaya retro atau jadul,” kata Dayu. Dia sendiri pernah menjadi tipikal pencinta sneaker yang menggebu-gebu, namun seiring perjalanan waktu kini dia bersikap lebih santai.

Pernah, ketika dia berburu Nike Air Jordan 1 keluaran 2009 yang sangat diinginkannya. Dayu mengaku begitu menghargai sejarah dari sepatu itu, sehingga sepatu itu dicari betul. Akhirnya dia menemukannya setelah berselancar di forum online.

“Dapatnya second pada saat itu, tetapi tetap senang banget,” katanya. Di kalangan pemain lama pencinta sneaker sudah jamak diketahui bahwa sneaker keluaran lama memang diperjualbelikan di toko bekas.

Dayu berpandangan bahwa sneaker juga bagian dari kreasi seni. Zaman sekarang telah banyak orang yang berani untuk berkreasi pada sneaker-nya. Beberapa orang puas dengan menggambar atau melukis sneaker, misalnya.

Dayu memiliki kesenangan sendiri ketika berkreasi pada tali sepatu dan warna. “Cara mengikat tali sepatu juga sudah beragam, orang sudah bebas berkreasi,” ujarnya.

Menurut Dayu, nilai sejarah dan perjuangan untuk mendapatkan sneakers itulah yang membuat dia sayang terhadap koleksinya. Sebagian digunakannya untuk pemakaian sehari-hari, sebagian lagi hanya digunakan untuk acara-acara tertentu saja. Apalagi untuk sneaker yang perawatannya lumayan susah, lebih baik disimpan dengan baik.

Untuk membersihkan sneaker memang tergantung pada jenis bahan sepatu. Ada sneaker yang bisa dibersihkan hanya dengan tisu basah khusus, ada yang dilap dengan pembersih khusus, ada pula yang bisa disikat dengan teknik tertentu. Namun, kini telah hadir jasa laundry sepatu, perawatan kebersihan sneaker menjadi lebih mudah.

Apakah Dayu berminat terhadap investasi atau berbisnis seputar sneaker? Dia mengaku belum begitu memikirkannya dengan serius. Dia sadar betul kalau harga sneaker (apalagi yang limited edition) akan terus melambung tinggi seiring waktu.

“Semua orang memiliki tujuan sih, saya setuju sneaker bisa dijadikan investasi, tetapi sejauh ini saya masih mengutamakan nilai historisnya,” katanya.

Dayu juga menyoroti berkembangnya sneaker merek lokal di Indonesia. Menurutnya, perkembangan dan antusiasme sneaker lokal juga tengah moncer dengan kualitas yang sangat bagus. Tetapi, dia masih menyayangkan siluet dari bentuk sepatu lokal itu masih merujuk pada sneaker luar negeri.

Kolaborasi pengusaha sneaker lokal dengan para influencer juga dinilainya cukup membantu promosi sepatu lokal. Apalagi sebagian sneaker lokal juga sudah mulai merambah pasar global. “Saya juga pakai sneaker lokal, pemakaiannya enak dan nyaman kok,” katanya.
 

Simak berita lainnya seputar topik artikel ini, di sini :
Sneakers

Editor : Mia Chitra Dinisari
KOMENTAR


0   Komentar

Berita Terkait



Berita Terkini Lainnya

Top