KARTINI ABAD DIGITAL: Geliat Pemberdayaan Perempuan di Dunia IT

Kartini-kartini abad digital tidak berhenti dengan menjadin pemain di industri yang "padat laki-laki", mereka juga menggalakkan pemberdayaan agar lebih banyak kaum hawa mampu berkiprah.
Reni Lestari | 20 April 2019 17:05 WIB
Anne Regina, founder komunitas Female Geek PHP Indonesia - Instagram

Bisnis.com, JAKARTA - Kartini-kartini abad digital tidak berhenti dengan menjadin pemain di industri yang "padat laki-laki". Mereka juga menggalakkan pemberdayaan agar lebih banyak kaum hawa mampu berkiprah.

Berangkat dari terbatasnya sumber daya perempuan di dunia digital, sejumlah sosok menggagas terbentuknya komunitas dan forum yang fokus memperkaya pengetahuan dan keahlian kaum hawa di bidang ini. Sebutlah Anne Regina, founder komunitas Female Geek PHP Indonesia.

Anne bercerita, inisiatifnya untuk membentuk komunitas ini berawal dari sedikitnya perempuan yang dia temui pada komunitas-komunitas programmer.

Sampai saat ini, Female Geek sudah berada di 13 kota. Anne mengatakan kini pihaknya tengah dalam proses membentuk cabang di Jayapura.

Sebagai sebuah komunitas dengan ribuan anggota perempuan, Female Geek aktif berkegiatan secara online melalui berbagai platfom sosial media, maupun secara offline di forum-forum pelatihan dan sharing session. Anggotanya terdiri atas siswa, mahasiswa hingga praktisi dunia digital.

"Kami ada kegiatan seminar, talkshow, workshop juga. Ada juga yang namanya mentoring sister to sister, yaitu yang sudah kerja ngasih mentoring buat yang masih kuliah dan sekolah," kata Anne yang saat ini menjabat Engineer Manager di Bukalapak.

Fokus Anne dan kawan-kawannya di Female Geek adalah memberdayakan perempuan di bidang IT dan saling memotivasi bahwa perempuan mampu berkiprah di industri tersebut. Anne mengatakan, faktor kepercayaan diri masih menjadi isu utama bagi perempuan untuk masuk dan berkarir di industri IT.

Padahal secara permintaan, banyak perusahaan yang mencari enggineer perempuan. Di luar faktor keberagaman dan kesimbangan gender, secara kemampuan perempuan sebenarnya juga tak kalah bersaing.

Menurut Anne, batasan perempuan untuk berkarya dan berkarier masih berkutat pada stigma bahwa kaum hawa sepatutnya hanya mengurusi rumah tangga semata.

"Jadi memang balik ke persoalan individu. Bukan dari market, kalau market mencari banget," katanya.

Dewi Sri Susilowati, anggota Female Geek PHP Indonesia mengatakan, sejak awal menjadi bagian dari komunitas ini hal yang paling berpengaruh pada pengembangan diri dan kariernya adalah networking.

Perempuan yang bekerja di bagian data dan teknologi di sebuah kementerian ini menjelaskan, melalui kerja sama yang dijalin komunitasnya dengan pihak luar, dia berkesempatan membuka wawasan dan pengetahuan lebih luas.

"Biasanya orang IT itu ngomongnya agak kaku sehingga buat jalin network agak susah. Nah, kalau sering ikut komunitas bisa bangun percaya diri," ujar Dewi.

Banyak pula anggota Female Geek yang awalnya tidak percaya diri dan cenderung pendiam. Setelah mengikuti forum-forum yang digelar, kemampuan komunikasi dan kepercayaan diri mereka meningkat sehingga peluang mengembangkan diri terbuka. Bahkan di antaranya ada pula yang berencana membangun startup.

Female Geek berencana masuk ke sekolah-sekolah khususnya Sekolah Menengah Kejuruan (SMK) untuk memberi pelatihan coding.

Menurut Dewi, kemampuan anak-anak SMK tidak kalah dari lulusan sarjana. Bahkan menurut Dewi, anak-anak ini memiliki nilai plus yakni lebih ulet.

"Kalau beberapa tahun lagi saya buka perusahaan IT, saya akan menerima anak SMK karena mereka lebih siap buat kerja," ujar Dewi.

Hal yang kurang lebih sama juga digeluti Vania Radmila, Mobile Engineer di sebuah perusahaan IT terkemuka. Sejak awal tahun lalu,

Mila bersama dengan dua rekannya, Anbita Nadine Siregar dan Crystal Widjaja sibuk berkegiatan di Generation Girls.

Wadah ini mengumpulkan perempuan remaja berusia 12-16 tahun di sebuah kelas untuk diberikan pelatihan dan mentoring, khususnya terkait coding dan seluk-beluk IT engineering.

Senada dengan Female Geek, Generation Girls juga dibentuk karena sumber daya perempuan di bidang IT yang terbatas. Dengan memberikan pemahaman dan gambaran pada remaja perempuan,

Mila berharap akan lebih banyak kaum hawa yang mengikuti jejaknya berkiprah di industri digital.

Dia bercerita, di perusahaan IT tempatnya bekerja, engineer laki-laki memang mendominasi. Meski demikian, tidak ada perlakuna berbeda yang dia terima sebagai engineer perempuan. Bahkan, rekan kerjanya yang laki-laki tidak sungkan memotivasinya.

Tahun lalu, Generation Girls menyelenggarakan Winter Club, pelatihan selama 5 hari yang fokus pada pengembangan website.

Akhir tahun lalu, Winter Club diikuti setidaknya 30 remaja putri di Jakarta. Tak hanya ketiga founder tersebut yang menjadi mentor, Mila juga membuka kesempatan bagi mahasiswa IT yang memiliki kapasitas dan pengalaman untuk berbagi pengetahuan pada remaja-remaja putri.

"Kenapa kami memilih usia 12 hingga 16 tahun, karena kami merasa untuk segmen umur 12 sampai 16 tahun belum banyak [komunitas yang masuk dan bergerak], sementara untuk yang 18 tahun ke atas sudah banyak," kata Mila.

Tahun ini Generation Girls akan menyelenggarakan dua kali pelatihan, yakni summer club dan winter club. Durasi pelatihan akan diperpanjang menjadi 6 minggu dengan target peserta lebih banyak.

Topik-topik yang dihadirkan seputar web development, mobile development, hingga robotic. Selama 6 minggu tersebut, anak-anak diperbolehkan memilih topik apa yang ingin mereka pelajari.

Para peserta juga akan diajak berkunjung ke perusahaan-perusahaan teknologi terkemuka. Mereka akan diberi kesempatan berbincang dengan para tech engineer perempuan. Di akhir workshop, para peserta diharuskan mempresentasikan sebuah karya.

Hal utama dari kegiatan Generation Girls, lanjut Mila, adalah untuk membuka mata para remaja putri bahwa ada bidang di mana mereka bisa berkiprah selain bidang-bidang yang selama ini sudah jamak ditemui. Dari winter club yang akhir tahun lalu diselenggarakan, peserta sangat antusias terutama saat field trip.

"Kami hanya ingin bilang bahwa ada lho bidang buat perempuan yang kamu bisa tekuni, di luar bisnis, di luar kedokteran, di luar engineering field yang lain. Misalnya di bidang teknologi mereka bisa jadi engineering software di startup," ujar Mila.

Mila melanjutkan, selain memperpanjang durasi workshop, ke depan pihaknya juga akan mengembangkan topik-topik pelatihan ke Science, technology, engineering dan math (STEM). Empat mata pelajaran itu merupakan pondasi seorang tech engineer.

Mila berharap akan lebih banyak perempuan yang menjadi software engineer atau peran-peran lain di industri IT. Mila juga mendorong perempuan Indonesia untuk lebih percaya diri.

"Kalau masalah kemampuan, kita sama saja dengan lawan jenis kita. Jadi tidak ada yang membedakan kita dengan cowok, kita semua berkemampuan," kata Mila.

Pantau terus perkembangan Real Count KPU Pilpres 2019, di sini.

Simak berita lainnya seputar topik artikel ini, di sini :
digital, hari kartini

Editor : Saeno

Berita Terkait



Berita Terkini Lainnya

Top
Tutup