Awas, Dampak Stunting Pengaruhi Mental Anak

Stunting bukan masalah baru di dunia kesehatan. Namun Indonesia masih menjadi negara dengan angka stunting terbanyak kedua setelah Laos di Asia Tenggara. Masalah ini menjadi krusial setelah diketahui penyebab stunting dapat mempengaruhi mental anak.
Rayful Mudassir
Rayful Mudassir - Bisnis.com 07 Mei 2019  |  20:10 WIB
Awas, Dampak Stunting Pengaruhi Mental Anak
Ilustrasi

Bisnis.com, JAKARTA - Stunting bukan masalah baru di dunia kesehatan. Namun Indonesia masih menjadi negara dengan angka stunting terbanyak kedua setelah Laos di Asia Tenggara. Masalah ini menjadi krusial setelah diketahui penyebab stunting dapat mempengaruhi mental anak.

Setelah berkutat dengan sejumlah masalah malnutrisi, isu stunting disebut masih paling krusial dibandingkan dengan kasus lainnya. Betapa tidak, penderita stunting masih lebih tinggi dibandingkan kasus malnutrisi lain termasuk obesitas.

Sebuah riset menyebutkan stunting merupakan isu darurat secara nasional. Pasalnya 1 dari 3 anak di bawah lima tahun di Indonesia mengalami stunting. Bahkan hampir seluruh kawasan di Nusantara mengalami masalah serupa.

Kepala Pusat Kajian Gizi dan Kesehatan Universitas Indonesia Ir Ahmad Syafiq mengatakan masalah stunting menjadi persoalan penting di Indonesia. Kendati demikian dia menyebut masih banyak masyarakat Tanah Air belum tahu betul makna stunting sebenarnya.

Berdasarkan survei yang dipaparkannya, hampir seluruh responden atau sebanyak 97,9 persen responden tidak mengerti istilah stunting. Namun di sejumlah daerah, stunting lebih dikenal dengan sebutan pendek yaitu 31,2 persen di antara para ibu dan 34,5 persen di antara wanita hamil.

Misalnya di Maluku Tengah, para responden mengetahui istilah stunting ini sebagai kerdil. Dari para responden itu, stunting disebut sebagai istilah berat tinggi badan tidak sesuai atau rendah untuk usia tertentu.

Selain itu pengetahuan tentang stunting juga terbatas pada populasi penelitian. Hanya 4 persen dari ibu yang diwawancara menyebut bahwa tinggi pendek adalah indikator kekurangan gizi. Sebagian besar responden atau 68 persen menyebut faktor keturunan sebagai penyebab utama pengerdilan dan itu bukan masalah kesehatan.

Masalah stunting dinilai tidak hanya masalah kekurangan gizi atau makanan. Dari berbagai penemuan, hal ini berkaitan pula dengan bagaimana konsumsi air, tempat sanitasi di sekitar, tempat pembuangan sampah.

"Padahal masalah stunting tidak hanya berpengaruh pada tubuh mereka, tetapi turut mempengaruhi mental si anak," katanya usai diskusi Talking Asean dalam Overcoming Malnutrition in Children of Southeast Asia di The Habibie Center belum lama ini.

Di sisi lain, stunting sebutnya juga dipengaruhi oleh tumbuh kembang ibu. Orang tua di usia muda katanya masih membutuhkan waktu untuk tumbuh kembangnya sendiri. Namun jika ibu muda telah hamil atau memiliki calon bayi, kondisi ini malah mengganggu pertumbuhan keduanya baik ibu maupun janin.

Pun demikian, terjadinya stunting juga dapat dilihat dari konsumsi susu yang cenderung minim di Tanah Air. Berdasarkan data Asean pada 2018, konsumsi susu di Indonesia sangat rendah dibandingkan dengan negara lainnya yaitu 11,8 liter/kapita/tahun.

Dibandingkan dengan negara lainnya, kondisi persusuan Indonesia harus ditingkatkan. Data UNDP tahun lalu, kondisi ini bertambah pelik dengan fakta ketersediaan susu dalam negeri sebanyak 79,93 persen dipasok dari susu impor, sementara susu lokal hanya berkontribusi sebanyak 20,07 persen.

“Kalau memang susu mahal, buatlah penjualan susu murah untuk kegiatan sosial. Dan untuk mengatasi hal ini sebenarnya perlu kontribusi seluruh stakeholder termasuk industri. Tidak harus selalu skeptis jika pemerintah bekerjasama dengan industri, karena ini persoalan bersama yang harus diselesaikan,” terangnya.

Dalam presentasinya, dia mendukung program pemerintah DKI Jakarta termasuk dengan memberikan bekal nutrisi bagi anak sekolah di seluruh DKI. Upaya ini termasuk perlu dilakukan daerah lain. Namun begitu bukan tidak mungkin juga perlu ditingkatkan,

Alautiah Miftahayati Rahmunanda, Technical Officer, Health Division, Asean Secretariat mengatakan persoalan malnutrisi memang menjadi salah satu perhatian penting di negara Asean. Terlebih Indonesia juga menduduki posisi lima besar dunia untuk kasus stunting ini.

"Seluruh kepala negara di Asean telah berkomitmen untuk mengimplementasikan seluruh poin di dalam deklarasi pada Asean Summit 2017," katanya.

Beberapa poin yang dilakukan seluruh pemerintah negara Asia Tenggara diantaranya seperti menugaskan seluruh Menteri Kesehatan untuk bekerjasama mengatasi masalah nutrisi dan memberikan kepastian tentang ketersediaan pangan hingga makanan yang dipengaruhi oleh industri.

Sejak tahun lalu, Asean juga telah melakukan berbagai target penurunan stunting di Asia Tenggara hingga 2030.

Simak berita lainnya seputar topik artikel ini, di sini :
stunting, who

Editor : Akhirul Anwar
KOMENTAR


0   Komentar

Berita Terkait



Berita Terkini Lainnya

Top