Puasa dan Pengembangan Kecerdasan Emosi Anak

Puasa berasal dari kata shaum, artinya orang yang puasa itu adalah orang yang mampu mengendalikan diri dari hal-hal negatif serta hal-hal yang dilarang oleh Allah.
Asteria Desi Kartika Sari | 13 Mei 2019 13:58 WIB
Anak puasa - gulfnews.com

Bisnis.com, JAKARTA--Puasa berasal dari kata shaum, artinya orang yang puasa itu adalah orang yang mampu mengendalikan diri dari hal-hal negatif serta hal-hal yang dilarang oleh Allah.

Motivator muda Indonesia Edvan M Kautsar mengatakan mereka yang terlatih sabar saat berpuasa akan membentuk karakter yang pandai me-manage diri. Karena berpuasa memiliki manfaat seperti menenangkan pikiran, menurunkan gangguan depresi, dan emosi negatif.

Banyak penelitian mengatakan bahwa, kecerdasan emosional ternyata lebih menentukan kesuksesan seseorang dibandingkan kecerdasan intelektual.

Kecerdasaan emosi dapat terbentu ketika berpuasa, menurutnya, hal tersebut terdorong karena saat berpuasa ada lima hal yang harus dilakukan diantaranya emotional management atau kemampuan mengatur emosi, self awareness atau menyadari ragam emosi yang harus dikendalikan dalam diri, self motivation yakni saat bersabar dan memotivasi diri bahwa mampu menyelesaikan puasa dengan sempurna dari waktu sahur sampai berbuka puasa.

“Yang paling penting kemampuan berempati saat ikut merasakan bagaimana menahan haus dan lapar seperti seperti orang-orang yang kelaparan di luar sana dan relationship skill atau kemampuan membangun hubungan dengan sesama,” jelasnya.

Dia menambahkan apabila nilai tersebut juga ditanamkan kepada anak sejak kecil, maka nilai-nilai kebaikan itu akan mengkristal dalam diri anak. Sehingga dapat membangun karakter anak hingga mereka beranjak dewasa.

“Misalnya mengajarkan berpuasa secara bertahap mulai dari buka jam 10 pagi, lanjut jam 12 siang, jam 2 siang, hingga anak kuat dan sanggup untuk bisa berpuasa sampai waktu maghrib dan secara penuh di bulan Ramadan,” katanya.

Menurutnya, kecerdasan emosi anak akan semakin terlatih dan sesuai dengan penelitian bahwa 80% kesuksesan seseorang dintentukan oleh Emotional Quotient atau kecerdasan emosi.

Dia bercerita berdasarkan penelitian dari Daniel Goleman, seorang ahli dan peneliti tentang kecerdasan emosi, pernah menguraikan bukti ilmiah tentang manfaat pengendalian diri. Daniel Goleman melakukan penelitian longitudinal tentang pentingnya mengendalikan diri sebagai salah satu kunci keberhasilan di masa depan.

Dalam penelitiannya, Goleman mengumpulkan anak-anak berusia empat tahun di taman kanak-kanak Standford dan menyuruh mereka untuk memasuki sebuah ruangan. Satu per satu dari anak-anak tersebut memasuki ruangan yang telah disediakan dan selanjutnya sebuah marshallow (permen) telah disiapkannya untuk menarik perhatian dan minat mereka.

Dia mengatakan kepada setiap anak yang masuk ke dalam ruangan bahwa, “kalian boleh memakan marshmallow ini jika menginginkannya, tetapi jika kalian bersabar untuk tidak memakannya sampai saya kembali ke dalam ruangan ini, Saya akan berikan lagi satu buah marshmallow sebagai bonusnya.”

Sebagian anak mampu menahan dirinya untuk tidak memakannya sampai Goleman kembali dan memberikan bonus kepada mereka. Sebagian lagi tidak sabar dan langsung memakan marshmallow yang sudah terhidang tanpa menunggu Goleman kembali.

Berdasarkan penelitian, setelah mereka berusia 20 tahunan, mereka tergolong orang yang sangat cerdas, berminat tinggi, dan lebih mampu berkonsentrasi. Mereka lebih mampu mengembangkan hubungan yang tulus dan akrab dengan orang lain, lebih handal dan bertanggungjawab, dan pengendalian dirinya lebih baik ketika menghadapi frustasi.

Sementara mereka yang langsung memakannya dan tidak bersabar menunggu Goleman kembali, cenderung tidak tahan menghadapi stress, mudah tersingung, mudah berkelahi, dan kurang tahan uji dalam mengejar cita-cita mereka. Dan di akhir usia 30 tahun mereka memiliki kemampuan kognitif dan kecakapan emosi yang rendah dibandingkan anak-anak yang tahan uji.

“Kisah anak-anak dan marshmallow mengajarkan kita makna tentang pentingnya pengendalian diri. Untuk itu, tidak jarang orang beropini bahwa mereka yang mengutamakan hawa nafsu dan akalnya tidak dapat dikendalikan dengan baik.

Pantau terus perkembangan Real Count KPU Pilpres 2019, di sini.

Simak berita lainnya seputar topik artikel ini, di sini :
Puasa

Editor : Mia Chitra Dinisari

Berita Terkait



Berita Terkini Lainnya

Top
Tutup