Ancaman Tuberkulosis di Indonesia Masih Tinggi

Indonesia tetap sebagai salah satu negara dengan beban berat Tuberkulosis (TB) di seluruh dunia.
Asteria Desi Kartika Sari | 15 Mei 2019 17:51 WIB
Pengidap tuberkulosis (TB) - tuberkulosis.org

Bisnis.com, JAKARTA-- Indonesia tetap sebagai salah satu negara dengan beban berat Tuberkulosis (TB) di seluruh dunia.

Hal tersebut mengingat dua pertiga dari 10 juta kasus TB baru pada 2017 berasal dari delapan negara termasuk Indonesia, yakni sebesar 8%.

Berdasarkan WHO Global Report 2018, Indonesia berada di peringkat tiga teratas di dunia dalam jumlah kasus TB secara umum dan menduduki ranking ke-7 untuk kasus DR-TB. Tingkat kejadian TB di negara ini dilaporkan mencapai 842.000 kasus dikarenakan tingkat kesadaran yang rendah dan keterbatasan akses terhadap diagnosis dan pengobatan.

Lebih lanjut, National TB Program (NTP) Kementerian Kesehatan R.I melaporkan bahwa dari 842.000 kasus TB tersebut, ternyata hanya 61% yang ternotifikasi. Insiden TB-MDR ada sekitar 23.000 pasien dimana hanya 4.400 diantaranya yang memiliki akses ke pengobatan.

Dan sebagian besar orang yang terkena dampak merupakan mereka yang berada pada kelompok usia produktif. Dampak penyakit ini, tidak hanya akan terbatas pada kesehatan mereka, tetapi juga status sosial dan ekonomi mereka.

Presiden Direktur PT Johnson & Johnson Indonesia Lakish Hatalkar mengatakan sejumlah inisiatif ‘End TB’ (akhiri TB) dan terus menjadi bagian penting dari upaya ini bekerja sama dengan pemerintah Indonesia melalui sejumlah program dan kemitraan.

"Kami telah terlibat dalam kemitraan publik-swasta (public-private partnership) dengan Komite TB Nasional dan organisasi profesi kesehatan sejak tahun 2015," katanya, Rabu (15/5/2019).

Dia mengatakan untuk meminimalkan kesenjangan atas temuan kasus serta akses terhadap diagnosis dan perawatan – sekaligus untuk meningkatkan dan mengembangkan keterampilan petugas kesehatan, praktisi, dan dokter, komitmen perusahaan tidak hanya dengan memberikan pengobatan terbaik berdasarkan pedoman WHO.

Namu hal lain yang perlu dilakukan yakni pengembangan kapasitas untuk para dokter dan petugas kesehatan seperti lokakarya tentang DR-TB, Training for Trainer untuk DR-TB dan Simposium DR-TB - dan yang lebih penting mendukung edukasi publik dan media.

Pantau terus perkembangan Real Count KPU Pilpres 2019, di sini.

Simak berita lainnya seputar topik artikel ini, di sini :
tuberkulosis

Editor : Mia Chitra Dinisari

Berita Terkait



Berita Terkini Lainnya

Top
Tutup