Mengapa Anak-anak Menggemari Repetisi, Bagaimana Membantu Mereka Belajar?

Anak-anak umumnya mengulang segala sesuatu yang dia sukai, misalnya mendengar cerita dan dongeng yang sama, makan menu yang sama untuk sarapan atau menonton film tertentu berulang-ulang.
Reni Lestari
Reni Lestari - Bisnis.com 17 Juli 2019  |  02:02 WIB
Mengapa Anak-anak Menggemari Repetisi, Bagaimana Membantu Mereka Belajar?
Ilustrasi - Webmd

Bisnis.com, JAKARTA - Anak-anak umumnya mengulang segala sesuatu yang dia sukai, misalnya mendengar cerita dan dongeng yang sama, makan menu yang sama untuk sarapan atau menonton film tertentu berulang-ulang.

Mengapa anak-anak demikian menyukai pengulangan atau repetisi? Dilansir dari Psycologi Today, Selasa (16/7/2019), preferensi yang berkembang akan sesuatu yang menjadi familiar dan berulang sebenarnya cukup umum pada bayi dan anak usia dini.

Preferensi ini mulai berkembang sebelum bayi lahir, di trimester ketiga kehamilan. Pada saat itu, janin dapat merasakan, mencium, dan mendengar, dan sebagai hasilnya, pada saat ini, mereka mulai mengembangkan preferensi familiar terhadap makanan ibu mereka dalam cairan ketuban yang melingkupinya.

Janin juga mengembangkan preferensi untuk suara-suara yang akrab, seperti suara suara ibu, bahasa, atau bahkan cerita-cerita yang sudah dikenal yang dibacakan dari luar. Tren ini berlanjut setelah mereka lahir, dan hanya setelah beberapa jam terpapar, bayi yang baru lahir mengembangkan preferensi cepat pada wajah ibu. Segera setelah itu, mereka mengembangkan preferensi untuk wajah secara umum, semua berdasarkan pada keakraban.

Jadi, tidak mengherankan bahwa anak-anak suka membaca buku yang sama, menonton film yang sama, dan menyanyikan lagu yang sama secara berulang setiap hari. Bahkan, ada bukti bahwa pengulangan ini bahkan mungkin mendukung pembelajaran.

Penelitian telah menunjukkan bahwa anak-anak belajar lebih baik dari membaca buku berulang kali daripada hanya membacanya sekali atau dua kali. Dalam satu studi, para peneliti mempresentasikan anak-anak berusia 3 tahun dengan kata-kata baru yang sama dalam tiga cerita selama seminggu. Kata-kata baru persis sama untuk semua anak, tetapi setengah dari anak-anak disajikan dengan kata-kata dalam cerita yang sama berulang tiga kali, sementara yang lain mendengar kata-kata yang sama dalam tiga cerita yang berbeda.

Anak-anak belajar kata-kata lebih baik ketika mereka mendengar cerita yang sama diulang daripada ketika mereka mendengar kata-kata yang sama disajikan dalam tiga cerita yang berbeda.

Tren yang sama telah ditemukan untuk bayi. Dalam penelitian serupa, para peneliti memberi buku cerita kepada anak-anak yang berusia 18 hingga 24 bulan yang merinci tindakan spesifik yang diperlukan untuk membuat dan mengguncang mainan mainan. Bayi membaca buku itu dua kali atau empat kali, dan para peneliti menemukan bahwa semakin banyak bayi membaca buku, semakin mereka meniru tindakan yang mereka pelajari.

Paparan berulang terhadap tindakan yang disajikan di televisi juga mengarah pada peniruan yang lebih sering.

Penelitian juga telah menunjukkan bahwa pengulangan dapat menjadi sangat penting untuk pembelajaran secara umum, terutama untuk ingatan (Hintzman, 1976) dan pembelajaran bahasa (Schwab & Lew-Williams, 2016).

Jadi, sementara orang dewasa dapat dengan mudah mengambil informasi baru dari satu kali pemaparan, ketika anak-anak meminta untuk menonton film yang sama yang telah mereka tonton ratusan kali atau membaca buku yang sama sebelum tidur untuk malam ke-10 berturut-turut, itu mungkin hanya karena mereka cara belajar alur cerita.

Walaupun mungkin membosankan atau bahkan menyebalkan untuk melakukan hal yang sama berulang-ulang, latihan ekstra ini mungkin hanya yang dibutuhkan anak-anak untuk mempelajari hal-hal baru.

Simak berita lainnya seputar topik artikel ini, di sini :
parenting

Editor : Sutarno

Berita Terkait



Berita Terkini Lainnya

Top