'Asterix: The Secret of The Magic Potion', Belum 'Ramah' Anak?

Film yang awalnya dikeluarkan di negara asalnya Perancis pada akhir tahun 2018 ini membukukan angka pendapatan yang fantastis yakni US$ 7 juta hanya dari 5 hari penayangannya disana.
Ria Theresia Situmorang
Ria Theresia Situmorang - Bisnis.com 29 Juli 2019  |  08:06 WIB
'Asterix: The Secret of The Magic Potion', Belum 'Ramah' Anak?
Cover Film Asterix: The Secret of The Magic Potion - Stumbli.com

Bisnis.com, JAKARTA - Setelah sempat menghilang beberapa tahun dari layar lebar, sekuel film Asterix, The Secret of the Magic Potion, yang diangkat dari buku anak-anak dengan judul yang sama, akhirnya akan kembali rilis di bioskop dalam waktu dekat. 

Film yang awalnya dikeluarkan di negara asalnya Perancis pada akhir tahun 2018 ini, membukukan angka pendapatan yang fantastis yakni US$ 7 juta hanya dari 5 hari penayangannya disana. 

Sehingga, label distribusi film internasional, Icon Film Distribution berupaya mengomersialisasikan film ini kembali dalam bahasa Inggris melalui proses perekaman suara yang dilakukan di Australia dan direncanakan akan rilis di Indonesia pada akhir bulan Juli ini. 

Film ini bercerita tentang perjalanan sejarah grup penyihir yang dipimpin Getafix bersama dengan Asterix dan Obelix, mencari penyihir penerus di kawasan Perancis lama yang dahulunya disebut Gaul, demi menggantikan penyihir Getafix di masa mendatang.

Seperti halnya premis film animasi anak pada umumnya, perjalanan mereka dihantui oleh sosok antagonis yakni Sulfurix yang mencoba untuk mencuri resep rahasia dari ramuan manusia super yang telah lama diracik oleh Getafix.

Menonton film ini sangat menyenangkan karena selain dimanjakan dengan ilustrasi animasinya dan juga bagian cerita yang mengutip sejarah Perancis di era kejayaan Romawi, film ini memiliki dialog komedi yang sangat kaya berikut juga dengan efek suaranya.

Disutradarai oleh duo Louis Clichy dan Alexandre Astier, film ini memang selayaknya ditonton oleh anak-anak daripada orang dewasa, karena beberapa adegannya dimetaforakan dengan sangat apik dalam bentuk animasi. 

Namun begitu, satu hal yang dianggap kurang dari film ini adalah alurnya yang sangat cepat sehingga untuk orang dewasa yang menontonnya harus berpikir lebih keras dan lebih cepat. Jadi, bayangkan jika film ini akan ditonton oleh anak-anak, mungkin mereka hanya menikmati efeknya tapi mencerna jalan ceritanya.

Dikutip dari situs review film rottentomatoes.com, meski beberapa kritikus luar negeri tak banyak memberikan komentar pedas untuk film ini, namun tak sedikit juga yang berujar kalau film ini bukan salah satu alternatif film anak yang 'butuh' untuk ditonton. 

"Film ini harusnya diperuntukkan bagi anak-anak sekolah, tapi mungkin yang ini bukan untuk mereka," ungkap Paul Byrnes dari Sydney Morning Herald. 

"Bukunya jauh lebih menakjubkan dan penuh integritas," tulis CJ Johnson dari ABC Radio.

Simak berita lainnya seputar topik artikel ini, di sini :
Film

Editor : Mia Chitra Dinisari

Berita Terkait



Berita Terkini Lainnya

Top