Bisnis.com
Epaper Bisnis Indonesia BIGStore Koran Bisnis Indonesia Bisnis Indonesia Group bisnis tv bisnismuda

Terobsesi Boba, Seorang Remaja Harus Dilarikan ke Rumah Sakit

Namun karena obsesi pada bubble tea, bukan tidak mungkin Anda bisa mencapai level pesakitan seperti yang dirasakan oleh remaja perempuan berusia 14 tahun asal China dengan 100 lebih boba di dalam ususnya
Ria Theresia Situmorang
Ria Theresia Situmorang - Bisnis.com 30 Juli 2019  |  10:14 WIB
Ilustrasi Boba atau Bubble Tea - tastingtable.com
Ilustrasi Boba atau Bubble Tea - tastingtable.com

Bisnis.com, JAKARTA – Tren minuman boba atau bubble tea memang sedang menjadi-jadi beberapa tahun terakhir.

Hal ini ditenggarai banyaknya millenials yang mengunggah foto minuman ini ke dalam media sosial miliknya.

Meskipun sudah mulai dikembangkan pada tahun 1980 di Taiwan, namun ketenarannya baru saja mencapai puncak beberapa tahun terakhir. Khususnya di Indonesia, hal ini ditenggarai oleh masuknya outlet minuman kekinian seperti Chatime, Koi, Gulu Gulu, Tiger Sugar hingga Diagon Alley.

Namun karena obsesi pada bubble tea, bukan tidak mungkin Anda bisa mencapai level pesakitan seperti yang dirasakan oleh remaja perempuan berusia 14 tahun asal China dengan 100 lebih boba di dalam ususnya.

Dikutip dari NDTV, remaja tersebut diharuskan untuk dirawat di unit gawat darurat setelah merasakan sakit luar biasa pada perutnya. Hal ini ternyata dikarenakan ia tidak mencerna boba dengan baik sehingga perutnya terlihat menggelembung akibat tidak buang air besar selama 5 hari.

CT scan yang dilakukan pada remaja tersebut menunjukkan ada lebih dari 100 boba yang berada di saluran pencernaannya termasuk usus hingga anusnya yang tersumbat tak mampu dikeluarkan.

Akumulasi dari boba yang ada di dalam jaringan pencernaannya adalah hasil dari banyaknya minuman boba yang ia konsumsi selama waktu yang beruntun.

Media China, Shaoxing News mengklaim boba adalah atau butiran tepung tapioka dalam minuman tersebut yang mengandung bahan makanan adiktif, pengental dan pengawet sehingga berbahaya untuk dikonsumsi terlalu banyak.

Maka dari itu, dokter menyarankan orang-orang untuk setidaknya mengunyah dan mencerna boba sebelum masuk ke dalam perut.

Jika memungkinkan, jangan mengonsumsi boba dalam waktu berdekatan karena dapat mengganggu saluran pencernaan.


Simak Video Pilihan di Bawah Ini :

Simak berita lainnya seputar topik artikel ini, di sini :

minuman
Editor : Mia Chitra Dinisari
Bisnis Indonesia bersama 3 media menggalang dana untuk membantu tenaga medis dan warga terdampak virus corona yang disalurkan melalui Yayasan Lumbung Pangan Indonesia (Rekening BNI: 200-5202-055).
Ayo, ikut membantu donasi sekarang! Klik Di Sini untuk info lebih lengkapnya.

Bergabung dan dapatkan analisis informasi ekonomi dan bisnis melalui email Anda.

Artikel Terkait



Berita Terkini Lainnya

BisnisRegional

To top