Lestarikan Budaya Lewat Tas Tenun Karo

Melestarikan kain tenun Karo dengan membentuknya menjadi tas adalah peluang baru menciptakan cinta budaya di kalangan wanita. Pelaku UMKM menilai, dengan memproduksi tas tenun Karo secara massal, maka akan mendekatkan kaum perempuan dengan budayanya.
Novita Sari Simamora
Novita Sari Simamora - Bisnis.com 08 Agustus 2019  |  03:06 WIB

Bisnis.com, JAKARTA--Melestarikan kain tenun Karo dengan membentuknya menjadi tas adalah peluang baru menciptakan cinta budaya di kalangan wanita. Pelaku UMKM menilai, dengan memproduksi tas tenun Karo secara massal, maka akan mendekatkan kaum perempuan dengan budayanya.

Konsep ini diusung oleh Loura Florentina Surbakti pada 2013 sejak menikah dan pindah ke Kota Medan. Dia memperhatikan banyak pemuda-pemudi Karo yang tidak memahami dan mengenali kain tenun Karo. Miris melihat kondisi tersebut, maka Loura yang juga bersuku Karo berinisiatif memproduksi tas kulit sapi dan kulit sintetis menggunakan motif tenun Karo.

"Pada awal memproduksi sempat kesulitan karena baru pindah dari Jawa dan sempat kesulitan menjadi bahan baku. Namun hanya berjalan setahun, dan bergerilya mencari bahan baku maka saya dapat bahan baku di Medan dengan harga murah. Sebelumnya, kulit sapi saya datangkan dari Bantul," ungkapnya kepada Bisnis, baru-baru ini.

Harga tas Loura dibandrol sekitar Rp500.000--Rp1.000.000. Tak bisa dipungkiri, dengan harga tersebut maka segmen pasar hanya kelas menengah ke atas. Menurutnya, harga tersebut mencerminkan kualitas, sebab produk yang dihasilkan menggunakan kain tenun asli juga.

Melihat banyaknya permintaan dari kelompok perempuan muda yang menginginkan harga lebih murah, maka Loura kembali mencari solusi. Caranya dengan menciptakan kain batik bermotif tenun Karo dan menggunakan kulit sintetis.

Setelah melakukan inovasi dari sisi bahan baku, maka terbentuklah harga tas etnik sekitar Rp200.000 per produk. Dia mengatakan, harga tersebut sudah bisa dijangkau oleh banyak seluruh kalangan. Meskipun harga menjadi murah, Loura tetap memperhatikan kualitas jahitan dan aksesoris pada tas untuk menjamin mutu.

Selain menciptakan desain sendiri, Loura menuturkan, bahwa bisa memproduksi sesuai dengan desain yang diinginkan oleh pembeli (costum). Baginya, fleksibilitas akan menambah orderan dan semakin memanjakan konsumen.

Setelah dua tahun memproduksi tas etnik, Dinas Koperasi Sumatra Utara memberikan perhatian kepada pelaku UMKM seperti Loura. Maka pemerintah memberikan galeri dalam setiap pameran. Kesempatan dari pemerintah menjadi pemantik untuk semakin dikenal.

Kini omset tas etnik yang dimiliki Loura sekitar Rp30 juta per bulan. Dia menambahkan, pangsa pasar tak hanya terbatas pada masyarakat yang bersuku Karo, tetapi sudah seluruh etnis yang ingin mengenal budaya di Sumatra Utara.

Dia mengatakan, saat ini tren kain Bali, Sumba dan tenun Flores pun menjadi menarik di mata masyarakat, khususnya di zaman yang serba mudah dalam mempromosikan beraneka macam produk. Kecanggihan teknologi ini pun menjadi peluang baik bagi untuk menjaga dan melestarikan budaya Karo, dan menghasilkan cuan baginya.

Simak berita lainnya seputar topik artikel ini, di sini :
tenun

Editor : Mia Chitra Dinisari

Berita Terkait



Berita Terkini Lainnya

Top