Protes Kekerasan Terhadap Perempuan, Seniman Tempel 440 Pasang Sepatu di Gedung Tinggi di Turki

Seniman Turki Vahit Tuna memasang 440 pasang sepatu hak tinggi di dinding bangunan di satu jalan Istanbul yang sibuk. Ratusan pasang sepatu itu untuk melambangkan jumlah wanita yang terbunuh dalam kekerasan rumah tangga dan seksual di Turki pada 2018.
Reni Lestari
Reni Lestari - Bisnis.com 26 September 2019  |  06:54 WIB
Protes Kekerasan Terhadap Perempuan, Seniman Tempel 440 Pasang Sepatu di Gedung Tinggi di Turki
sumber: Reuters

Bisnis.com, JAKARTA - Seniman Turki Vahit Tuna memasang 440 pasang sepatu hak tinggi di dinding bangunan di satu jalan Istanbul yang sibuk.

Ratusan pasang sepatu itu untuk melambangkan jumlah wanita yang terbunuh dalam kekerasan rumah tangga dan seksual di Turki pada 2018.

"Kami berdiri di jalan sekarang dan mungkin orang dihadapkan dengan karya seni untuk pertama kalinya, luka terbuka dan berdarah untuk pertama kalinya. Saya percaya ini berdampak," kata Tuna, dilansir Reuters, Rabu (25/9/2019).

Dia berharap instalasi itu akan menciptakan kesadaran dan dan membuat orang-orang berpikir tentang kekerasan rumah tangga dan seksual.

Di Turki, ada tradisi menempatkan sepatu seseorang yang meninggal di luar pintu masuk. Karya seni ini meliputi area seluas 260 meter persegi.

"Terus terang, saya tidak merasa aman di jalanan dan ini sangat buruk. Ada 440 pasang sepatu di sini dan itu berarti banyak nyawa telah hilang pada 2018. Ini sangat mengecewakan," kata bankir Turki Serap Kilic.

Bankir lain, Hilal Koseoglu mengatakan selama semua orang diam, kekerasan terhadap perempuan akan meningkat. Hal ini menurutnya bukan hanya tentang pembunuhan terhadap wanita tetapi juga kekerasan yang membungkam dan menekan kaum hawa di Turki.

Sekitar 440 wanita terbunuh pada tahun di Turki, menurut sebuah laporan yang diterbitkan oleh Kadin Cinayetlerini Durduracagiz Platform, "We Will Stop Femicide Platform", yang menyimpan catatan tentang pembunuhan. Platform ini juga melaporkan bahwa 49 wanita dibunuh oleh pria pada Agustus 2019 saja.

Simak berita lainnya seputar topik artikel ini, di sini :
kekerasan perempuan, turki

Editor : Mia Chitra Dinisari
KOMENTAR


0   Komentar

Berita Terkait



Berita Terkini Lainnya

Top