Hindari Limbah, Batik Tembayat Ajak Pakai Pewarna Alami

Untuk menghindari limbah pewarna tekstik, maka Batik Tembayat kian gencar mengajak pembatik dan masyarakat untuk menggunakan pewarna alami.
Novita Sari Simamora
Novita Sari Simamora - Bisnis.com 02 Oktober 2019  |  11:19 WIB
Hindari Limbah, Batik Tembayat Ajak Pakai Pewarna Alami
Batik Tembayat - Instagram @tembayat

Bisnis.com, JAKARTA -- Untuk menghindari limbah pewarna tekstik di tanah, maka Batik Tembayat kian gencar mengajak pembatik dan masyarakat untuk menggunakan pewarna alami.

Pendiri Batik Tembayat, Gina Sutono mengatakan bahwa ia menggandeng generasi muda untuk menggali kekayaan yang ada di tiap-tiap daerah. Aktivitas menggandeng pemuda itu bertujuan meregenerasi pembatik yang telah tua.

Gina sempat memberikan workshop kepada beberapa kelompok pemuda, tetapi hanya ada satu orang saja yang bertahan. Ia pun tak patah semangat dan kembali melakukan workshop untuk menjaring pemuda-pemuda.

"Pengrajin batik sudah banyak yang sepuh dan butuh generasi muda. Selain itu, pembatik muda kami ajarkan untuk menggunakan warna alam, untuk menjaga lingkungan," ungkapnya baru-baru ini.

Bahan pewarna alami yang bisa digunakan pada batik adalah rumput malu, kayu jati, kayu nangka, kunyit, daun teh, daun alpukat. Melalui pelatihan tersebut, masyarakat dan pembatik mulai menyadari dan menghindari penggunaan pewarna tekstil. Sebab, pewarna tekstil yang dibuang ke tanah bisa menjadi limbah di tanah.

Setelah meningkatkan kesadaran masyarakat untuk menggunakan pewarna alami, aktivitas yang dilakukan Gina diapresiasi oleh banyak pihak.

Rahardi Ramelan, Ketua Yayasan Batik Indonesia mengungkapkan, 2 Oktober adalah Hari Batik Nasional. Batik Indonesia telah diakui dan ditetapkan sebagai Budaya Tak Benda Warisan Manusia oleh UNESCO dan atas dasar itulah maka tanggal tersebut ditetapkan sebagai Hari Batik Nasional.

Untuk menyambut Hari Batik Nasional, maka penggunaan warna alam menjadi penting. Pemikiran menggunakan warna ini muncul di dalam negeri dan luar negeri.

Saat ini, negara-negara maju memiliki pemikiran ekolabel. Ekolabel adalah tanda pada suatu produk yang memberikan keterangan kepada konsumen bahwa produk tersebut memberikan dampak negatif yang lebih kecil terhadap lingkungan.

Pemikiran ekolabel tersebut muncul pada kain-kain. Kain yang digunakan oleh masyarakat diharapkan memberikan dampak yang positif pada kulit dan menghasilkan warna alam.

"Kalau batik Indonesia ekolabel maka warisan budaya Indonesia bisa menembus pasar internasional. Sebab, untuk menembus pasar ekspor harus memperoleh ekolabel," tutur Rahardi.

Simak berita lainnya seputar topik artikel ini, di sini :
batik

Editor : M. Taufikul Basari
KOMENTAR


0   Komentar

Berita Terkait



Berita Terkini Lainnya

Top