Hati-hati! Depresi Bisa Berujung Bunuh Diri

Gejala depresi dapat dilihat dari 3 aspek yakni afek, kognitif, dan fisik. Gejala depresi pada Afek dapat ditandai dengan kondisi emosional sedih, hilangnya minat, iritabilitas, apatis, anhedonia, tak bertenaga, tak bersemangat, isolasi sosial.
Ria Theresia Situmorang
Ria Theresia Situmorang - Bisnis.com 08 Oktober 2019  |  16:38 WIB
Hati-hati! Depresi Bisa Berujung Bunuh Diri
Ilustrasi depresi - Reuters/Brendan McDermid

Bisnis.com, JAKARTA – Konsekuensi seseorang apabila depresi tak tertangani, akan meningkatkan risiko bunuh diri. Demikian diingatkan Sekretaris PP Perhimpunan Dokter Spesialis Kedokteran Jiwa Indonesia (PDSKJI) dr. Agung Frijanto.

Oleh karena itu, dia mengimbau masyarakat agar mampu melakukan upaya pencegahan kalau ada anggota keluarga yang mengalami gejala depresi.

Gejala depresi dapat dilihat dari tiga aspek yakni afek (perubahan perasaan karena tanggapan dalam kesadaran seseorang), kognitif, dan fisik. Gejala depresi pada afek dapat ditandai dengan kondisi emosional sedih, hilangnya minat, iritabilitas, apatis, anhedonia, tak bertenaga, tak bersemangat, dan isolasi sosial.

Gejala depresi secara kognitif dapat dicirikan dengan rendah diri, konsentrasi menurun, daya ingat menurun, ragu-ragu, rasa bersalah, ide bunuh diri. Selain itu, secara fisik dapat dilihat dari psikomotor menurun, fatigue, gangguan tidur, gangguan nafsu makan, dan hasrat seksual menurun.

“Puskesmas di layanan primer punya peran penting dalam pelayan jiwa. Dalam sistem rujukan JKN kita tempatkan di rumah sakit umum dan rumah sakit jiwa,” kata dr. Agung Senin (7/10/2019) seperti dikutip dari siaran pers Kementerian Kesehatan.

Dr. Agung menambahkan setiap orang perlu meningkatkan kepedulian antar sesama. Peran keluarga dirasa sangat penting dalam hal mencegah depresi lebih parah.

Tak hanya dalam keluarga, upaya pencegahan harus juga dilakukan di lingkungan lain seperti sekolah.

“Poinnya bagaimana memberikan pemahaman kepada orangtua dan guru-guru di sekolah dasar. Pada kondisi remaja atau SMP/SMA kita bisa melakukan deteksi dini, kita bagikan instrumen atau daftar pertanyaan untuk mengetahui apakan remaja tersebut depresi atau tidak,” kata dr. Agung.

Dirjen Pencegahan dan Pengendalian Penyakit Kemenkes dr. Anung Sugihantono mengatakan dalam 10 tahun terakhir perilaku bunuh diri karena depresi telah mencapai angka yang kritis.

Organisasi Kesehatan Dunia (WHO) menyebutkan secara global lebih dari 800.000 orang meninggal setiap tahunnya atau sekitar 1 orang setiap 40 detik akibat bunuh diri.

Tingkat prevalensi angka bunuh diri di negara berpenghasilan tinggi ternyata lebih tinggi dibandingkan dengan di negara berpenghasilan rendah atau menengah (12,7% : 11,2% per 100.000 populasi). Contoh tiga negara terbesar akan kasus bunuh diri per 100.000 populasi yaitu diantaranya Guyana, Korea Selatan, dan Sri Lanka.

“Namun, di Indonesia belum ada angka prevalensi nasional. Menurut penelitian dikatakan bahwa angka bunuh diri di kota Jakarta pada 1995 - 2004 mencapai 5,8/100.000 penduduk. Begitu pun laporan dari WHO pada 2010 menyebutkan angka bunuh diri di Indonesia mencapai 1,6 hingga 1,8% per 100.000 jiwa,” ucap dr. Anung.

Program pencegahan yang dapat dilakukan di lingkungan sektor kesehatan di antaranya meningkatkan kapasitas petugas kesehatan dan kader dalam bentuk deteksi dini, intervensi krisis, manajemen gangguan jiwa, mengembangkan klinik sehat jiwa di puskesmas, pelatihan kader, serta pengembangan Posyandu Lansia Plus.

Simak berita lainnya seputar topik artikel ini, di sini :
kesehatan, bunuh diri, Depresi

Editor : M. Syahran W. Lubis
KOMENTAR


0   Komentar

Berita Terkait



Berita Terkini Lainnya

Top