LIFEs 2019 Salihara Hadirkan Seniman Indonesia dan Indo-Belanda

Komunitas Salihara mempersembahkan Literature and Ideas Festival (LIFEs) atau Festival Sastra dan Gagasan 2019. Tahun ini melalui tema "My Story, Shared History" (Kisahku, Sejarah Bersama), Komunitas Salihara menekankan hubungan Indonesia dan Belanda.
Reni Lestari
Reni Lestari - Bisnis.com 08 Oktober 2019  |  16:09 WIB

Bisnis.com, JAKARTA - Komunitas Salihara mempersembahkan Literature and Ideas Festival (LIFEs) atau Festival Sastra dan Gagasan 2019. Tahun ini melalui tema "My Story, Shared History" (Kisahku, Sejarah Bersama), Komunitas Salihara menekankan hubungan Indonesia dan Belanda.

Festival tahun ini mengajak penulis dan pembaca merayakan keragaman cerita individu dalam rangka mengisi ruang-ruang kosong dalam sejarah besar bangsa dan antar bangsa. Melalui hal-hal tersebut festival ini hendak menawarkan aspek edukasi sastra untuk generasi muda.

Selain itu, gelaran tahunan ini juga mempertemukan penulis muda Indonesia dan enam seniman keturunan Indo-Belanda untuk berkolaborasi menampilkan sejumlah pertunjukan dan pameran.

Felix K. Nesi, penulis novel Orang-Orang Oetimu yang memenangkan Sayembara Novel DKJ 2018 berkolaborasi dengan Armando Ello, fotografer Belanda keturunan Timor. Mereka akan menceritakan kisah keluarga Timor dan Rote di luar sudut pandang yang kita ketahui dari sejarah Timor.

Ayu Utami, Direktur Festival menjelaskan bahawa selain Felix K. Nesi dan Armando Ello, masih ada banyak penampilan kolaboratif berlatar sejarah kolonial mengenai pencarian identitas, cerita keluarga (leluhur) dan personal yang tak kalah menarik dibanding narasi besar sejarah. Kolaborasi penulis Indonesia dan seniman Indo-Belanda yang menawarkan micro-history ini adalah langkah awal memulai penulisan sejarah yang lebih inklusif.

"Bersama para seniman yang berkolaborasi tersebut kita juga akan mendiskusikan hal-hal seperti bagaimana menceritakan kisah keluarga dengan menarik? Bagaimana menempatkan kisah fiksi di dalam fakta? Sampai bagaimana mementaskan arsip dan dokumentasi sejarah, supaya dapat diterima oleh generasi muda?," katanya dalam konferensi pers di Komunitas Salihara, Jakarta, Selasa (8/10/2019).


Rangkaian acara juga meliputi kompetisi Debat Sastra tingkat SMA, yang mengajak para pelajar membandingkan dua karya sastra dari penulis Indonesia dan Belanda. Tim Juri pun telah memilih tiga kelompok dari sekitar 80 sekolah yang mendaftar untuk bertanding di Final Kompetisi Debat Sastra, acara debat kreatif tingkat SMA yang tidak akan bisa ditemukan di acara cerdas-cermat pada umumnya.

"Untuk aspek pendidikan ini kami juga menyelenggarakan workshop dan peluncuran animasi Peta Sastra Kebangsaan untuk memperkenalkan sastra kepada generasi muda dengan cara yang lebih kekinian. Nilai edukasi dan wawasan yang kami tawarkan sesungguhnya sangat penting mengingat betapa sastra kurang dipelajari dan tidak diperhatikan di dalam sistem pendidikan kita hari ini," jelasnya.

Selain itu, LIFEs 2019 juga menghadirkan Starry, Story Night, pembacaan karya oleh bintang sastra generasi muda hari ini yang dilanjutkan Makan Malam Sastra bernuansa Indonesia tempo dulu. Penampilan grup musik puisi Poétique Ensemble yang ekspresif asal Prancis. Serta pembacaan naskah tentang isu ekonomi pada akhir 1990-an oleh Indonesia Dramatic Reading Festival (Yogyakarta).

Ada juga workshop Membuat Sampul Album Digital Dialita di mana peserta merancang ilustrasi album dan menulis teks penjelasan berdasarkan lagu-lagu yang berisi kesaksian dan pengalaman ibu-ibu Dialita, penyintas Tragedi 1965. Tak ketinggalan diskusi seru tentang Sastra Indische, salah satu babak yang terlupakan di dalam sastra Indonesia.

LIFEs ditutup dengan Keynote Speech oleh Hilmar Farid, Direktur Jenderal Kebudayaan di Kementerian Pendidikan dan Kebudayaan dan Nancy Jouwe, pengajar dan peneliti asal Belanda yang sebenarnya berasal dari keluarga Papua. Setelah itu kami mengundang anda mengikuti Dendang Arsip Nusantara, kolaborasi Pemuda Sinarmas dan Sastra Lintas Rupa. Mereka menghadirkan arsip-arsip sastra Indonesia dalam bentuk proyeksi visual dan diiringi dengan lagu-lagu Indonesia 1970-1980an yang diolah menjadi format musik berdansa.

Ayu menjelaskan LIFEs hendak memberi ruang luas pada keragaman cerita dan membikin sejarah menjadi lebih menarik, sehingga masyarakat pun tidak perlu berkelahi karena perbedaan versi sejarah.

"Pemahaman sejarah yang berawal dari kisah pribadi atau keluarga punya tujuan untuk membangun sikap yang lebih terbuka sekaligus kokoh dalam menerima perbedaan, keragaman, serta saling memperkaya wawasan dan perspektif kita," imbuhnya.

Sejumlah acara di LIFEs 2019 bekerja sama dengan Dutch Culture dan Indisch Herinneringscentrum yang mendukung pertukaran seniman Indonesia-Belanda, sehingga pelbagai pertunjukan kolaborasi di LIFEs 2019 bisa tercipta. LIFEs berlangsung selama 12-20 Oktober 2019 di Komunitas Salihara.

Simak berita lainnya seputar topik artikel ini, di sini :
sastra Indonesia

Editor : Mia Chitra Dinisari
KOMENTAR


0   Komentar

Berita Terkait



Berita Terkini Lainnya

Top