Meneropong Masa Depan Peluang Kerja

Teknologi membawa pergeseran arus pekerjaan karena kebutuhan-kebutuhan nantinya bisa dipenuhi secara lokal dan mandiri, sehingga industri besar akan sangat terdampak.
Reni Lestari
Reni Lestari - Bisnis.com 09 Oktober 2019  |  19:40 WIB
Meneropong Masa Depan Peluang Kerja
/Bisnis/Reni Lestari

Bisnis.com, JAKARTA - Bayangkan Anda hidup di sebuah dunia dimana orang-orang bisa memenuhi kebutuhan akan barang-barang secara mandiri.

Jika butuh sepeda motor misalnya, pergilah ke sebuah pabrik yang dimiliki komunitas masyarakat, lalu belilah lisensi desain yang diinginkan, ubah dan lakukan penyesuaian, lalu mulailah produksi di suatu mesin multifungsi yang bisa menghasilkan banyak barang.

Bayangkan Anda tidak melakukan itu untuk diri sendiri, tetapi untuk komunitas, masyarakat satu desa, bahkan kota. Maka akan muncul usaha-usaha kecil menengah di bidang teknologi, supply chan menjadi lebih sederhana, dan ekonomi akan jadi lebih efisien.

Namun demikian, jangankan di Indonesia, di negara lain di dunia pun masih jarang yang mempunya visi semaju itu.

Ilham Habibie, Pendiri Habibie Center mengatakan, masyarakat dunia bisa menengok komitmen pemerintah kota Barcelona.

Pada 2014, kota itu bertekad dalam 30 tahun ke depan akan bisa memenuhi segala kebutuhannya secara mandiri, termasuk makanan.

"Untuk itu perlu teknologi. Maka lahirlah usaha kecil menengah, dia kecil tetapi lebih visible karena teknologi memungkinkan hal itu," katanya.

Dia melanjutkan, tentu untuk menyongsong era yang paling utama adalah sumber daya manusia yang berkualitas. Tidak semua orang harus menjadi programmer, misalnya, tetapi paling tidak masyarakat harus memiliki dasar-dasar keterampilan yang cukup untuk hidup berdampingan dengan teknologi. 

Tentu saja teknologi juga membawa pergeseran arus pekerjaan. Karena kebutuhan-kebutuhan nantinya bisa dipenuhi secara lokal dan mandiri, industri besar tentu akan sangat terdampak. Namun Ilham menyebutnya sebagai job shift, bukan job loss.

"Dunia kerja sedang dan akan makin lama mengalami perubahan dan dibawa oleh teknologi," lanjutnya.

Lebih lanjut, pada rentang waktu yang lebih dekat, disrupsi teknologi terhadap jenis pekerjaan juga perlu menjadi perhatian. Misalnya, pekerjaan sebagai youtuber atau blogger yang saat ini sudah menjadi cita-cita anak muda, belum terpikirkan pada 10 tahun ke belakang.

Demikian pula dengan 10 tahun ke depan, mungkin akan muncul berbagai macam pekerjaan yang belum terpikirkan saat ini.

Salah satu pendiri Habibie Festival Sachin Gopalan menjelaskan, perlu ada ruang dialog antara industri pendidikan, pembuat kebijakan, dan yang terpenting orang tua serta siswa.

Kualifikasi pendidikan untuk memenuhi tuntutan kebutuhan kerja di masa mendatang adalah tantangan yang harus diselesaikan.

Jika tidak, hal ini akan menumbuhsuburkan kekurangan lapangan kerja dan pengangguran di masa mendatang, hal yang terjadi di Indonesia dan negara berkembang lain seperti India.

"Ini hanya bisa diselesaikan kalau ada dialog antara orang tua dan murid, dengan industri, which is the final destination, tetapi di tengah eduaction industry," jelasnya.

Menyadari pentingnya isu tersebut, Habibie Festival tahun ini bermitra dengan Economic Forum untuk merepresentasikan secara perdana Indonesia Education Forum. Wadah yang terdiri dari konferensi, pameran, lokakarya dan program pelatihan ini akan mempertemukan orang tua dan siswa, serta industri pendidikan.

Habibie Festival 2019

Orbit Habibie Festival, untuk keempat kalinya diselenggarakan di Jakarta. Diadakan pada 17 hingga 19 Oktober 2019 di Jakarta International Expo, Kemayoran, Jakarta. Tidak seperti tahun-tahun sebelumnya, festival pada 2019 ini hanya digelar di Jakarta saja, dengan mengambil tema The Future of Learning, Work, Play and Living.

Habibie Festival menghadirkan talkshow, show-and-tell presentations, diskusi panel, mini seminar, lokakarya, festival kuliner, dan sesi pelatihan. Juga mencakup berbagai sektor mulai dari teknologi baru dari Robotika, Internet of Things, Drone, AI, Virtual Reality, Gaming hingga industri tradisional Aerospace, Otomotif, Telekomunikasi, Pertahanan, Manufaktur, Pertanian, Perbankan, Fintech, Hiburan dan Pendidikan.

Festival ini memiliki jangkauan digital lebih dari 20 juta orang di seluruh Indonesia. Ketika masyarakat Indonesia bersiap untuk revolusi digital, Orbit Habibie Festival juga memperhatikan masa depan.

Maka, tak sekadar seremonial semata, festival ini diharapkan mampu membangun sumber daya manusia masa depan Indonesia untuk lebih siap menuju era disrupsi.

Simak berita lainnya seputar topik artikel ini, di sini :
ilham akbar habibie, lowongan kerja

Editor : Rustam Agus
KOMENTAR


0   Komentar

Berita Terkait



Berita Terkini Lainnya

Top