Bisnis.com
Epaper Bisnis Indonesia BIGStore Koran Bisnis Indonesia Bisnis Indonesia Group

WHO : Anak-anak di Dunia Kurang Beraktivitas Fisik

Penelitian terbaru dari World Health Organization (WHO) menemukan bahwa mayoritas anak berusia 11 hingga 17 tahun di dunia tidak memenuhi tingkat aktivitas fisik yang diperlukan untuk menjaga kesehatan mereka.
Syaiful Millah
Syaiful Millah - Bisnis.com 25 November 2019  |  14:40 WIB
Anak Sekolah Siswa SD Inpres Deranitan berebut air minum seusai bermain bola di desa Dolasin, Rote Barat Daya, Nusa Tenggara Timur. - Antara
Anak Sekolah Siswa SD Inpres Deranitan berebut air minum seusai bermain bola di desa Dolasin, Rote Barat Daya, Nusa Tenggara Timur. - Antara

Bisnis.com, JAKARTA – Penelitian terbaru dari World Health Organization (WHO) menemukan bahwa mayoritas anak berusia 11 hingga 17 tahun di dunia tidak memenuhi tingkat aktivitas fisik yang diperlukan untuk menjaga kesehatan mereka.

Studi yang dipublikasikan melalui jurnal The Lancet Child & Adolesecent Health tersebut didasarkan pada data laporan dari 1,6 juta siswa di 146 negara dengan rentang usia sekolah, 11-17 tahun tahun.

Hasilnya, ditemukan bahwa lebih dari 80 persen remaja yang bersekolah tidak memenuhi rekomendasi saat ini untuk beraktivitas fisik, yakni minimal 1 jam per hari. Jumlah tersebut, meliputi persentase 85 persen bagi anak perempuan dan 78 persen anak laki-laki.

Para penulis studi mengatakan bahwa tingkat aktivitas fisik yang tidak memadai pada anak-anak dan remaja terus meningkat dari tahun ke tahun. Hal tersebut akan berbahaya bagi masa depan si anak.

Sementara itu, manfaat kesehatan dari gaya hidup aktif secara fisik selama masa remaja sangat banyak. Misalnya, kebugaran kardiorespirasi dan otot, kesehatan tulang dan kardiometabolik, serta efek positif pada berat badan.

“Tindakan kebijakan mendesak untuk dilakukan dalam rangka meningkatkan aktivitas fisik, terutama untuk partisipasi anak perempuan,” kata Regina Guthold, penulis studi seperti dikutip laman resmi WHO, Senin (25/11/2019).

Penulis lainnya, Leanne Riley, menambahkan kecenderungan anak perempuan menjadi kurang aktif dibandingkan dengan anak laki-laki merupakan sebuah keprihatinan. Menurutnya, perempuan lebih baik memiliki aktivitas fisik yang lebih intens untuk tubuh yang lebih sehat.

Dia menyarankan, pemerintah perlu mengidentifikasi dan mengatasi banyak penyebab dan ketidaksetaraan di berbagai sektor, seperti sosial, ekonomi, budaya, teknologi, dan lingkungan tanpa harus mengorbankan hak beraktivitas anak-anak.

“Negara harus mengembangkan atau memperbarui kebijakan mereka dan mengalokasikan sumber daya yang diperlukan. Kebijakan harus meningkatkan semua bentuk aktivitas fisik, termasuk melalui pendidikan jasmani. Misalnya literasi fisik, lebih banyak olahraga, dan kesempatan bermain aktif dan rekreasi,” katanya.

Hal tersebut, senada dengan rekomendasi akhir dari studi ini yang mencakup 2 hal. Pertama, diperlukan kebijakan strategis dan efektif untuk meningkatkan aktivitas fisik pada remaja. Kedua, diperlukan tindakan multisektoral untuk menawarkan berbagai kesempatan bagi kaum muda untuk aktif, termasuk pendidikan, perencanaan kota, keselamatan jalan, dan lain-lain.

Simak berita lainnya seputar topik artikel ini, di sini :

anak who
Editor : Akhirul Anwar
Bisnis Indonesia bersama 3 media menggalang dana untuk membantu tenaga medis dan warga terdampak virus corona yang disalurkan melalui Yayasan Lumbung Pangan Indonesia (Rekening BNI: 200-5202-055).
Ayo, ikut membantu donasi sekarang! Klik Di Sini untuk info lebih lengkapnya.

Bergabung dan dapatkan analisis informasi ekonomi dan bisnis melalui email Anda.

Artikel Terkait



Berita Terkini Lainnya

Terpopuler

Download Aplikasi E-Paper sekarang dan dapatkan FREE AKSES selama 7 hari!
qrcode bisnis indonesia logo epaper

BisnisRegional

To top