Review Film : Nanti Kita Cerita Tentang Hari Ini

Sangat wajar apabila ada penonton yang menangis menyaksikan film ini. Secara ajaib, Anda dibawa mengenang bagaimana sosok ayah di keluarga. Film ini memang bikin haru.
Rayful Mudassir
Rayful Mudassir - Bisnis.com 08 Januari 2020  |  23:33 WIB
Review Film : Nanti Kita Cerita Tentang Hari Ini
Foto: IMDb

Bisnis.com, JAKARTA - Angga Dwimas Sasongko belum habis akal untuk mengaduk emosi penonton Tanah Air. Setelah Keluarga Cemara, dia kembali menelurkan film anyar Nanti Kita Cerita Tentang Hari ini alias NKCTHI di pekan pertama 2020. 

Film ini diadaptasi dari buku berjudul sama karya Marchella FP. Berbeda dengan adaptasi film lainnya, buku NKCTHI hanya berisikan kata-kata quotable.

Pesan-pesan menyentuh di dalam buku ini kemudian dijadikan sebuah skenario berwujud cerita utuh. Rio Dewanto, Sheila Dara Aisha, Rachel Amanda, Susan Bachtiar, hingga Okan Antara dijadikan pemain dalam film ini.

Hasilnya dapat dilihat dari jumlah orang yang menyaksikan film bergenre keluarga tersebut. 

NKCTHI menceritakan tentang keluarga Naredra (Donny Damara/Okan Antara) dan Ajeng (Susan Bachtiar/Niken Anjani). Mereka dikaruniai tiga orang anak yaitu Angkasa (Rio Dewanto), Aurora (Sheila Dara Aisha) dan Awan (Rachel Amanda).

Sebagai Kepala keluarga, Narendra terbiasa melakukan banyak hal untuk kebahagiaan anaknya. Terutama untuk Awan, anak bungsu di keluarga ini. Sejak kecil Awan mendapat apapun yang diinginkan oleh orang tuanya, bukan yang diinginkannya. 

Perlahan, Awan menyadari itu setelah bertemu dengan Kale (Ardhito Pramono). Dari pria itu, Awan mengetahui tentang dunia luar dan akhirnya mampu membuat keputusan sendiri.

Perhatian Narendra yang hanya terfokus pada Awan, menjadikan kebahagiaan Aurora dan Angkasa terasingkan. Keluarga ini kian tak harmonis setelah sang ayah ternyata sejak lama memendam luka dalam keluarga. 

Film ini menceritakan tentang keinginan orang tua yang tak sejalan dengan pilihan anak. Acap kali orang tua hanya memberikan apa yang dianggapnya benar untuk membahagiakan buah cintanya. Padahal belum tentu benar.

Secara umum, NKCTHI mampu mengaduk emosi penontonnya. Dengan pilihan alur maju mundur, Angga Dwimas Sasongko berusaha menyampaikan pesan lewat ekspresi para pemain. Salah satu yang paling berhasil disampaikan oleh Aurora dengan jelas.

Cukup mudah mendapati makna dari ekspresi atau raut muka para pemeran. Ditambah lagi dengan komposisi lagu latar yang dimainkan. Lagu-lagu Isyana Sarasvati, Tulis, dan Hindia serasa masuk dalam cerita.

Karya ini terlihat lebih luar biasa jika Anda telah membaca buku NKCTHI. Buku berisikan kisah flash fiction ini hanya berupa rangkaian kata-kata indah. Hanya butuh waktu satu jam untuk menyesaikan buku ini. Saya jamin.

Karya Marchella FP ini juga menjadi salah satu buku self improvement paling laris sepanjang 2019 menurut catatan Gramedia. Menariknya, Angga Dwimas memasukkan kalimat-kalimat di dalamnya menjadi percakapan di dalam film. Indah sekali.

Selain Angga, pujian juga layak diberikan kepada Jenny Jusuf dan Melarissa Sjarief. Mereka boleh dibilang berperan langsung dalam menyusun cerita hingga layak ditonton keluarga Indonesia.

Akan tetapi memang tak ada yang sempurna. Beberapa scene dalam film terkesan dipaksakan. Seperti saat pertemuan pertama Awan dengan Kale.

Dalam perjumpaan itu, Awan mendapat banyak petuah dari Kale tentang keresahan gadis itu. Saat momen ini, durasinya perbincangan keduanya terlampau lama. Padahal di menit-menit awal, penonton sudah paham maksudnya.

Selain itu, pertemuan keluarga pascapameran Aurora juga terkesan kepalang tanggung. Momen ini agaknya layak menjadi klimaks menuju akhir cerita. Tapi di sini rasanya biasa-biasanya. Jujur saja, saya mengharapkan lebih pada scene ini.

Akan tetapi, dengan berbagai catatan yang ada, NKCTHI tetap layak untuk ditonton. Film ini terasa cukup nyata terjadi di kehidupan masyarakat.

Sangat wajar apabila ada penonton yang menangis menyaksikan film ini. Secara ajaib, Anda dibawa mengenang bagaimana sosok ayah di keluarga. Film ini memang bikin haru.

Situs IMDb memberikan nilai 7,9 untuk film ini. Sementara itu Cinepoint memberi angka 8 untuk karya tersebut. Berbeda dengan dua penilaian itu, filmindonesia.or.id memberikan angka 10/10 untuk karya tersebut.

Sejak penayangannya pada 2 Januari 2020, NKCTHI telah disaksikan setidaknya hingga 850.000 pada hari keenam. Dengan asumsi pendapatan kotor tiap penonton mencapai Rp40.000, maka film ini telah meraup sekitar Rp35 miliar. 

Bukan tak mungkin Nanti Kita Cerita Tentang Hari Ini dapat tembus ke angka 1 juta mengingat antusiasme film ini masih cukup tinggi. 

Simak berita lainnya seputar topik artikel ini, di sini :
Film

Editor : Miftahul Ulum
KOMENTAR


Berita Terkait



Berita Terkini Lainnya

Top