Peringatan Hari Kanker Sedunia, RSCM Resmikan Pelayanan Kanker Terpadu

RS Cipto Mangunkusumo meresmikan Pelayanan Kanker Terpadu (PKaT) untuk meningkatkan kualitas pelayanan bagi penderita kanker di Indonesia.
Gloria Fransisca Katharina Lawi
Gloria Fransisca Katharina Lawi - Bisnis.com 04 Februari 2020  |  12:03 WIB
Peringatan Hari Kanker Sedunia, RSCM Resmikan Pelayanan Kanker Terpadu
Menteri Kesehatan Terawan Agus Putranto memberi sambutan pada peresmian Pelayanan Kanker Terpadu (PKaT) RS Cipto Mangunkusumo, Selasa (4/2/2020) - Gloria Fransisca
Bisnis.com, JAKARTA - RS Cipto Mangunkusumo meresmikan Pelayanan Kanker Terpadu (PKaT) untuk meningkatkan kualitas pelayanan bagi penderita kanker di Indonesia.
Prof Dr dr Soehartati, SpRad, Onk.Rad  dalam peresmikan PKaT menyatakan dengan peningkatan angka harapan hidup dan pergeseran tren lifestyle, menjadikan kanker sebagai penyakit kronis yang angkanya terus menanjak tinggi. 
Berdasarkan perkiraan WHO dan IARC, kasus baru kanker dapat meroket mencapai angka 29,5 juta dan menyebabkan kematian 16,3 juta orang pada 2040. 
"Kanker ini sudah masuk peringkat dua setelah jantung, atau ketiga setelah jantung maupun ginjal," jelas Soehartati di RSCM, Selasa (4/2/2020).
Kondisi ini akan memberi beban besar untuk dunia, seiring dengan tingginya tren merokok, gaya hidup tidak sehat maupun penyebab lain terutama infeksi yang seringkali terjadi pada negara berkembang.
Dia memerinci, populasi penderita kanker kini mendekati 266 juta jiwa dan 348.809 kasus baru kanker tahun 2018. Diperkirakan kasus kanker akan meningkat sebesar 65,1% dalam 22 tahun di Indonesia.
"Banyak masyarakat yang belum terliterasi dengan baik, menyebabkan rendahnya awareness tentang pencegahan, tanda dan gejala, maupun penanganan kanker yang  tepat," pungkas Soehartati.  
Selain itu upaya preventif yang belum sepenuhnya dibudayakan dalam masyarakat, faktor ekonomi, sosial dan geografis pada negara kepulauan ini seringkali menjadi penghambat bagi pasien untuk mendapatkan penanganan yang tepat.
Berbagai keterkaitan faktor ini menyebabkan tingginya temuan kasus kanker stadium lanjut mencapai sekitar 65%. Kondisi tersebut menjadi penyebab melambungnya biaya penanganan kanker dalam Program Jaminan Kesehatan Nasional, menempati urutan ketiga pada 2014-2018 mencapai Rp13,3 triliun atau 17% dari total biaya penyakit katastropik.
Selain faktor ekonomi, penyakit kronis ini juga menimbulkan beban sosial terhadap pasien beserta keluarganya. Ironisnya 30-50% kanker dapat dicegah dengan menghindari faktor resiko dan menerapkan strategi pencegahan yang tepat.
Soehartati menjelaskan, kolaborasi ilmu terkini dari berbagai profesi menjadi hal penting yang dibutuhkan dalam melawan kanker yang jumlahnya masih terus bertambah di Indonesia. Untuk mencapai perluasan ekspansi terapi kanker di Indonesia, 
Oleh sebab itu Tim Oncology Center RSCM meresmikan Pelayanan Kanker Terpadu RSCM (PKaT). Peresmian yang bersamaan dengan peringatan Hari Kanker Sedunia (World Cancer Day), juga bentuk kampanye tahunan RSCM bertujuan untuk menggalang awareness terkait kanker yang diikuti berbagai kalangan bersama Union for International Cancer Control (UICC).
Menteri Kesehatan Terawan Agus Putranto menyatakan upaya pembangunan PKaT adalah bentuk filantropi untuk menangani masalah kanker di Indonesia. 
Dia menjelaskan saat ini ada perubahan paradigma hidup sehat bersama kanker. Namun paradigma ini hanya bisa diwujudkan melalui kerjasama pihak medis dan pasien dengan landasan yang tepat. 
"Survival of life itu hak Tuhan, karena itu dengan dasar quality of life pata dokter dan para medis harus sadar orientasinya diubah bukan kepuasan dokter tapi pasien," tutur Terawan.
Acara peresmian ini dihadiri oleh Direktur Jenderal Pencegahan dan Pengendalian Penyakit Tidak Menular Kemenkes Anung Sugihantono.

Simak berita lainnya seputar topik artikel ini, di sini :
kanker

Editor : Mia Chitra Dinisari
KOMENTAR


Artikel Terkait



Berita Terkini Lainnya

Top