5 Bahaya Kerokan bagi Kesehatan

Kerokan, adalah tradisi pengobatan tradisional yang diterapkan orang Indonesia ketika sakit, terutama masuk angin.
JIBI
JIBI - Bisnis.com 12 Februari 2020  |  05:36 WIB

Bisnis.com, JAKARTA - Kerokan, adalah tradisi pengobatan tradisional yang diterapkan orang Indonesia ketika sakit, terutama masuk angin.

Umumnya, mereka merasa kerokan bisa membantu mengeluarkan angin yang masuk ke dalam tubuh sehingga sakit demam akibat masuk angin bisa hilang.

Kerokan adalah metode pengobatan tradisional yang seringkali dijalankan oleh masyarakat di Asia tenggara, termasuk Indonesia. Secara umum, metode ini sebenarnya aman untuk dilakukan.

Namun, bahaya kerokan juga nyata adanya. Bahaya kerokan yang selama ini cukup ternama adalah angin duduk atau yang dalam bahasa medis, disebut sebagai angina pectoris. Namun hingga saat ini, belum ada penelitian yang membuktikan hal tersebut. Sehingga, kerokan sebagai penyebab angin duduk sebenarnya hanyalah mitos.

Meski begitu, bahaya kerokan bisa saja muncul sebagai efek samping yang sulit dicegah, seperti berikut ini.

 1. Menyebabkan memar dan bengkak 

Proses kerokan membuat pembuluh darah kecil di bawah permukaan kulit yang disebut pembuluh darah kapiler, pecah. Hal ini membuat kulit jadi terlihat memar dan merah setelah terapi ini selesai dilakukan. Pada beberapa orang, pembengkakan juga bisa muncul di area kulit yang dikerok. Umumnya, memar dan pembengkakan yang terjadi akan hilang dengan sendirinya setelah beberapa hari atau minggu.

2. Berisiko menimbulkan perdarahan

Kerokan tidak seharusnya menyebabkan perdarahan. Namun, jika tekanan yang diberikan di kulit dilakukan secara berlebihan, maka pecahnya pembuluh darah kapiler tidak hanya akan menghasilkan memar, tapi juga perdarahan minor.

3. Berisiko memicu penularan penyakit

Keluarnya darah dari permukaan kulit, juga membuka kesempatan terjadinya infeksi yang bisa menular melalui darah. Risiko penularan penyakit melalui kerokan juga akan meningkat apabila koin atau alat lain yang digunakan untuk terapi ini tidak steril dan telah digunakan oleh lebih dari satu orang.

4. Mengakibatkan nyeri

Ada orang yang bisa menahan sakitnya dikerok, ada yang tidak. Apabila Anda termasuk yang tidak bisa menahan rasa sakitnya, sebaiknya jangan terlalu memaksakan untuk menjalani terapi ini.

5. Tidak semua orang cocok dikerok

Tidak semua orang cocok untuk dikerok. Sebab, terapi ini berhubungan dengan pecahnya pembuluh darah kapiler. Kelompok individu dengan kondisi berikut ini, sebaiknya menghindari kerokan:

a. Mempunyai riwayat gangguan medis yang menyerang kulit atau pembuluh vena
b. Mudah berdarah
c. Sedang mengonsumsi obat pengencer darah
d. Menderita deep vein thrombosis
e. Sedang mengalami infeksi, tumor, atau luka yang belum sembuh sempurna
f. Menggunakan implan di organ tubuh, sepergi alat pacu jantung dan defribilator internal

Simak berita lainnya seputar topik artikel ini, di sini :
sakit

Sumber : Tempo.co

Editor : Mia Chitra Dinisari
KOMENTAR


Artikel Terkait



Berita Terkini Lainnya

Top