Perum PFN Ciptakan Bioskop Rakyat

Keberadaan bioskop rakyat, bisa sumber pendapatan baru bagi Perum Produksi Film Nasional (PFN). Selain itu, bioskop rakyat juga bisa menjadi wadah bagi film-film karya anak bangsa yang tidak kebagian tempat di jaringan bioskop nasional.
Rezha Hadyan
Rezha Hadyan - Bisnis.com 21 Februari 2020  |  21:12 WIB
Perum PFN Ciptakan Bioskop Rakyat
Peresmian bioskop rakyat oleh Direktur Utama Perum PFN Judith Dipodiputro dan Direktur Komersial dan Marketing Perum PFN Elprisdat. - Rezha Hadyan

Bisnis.com, JAKARTA - Perum Produksi Film Nasional (PFN) berupaya menangkap potensi pasar bioskop di Tanah Air dengan membuka bioskop khusus yang menyasar segmen menengah ke bawah.

BUMN yang terkenal dengan serial Si Unyil pada era 1980-1990an itu akan membuka "bioskop rakyat" di kota-kota tingkat dua yang belum terjamah oleh jaringan bioskop nasional, terutama di luar Jawa.

Direktur Komersial dan Marketing Perum Produksi Film Negara (PFN) Elprisdat mengatakan pihaknya berniat membuka sampai dengan 1000 layar "bioskop rakyat" di 500 kota atau kabupaten di seluruh Indonesia. Setiap tahunnya, mulai 2024 akan dibuka 200 layar "bioskop rakyat" yang berdiri sendiri alias standalone diluar pusat perbelanjaan.

Investasi yang dibutuhkan untuk satu layar "bioskop rakyat" menurutnya jauh lebih kecil dibandingkan dengan investasi yang dilakukan oleh jaringan bioskop nasional untuk satu layar bioskop.

"Bioskop rakyat investasinya hanya Rp2,5 miliar untuk satu layar. Jauh lebih kecil dibandingkan dengan [investasi] satu layar milik jaringan bioskop seperti XXI yang bisa mencapai Rp15 miliar," katanya dalam jumpa pers yang digelar di Jakarta, Jumat (21/2/2020).

Pria yang akrab disapa El itu menjelaskan investasi "bioskop rakyat" bisa ditekan lantaran gedung maupun lahannya akan menggunakan aset milik BUMN lain di daerah melalui skema sinergi BUMN. Dia mencontohkan aset BUMN lain yang bisa dimanfaatkan adalah gudang-gudang milik PT Perusahaan Perdagangan Indonesia (PPI) Persero yang ada di sejumlah kota atau kabupaten.

"Tapi standarnya nanti tidak akan berbeda dengan jaringan bioskop nasional. Tetap akan menggunakan Digital Cinema Package (DCP) standar bioskop, kualitas audio yang sama. Walaupun nanti harga tiketnya jauh lebih murah," ungkapnya.

Adapun, harga tiket yang dimaksud adalah Rp 15.000 untuk Senin-Jumat (weekdays) dan Rp 20.000 untuk Sabtu-Minggu (weekend).

Selain diharapkan menjadi sumber pendapatan baru bagi PFN, menurut pria yang akrab disapa El itu mengatakan "bioskop rakyat" juga bisa menjadi wadah bagi film-film karya anak bangsa yang tidak kebagian tempat di jaringan bioskop nasional.

"Banyak film yang produser kita tidak masuk ke jaringan bioskop nasional seperti XXI. Dari 200 film yang diproduksi setiap tahunnya hanya 100 yang mendapatkan giliran tayang [di XXI]. Nah, yang tidak terakomodasi ini akan kita fasilitasi," ujarnya.

Simak berita lainnya seputar topik artikel ini, di sini :
bioskop

Editor : Novita Sari Simamora
KOMENTAR


Artikel Terkait



Berita Terkini Lainnya

Top