Bisnis.com
Epaper Bisnis Indonesia BIGStore Koran Bisnis Indonesia Bisnis Indonesia Group

Fakta Baru Virus Corona dari Usia, Gender dan Riwayat Kesehatan

Virus corona jenis baru ini diketahui mematikan hanya untuk orang tua dan telah memiliki riwayat penyakit lain sebelumnya. Covid-19 juga disebutkan lebih berbahaya bagi laki-laki daripada perempuan.
Newswire
Newswire - Bisnis.com 15 Maret 2020  |  20:44 WIB
Petugas saat melakukan penyemprotan disinfektan pada gerbong kereta api di Stasiun Pasar Senen, Jakarta, Minggu (15/3/2020). Bisnis - Eusebio Chrysnamurti\\n
Petugas saat melakukan penyemprotan disinfektan pada gerbong kereta api di Stasiun Pasar Senen, Jakarta, Minggu (15/3/2020). Bisnis - Eusebio Chrysnamurti\\n

Bisnis.com, JAKARTA - Jumlah kasus penyakit virus corona 2019 atau Covid-19 di Indonesia terus mendaki. Hingga Minggu (15/3/2020), sudah ada lima pasiennya yang meninggal dari seluruhnya 117 kasus infeksi yang terkonfirmasi. Di antara mereka yang terinfeksi adalah Menteri Perhubungan Budi Karya Sumadi.

Melihat data infeksinya di China--negara pertama yang melaporkan epidemi --Covid-19 diberi label pembunuh yang tidak adil. Virus corona jenis baru ini diketahui mematikan hanya untuk orang tua dan telah memiliki riwayat penyakit lain sebelumnya. Covid-19 juga disebutkan lebih berbahaya bagi laki-laki daripada perempuan.

Virus ini juga diperhitungkan menginfeksi tak pandang gaya hidup atau faktor biologis. Tapi lebih kepada riwayat perjalanan dan dengan siapa saja si pasien melakukan kontak sebelumnya.

Berikut ini data yang telah dikumpulkan oleh sejumlah riset sepanjang 3 bulan terhadap virus berselubung lemak penyebab pneumonia akut ini:

1. Tua dan Muda

Sebagian besar--87 persen--dari 72.314 kasus Covid-19 di China per pertengahan Februari lalu dialami oleh mereka yang berusia 30-79 tahun. Hanya 8,1 persen yang berusia 20-an tahun, 1,2 persen yang remaja, dan 0,9 persen yang berusia kurang dari 10 tahun. Data dari WHO, sebanyak 78 persen kasus di Cina untuk periode yang sama dialami mereka yang berusia 30-69 tahun.

Pemerintah China menemukan sebanyak 2,3 persen dari jumlah kasus terkonfirmasi itu berujung fatal atau pasien meninggal. Angka kematiannya sampai 14 persen di antara pasien yang berusia lebih dari 80 tahun.

Angka kematian drop menjadi 1,3 persen saja untuk para pasien yang berusia 50-an tahun, 0,4 persen untuk pasien rentang usia 40an tahun, dan 0,2 persen untuk 10-39 tahun.

Angka 2,3 persen itu belakangan diperbarui oleh WHO berdasarkan data pasien global pada 3 Maret lalu. Saat itu WHO mengumumkan, angka kematian akibat infeksi virus itu sebesar 3,4 persen.

Mereka memperbarui angka kematian karena virus corona yang sebelumnya dinyatakan bervariasi dari 0,7 sampai 4,0 persen, bergantung kualitas sistem kesehatan masyarakat di mana pasien itu dirawat. 

2. Laki dan Perempuan

Efek penularan berdasarkan gender tak sejelas yang berdasarkan usia, tapi data awal menunjukkan laki lebih rentan daripada perempuan. Pemerintah Cina menemukan perbandingan kasus infeksi 106:100 antara laki dan perempuan.

Sedang data WHO menunjukkan 51 persen kasus dialami laki-laki. Yang berbeda nyata adalah angka kematian akibat infeksi. Pemerintah China mengumumkan angka kematian di antara pasien perempuan sebesar 1,7 persen sedang pada pasien laki 2,8 persen.

3. Sakit atau Sehat

Studi yang pernah dilakukan terhadap 1.590 pasien positif COVID-19 di China menemukan 399 pasien yang memiliki sedikitnya satu penyakit tambahan di tubuhnya (termasuk jantung, diabetes, Hepatitis B, paru-paru, gijal, dan kanker) berpeluang 79 persen lebih besar untuk mendapat perawatan intensif atau meninggal. Sedang 130 pasien dengan dua penyakit komplikasi atau lebih memiliki risiko 2,5 kali lebih besar.

Merincinya lebih jauh, para peneliti menemukan kanker menambah risiko Covid-19 menjadi 3,5 kali lipat, diabetes dan hipertensi malah sampai 60 persen. Adanya penyakit lain yang bersemayam dalam tubuh kemungkinan telah mengubah karakter Covid-19. 

Sebagai gambaran, di puncak epidemi di Wuhan, sebanyak 37 dari 230 pasien gagal ginjal di RS Renmin terdeteksi mengidap infeksi virus itu. Meski tidak ada yang sampai dirawat intensif dan mendapat alat bantu pernapasan, enam di antara 37 pasien itu meninggal. Uniknya pula, tidak satupun dari enam itu meninggal karena pneumonia.

Studi di dua rumah sakit rujukan di Wuhan paa Januari lalu juga menunjukkan orang-orang yang terinfeksi virus corona Covid-19 akan meninggal paling mungkin karena mereka sudah lansia atau memiliki riwayat sepsis ataupun masalah pembekuan darah.

Studi ini meneliti sekelompok 191 pasien dari mulai mereka didiagnosis positif terinfeksi virus corona itu hingga sembuh dan diizinkan pulang (137) atau sebaliknya, meninggal (54).

Usia rata-rata pasien ini adalah 56, dan 62 persen adalah laki-laki. Sekitar setengah dari mereka yang dirawat memiliki masalah medis, paling umum adalah diabetes dan tekanan darah tinggi. 

4. Masa Kehamilan

Pada awal Februari, media di Cina melaporkan seorang bayi yang baru dilahirkan perempuan pasien COVID-19 belakangan juga positif virus itu. Si bayi diduga tertular lewat kontak dekat, tapi kekhawatiran adanya penularan secara vertikal yang terjadi saat bayi masih dalam kandungan tak terhindarkan.

Tim peneliti di Universitas Wuhan lalu menyelidikinya dengan meneliti sembilan perempuan hamil pasien COVID-19. Mereka seluruhnya melewati persalinan dengan operasi caesar dan tidak didapati bukti adanya penularan vertikal itu. 

Simak berita lainnya seputar topik artikel ini, di sini :

china Virus Corona Fact or Fake

Sumber : Tempo.Co

Editor : Hendri Tri Widi Asworo
Bisnis Indonesia bersama 3 media menggalang dana untuk membantu tenaga medis dan warga terdampak virus corona yang disalurkan melalui Yayasan Lumbung Pangan Indonesia (Rekening BNI: 200-5202-055).
Ayo, ikut membantu donasi sekarang! Klik Di Sini untuk info lebih lengkapnya.
0 Komentar

Artikel Terkait



Berita Terkini Lainnya

BisnisRegional

To top