Bisnis.com
Epaper Bisnis Indonesia BIGStore Koran Bisnis Indonesia Bisnis Indonesia Group

Fashion Impor Tersendat, Saatnya Desainer Lokal Lebih Agresif

Pandemi virus corona (Covid-19), telah membuat impor produk fashion (fesyen) tersendat. Ini bisa menjadi peluang bagi desainer lokal.
Dewi Andriani
Dewi Andriani - Bisnis.com 20 Mei 2020  |  23:23 WIB
Serene Mayuko MT5190 Cream cocok digunakan menjadi baju lebaran
Serene Mayuko MT5190 Cream cocok digunakan menjadi baju lebaran

Bisnis.com, JAKARTA - Para pelaku usaha fesyen dalam negeri sebetulnya dapat lebih jeli memanfaatkan masa pandemi Covid-19 ini untuk lebih agresif memasarkan produknya kepada masyarakat, karena penjualan fesyen impor agak tersendat.

Desainer busana Lenny Agustin mengatakan meski dalam kondisi pandemi saat ini, kebutuhan masyarakat akan fesyen tetap ada, apalagi menjelang lebaran ketika busana telah menjadi kebutuhan yang dapat menunjang penampilan.

“Kita harus lebih agresif memasarkan produk. Caranya kalau saya menawarkan kepada customer secara pribadi melalui wa, telp, dan lainnya. Tanyakan apa kebutuhan mereka untuk busana lebaran tahun ini, juga tawarkan apa yang kita punya,” ujarnya dalam Designer Talks : Semasa Pandemik.. Bagaimana Gaya Hidup Mode Tetap Di Depan, Rabu (20/5/2020).

Sejauh ini diakuinya cara yang lebih agresif dan komunikatif tersebut cukup efektif. Selain itu, desainer yang terkenal dengan busana yang cherfull tersebut juga banyak memanfaatkan penjualan via online baik melalui media sosial maupun e-commerce.

“Karena saat ini fashion show juga tersendat, memang ada virtual fashion show tapi itu belum keliatan hasilnya. Jadi, kita sebagai desainer ya harus cepat dan agresif, apalagi kan sekarang produk impor lagi tersendat. Jadi kini saatnya kita [desainer lokal] untuk tampil,” tuturnya.

Senada disampaikan oleh Plt Deputi Bidang Ekonomi Digital dan Produk Kreatif Kemenparekraf Joshua Simanjuntak yang mengatakan bahwa saat inilah waktunya kita untuk saling menjaga ketahanan ekonomi dengan membeli produk dalam negeri. Apalagi pemerintah juga telah meluncurkan gerakan bangga buatan Indonesia

Pelaku usaha juga harus tanggap dan cepat masuk ke dalam dunia online sehingga semakin banyak produk dalam negeri yang dibeli oleh masyarakat secara online. Pasalnya, berdasarkan data pada 2018 lalu, dari sekitar Rp144 triliun transaksi e-commerce secara keseluruhan, 90 persen diantaranya produk impor.

“Bayangkan, kalau setiap kita berbelanja secara online, 40 persen itu untuk produknya dan 60 persen itu uang berputar di luar produk seperti logistik, warehouse, pekerja, industri, dsb. Jadi kalau 60 persen itu artinya Rp77 triliun uang yang masuk berputar di luar, kan sayang, seharusnya itu bisa berputar di dalam negeri kalau kita membeli produk nasional sehingga membantu perekonomian bangsa,” terangnya.

Simak berita lainnya seputar topik artikel ini, di sini :

fashion lebaran
Editor : Novita Sari Simamora
Bisnis Indonesia bersama 3 media menggalang dana untuk membantu tenaga medis dan warga terdampak virus corona yang disalurkan melalui Yayasan Lumbung Pangan Indonesia (Rekening BNI: 200-5202-055).
Ayo, ikut membantu donasi sekarang! Klik Di Sini untuk info lebih lengkapnya.

Bergabung dan dapatkan analisis informasi ekonomi dan bisnis melalui email Anda.

Artikel Terkait



Berita Terkini Lainnya

Terpopuler

Download Aplikasi E-Paper sekarang dan dapatkan FREE AKSES selama 7 hari!
qrcode bisnis indonesia logo epaper

BisnisRegional

To top