Bisnis.com
Epaper Bisnis Indonesia BIGStore Koran Bisnis Indonesia Bisnis Indonesia Group

Solusi Atasi Persoalan Finansial Generasi Sandwich

Generasi ini banyak didapati di negara berkembang termasuk Indonesia yang nilai-nilai kekerabatannya sangat kuat sehingga untuk memutuskan pola generasi sandwich ini tidaklah mudah.
Dewi Andriani
Dewi Andriani - Bisnis.com 20 Juli 2020  |  15:47 WIB
Ilustrasi menabung
Ilustrasi menabung

Bisnis.com, JAKARTA – Sandwich Generation, istilah yang acap kali disematkan kepada kelompok orang yang harus mencukupi kebutuhan ekonomi banyak pihak dalam waktu bersamaan, yaitu kebutuhan diri sendiri, keluarga intinya, dan orang tuanya.

Generasi ini banyak didapati di negara berkembang termasuk Indonesia yang nilai-nilai kekerabatannya sangat kuat sehingga untuk memutuskan pola generasi sandwich ini tidaklah mudah.

Senior Manager Business Development Sequis Life, Yan Ardhianto Handoyo mengatakan terjepit di antara dua kewajiban finansial sebagai seorang sandwich generation tentu tidak mudah, tetapi tidak dapat juga dihindari. Untuk itu, ada beberapa hal yang harus dilakukan sebagai solusi financial bagi kelompok generasi sandwich.

1. Kelola Pendapatan Sebak Mungkin

Hal pertama yang harus dilakukan adalah mengelola pendapatan sebaik mungkin, dan bergaya hidup sederhana sehingga dapat menabung dan berinvestasi. Selain itu, komunikasi tentang batasan pertanggungan juga perlu dibicarakan agar secara bersama-sama ikut membantu menanggung kehidupan orang tua dan berkomitmen hidup lebih hemat.

“Jika Anda bisa berbagi tugas menanggung biaya hidup orang tua bersama anggota keluarga lain tentunya akan meringankan tanggungan Anda. Namun, harus diingat kerja sama tersebut tetap bergantung kepada kemampuan finansial masing-masing. Tidak perlu memaksakan kontribusi kakak atau adik apabila kondisi keuangan mereka juga sedang sulit,” ujarnya.

2. Komunikasi Mengenai Financial

Komunikasi mengenai finansial sangat penting karena jika tidak terbuka bisa melahirkan persoalan baru, misalnya Anda menjadi stres karena harus memikirkan sendiri persoalan keuangan dan bagi pihak lain yang mengharapkan bantuan Anda bisa merasa tidak enak, tetapi tidak memiliki kesanggupan untuk memenuhi kebutuhannya.

Selain itu, jika tidak dikomunikasikan bisa membuat kita berutang karena memaksakan diri menanggung biaya kehidupan orang lain lebih dari kemampuan finansial diri.

“Jika Anda sudah membiayai kebutuhan listrik, belanja bulanan, dan pulsa telepon maka mungkin tidak perlu membiayai pos-pos kebutuhan tersier, seperti jalan-jalan atau belanja barang yang bukan kebutuhan pokok. Selain itu, jika pengeluaran Anda sedang banyak, misalnya ada pembayaran uang masuk sekolah anak maka Anda perlu memberitahukan pada keluarga bahwa transferan pada bulan depan akan berkurang jumlahnya,” sebut Yan.

3. Amankan Pos Pengeluaran Utama

Hal selanjutnya yang harus dilakukan adalah mengamankan pos-pos pengeluaran utama, yaitu kebutuhan rumah tangga seperti belanja bahan makanan, biaya listrik dan air, sekolah anak, transportasi, cicilan rumah, kendaraan, dan tagihan kartu kredit.

Setelah itu, sisihkan dana untuk asuransi karena asuransi adalah pelindung dari risiko hidup yang bisa mengganggu keuangan masa depan serta sisihkan juga sejumlah dana untuk investasi jangka panjang. Jika ada kelebihan dana maka Anda bisa mengalokasikannya pada pos yang sifatnya sekunder dan tersier, misalnya hiburan, belanja, nonton, beli baju baru, rekreasi, tetapi tetap dengan perhitungan matang dan bijaksana, dan hindari pemborosan.

Jika memiliki cicilan kartu kredit maka wajib dibayar sesuai besaran tagihan bukan pembayaran minimum karena jika menunda pembayaran cicilan dapat membuat tagihan bulan berikutnya menjadi lebih besar karena adanya tagihan berjalan dan sisa cicilan tagihan bulan lalu beserta bunganya.

4. Terapkan Prinsip Wise Spender

Mengenai belanja rumah tangga, Yan menyarankan untuk menerapkan prinsip wise spender. Mengingat kebutuhan keluarga juga harus dipenuhi, tetapi harga barang cenderung naik sedangkan pendapatan tetap maka agar pengeluaran tidak membengkak, Anda bisa memanfaatkan diskon atau cashback.

Selain itu, belanja di tempat yang tidak jauh dari rumah untuk menghemat biaya transportasi, sebelum berbelanja sebaiknya catatapa yang dibutuhkan sehingga saat belanja bisa fokus pada catatan. Sebaiknya tidak mengajak anak belanja agar tidak menambah pengeluaran. Ingatlah, dana belanja tidak harus habis saat itu juga,” sebutnya.

5. Lindungi Diri dan Keluarga Dengan Asuransi

Sandwich generation yang dihadapkan pada kewajiban menghidupi keluarga dan orang tua tidak saja harus memastikan kebutuhan hidup mereka terpenuhi, tetapi juga memastikan mereka terlindungi dari berbagai risiko kehidupan terutama kebutuhan kesehatan.

Menjaga kesehatan dapat dilakukan dengan cara memenuhi kebutuhan gizi, cukup beristirahat, berolahraga teratur, menghindari stres, dan menjaga kebersihan lingkungan, tetapi sakit tetaplah menjadi risiko yang datangnya tidak kita ketahui dan semakin tua usia orang tua maka risiko sakit akan semakin besar.

Jika menderita sakit yang tergolong berat maka dapat mengguncang keuangan keluarga bahkan dapat membuat jatuh miskin. Kenyataan tersebut tentunya perlu dicarikan solusinya. Satu-satunya cara untuk menanggulangi risiko tersebut adalah dengan memiliki asuransi jiwa dan kesehatan karena dalam asuransi jiwa ada Uang

Pertanggungan bagi ahli waris dan dengan memiliki asuransi kesehatan maka biaya pengobatan akan ditanggung perusahaan asuransi sesuai perjanjian dalam buku polis.
Siapa yang harus dilindungi terlebih dahulu?

Tentunya Anda sebagai tulang punggung keluarga haruslah memiliki asuransi jiwa karena jika terjadi risiko kehidupan, seperti kecelakaan, sakit atau meninggal dunia maka mereka yang menjadi tanggungan Anda masih dapat tetap melanjutkan hidup karena ada sejumlah uang yang berasal dari Uang Pertanggungan (UP) polis Anda.

Sedangkan asuransi kesehatan sebaiknya dimiliki oleh semua anggota keluarga.”Memiliki BPJS sebagai fasilitas kesehatan dasar untuk keluarga tentu akan meringankan beban keluarga, tetapi sayangnya tidak semua biaya pengobatan menjadi tanggungan BPJS terutama jika menderita sakit parah sehingga perlu memiliki asuransi kesehatan tambahan agar keuangan keluarga tidak tergerus,” sebutnya.

Dengan disiplin menerapkan tata kelola keuangan keluarga, berkomunikasi, dan terbuka dengan anggota keluarga lain serta memiliki asuransi jiwa dan kesehatan, niscaya beban sandwich generation tidak menjadi terlalu berat

“Anda masih berkesempatan meraih hari esok yang lebih baik dan memutus pola sandwich generation untuk anak Anda. Jadi, jangan menunda untuk berasuransi dan berinvestasi selagi sehat dan produktif,” tutupnya.

Simak berita lainnya seputar topik artikel ini, di sini :

penghasilan tips keuangan tips investasi
Editor : Mia Chitra Dinisari
Bisnis Indonesia bersama 3 media menggalang dana untuk membantu tenaga medis dan warga terdampak virus corona yang disalurkan melalui Yayasan Lumbung Pangan Indonesia (Rekening BNI: 200-5202-055).
Ayo, ikut membantu donasi sekarang! Klik Di Sini untuk info lebih lengkapnya.

Bergabung dan dapatkan analisis informasi ekonomi dan bisnis melalui email Anda.

Artikel Terkait



Berita Terkini Lainnya

BisnisRegional

To top