Bisnis.com
Epaper Bisnis Indonesia BIGStore Koran Bisnis Indonesia Bisnis Indonesia Group

Dua Gejala Utama yang Tetap Ada Bahkan Setelah Pasien Covid-19 Pulih

Virus corona baru terus membuat bingung para ahli kesehatan. Pasalnya mereka menemukan bahwa ada gejala yang bertahan lama dan berdampak negatif pada pasien yang telah sembuh dari Covid-19.
Syaiful Millah
Syaiful Millah - Bisnis.com 23 Agustus 2020  |  18:26 WIB
Lelah - boldsky.com
Lelah - boldsky.com

Bisnis.com, JAKARTA – Virus corona baru terus membuat bingung para ahli kesehatan. Pasalnya mereka menemukan bahwa ada gejala yang bertahan lama dan berdampak negatif pada pasien yang telah sembuh dari Covid-19.

Gejala tersebut adalah kelelahan dan merasa kabur/berkabut (fogginess). Dokter peneliti melaporkan merasa lemah atau berkabut setelah tugas normal telah menjadi pola yang berbeda bagi pasien dengan gejala Covid-19 yang lama.

Ini mengingatkan para ilmuwan pada kondisi lain yang juga masih misterius yakni sindrom kelelahan kronis. Pasien yang mengalami kelelahan kronis (myalgic encephalomyelitis) sering jatuh dan kambuh karena aktivitas sederhana seperti mandi atau pergi keluar rumah.

Pasien mungkin merasa pusing atau lemah karena berdiri terlalu cepat atau kesulitan berpikir jernih. Beberapa pasien mungkin terbaring di tempat tidur selama beberapa hari atau minggu, tanpa merasa lebih baik setelah tidur atau istirahat.

Terkait temuan ini, Nate Favini, pimpinan medis di Forward mengatakan bahwa memang ada pembicaraan di komunitas medis tentang penyakit mirip sindrom kelelahan kronis yang bisa terjadi pada pasien pasca sembuh dari virus corona baru.

“Ada sekelompok kecil orang yang memiliki kasusnya dan gejala ini benar-benar menjadi hal kronis yang bisa dihadapi selama bertahun-tahun,” katanya seperti dikutip Express UK, Minggu (23/8).

Frances Williams, ahli rematologi dan profesor epidemiologi genom di King’s College London mengatakan bahwa ini merupakan kondisi yang buruk. Terlebih, komunitas medis masih belum terlalu mengerti tentang fenomena ini.

Dalam laporan Organisasi Kesehatan Dunia (WHO), beberapa gejala umum terkait Covid-19 antara lain demam, batuk kering, dan kehilangan kemampuan perasa dan penciuman. Namun, kelelahan, kabut otak, dan ketidakmampuan untuk bangun setelah tidur adalah gejala potensial infeksi virus corona baru.

Beberapa orang melaporkan merasakan kabut otak, juga dikenal sebagai kelelahan mental, sebagai gejala lain dari virus corona Covid-19. Meskipun para peneliti baru mulai mempelajari hubungan antara kelelahan kronis dan virus corona baru, mereka memiliki beberapa petunjuk masa lalu dari pasien SARS.

Pakar kesehatan tidak begitu yakin apa yang menyebabkan kelelahan kronis, tetapi sindrom ini dapat dipicu oleh penyakit menular seperti penyakit Lyme atau virus Epstein-Barr.

Berdasarkan apa yang diketahui dokter selama ini, penggumpalan darah mungkin menjadi salah satu penyebab beberapa pasien COVID-19 merasa lelah. Selain itu, respon imun yang agresif terhadap virus juga bisa memicu peradangan pada tubuh yang merusak jaringan sehat.

Adapun, Anthony Fauci, pakar penyakit menular terkemuka di Amerika, mengakui kelelahan dan rasa berkabut sebagai gejala COVID-19 yang bertahan lama. Dia melaporkan bahwa gejala pada banyak pasien yang belum pulih ini sangat sugestif.

“Ini adalah sesuatu yang benar-benar perlu kita perhatikan dengan serius,” katanya.

Simak berita lainnya seputar topik artikel ini, di sini :

Virus Corona Gejala Penyakit
Editor : Mia Chitra Dinisari
Bisnis Indonesia bersama 3 media menggalang dana untuk membantu tenaga medis dan warga terdampak virus corona yang disalurkan melalui Yayasan Lumbung Pangan Indonesia (Rekening BNI: 200-5202-055).
Ayo, ikut membantu donasi sekarang! Klik Di Sini untuk info lebih lengkapnya.

Bergabung dan dapatkan analisis informasi ekonomi dan bisnis melalui email Anda.

Artikel Terkait



Berita Terkini Lainnya

BisnisRegional

To top