Bisnis.com
Epaper Bisnis Indonesia BIGStore Koran Bisnis Indonesia Bisnis Indonesia Group

Penyebab Sakit Pasien Covid-19 Menjadi Parah, Mutasi Genetik dan Antibodi

Setidaknya 3,5 persen pasien penelitian dengan Covid-19 parah, memiliki mutasi pada gen yang terlibat dalam pertahanan antivirus. Selain itu, sekitar 10 persen pasien dengan penyakit parah menciptakan antibodi otomatis yang menyerang sistem kekebalan, alih-alih melawan virus.
Syaiful Millah
Syaiful Millah - Bisnis.com 25 September 2020  |  17:00 WIB
Ilustrasi - globalgenes.org
Ilustrasi - globalgenes.org

Bisnis.com, JAKARTA – Orang yang terinfeksi virus corona baru, dapat memiliki gejala ringan hingga mematikan. Dua analisis baru menunjukkan bahwa beberapa kasus yang mengancam jiwa dapat dilacak ke titik lemah dalam sistem kekebalan pasien.

Setidaknya 3,5 persen pasien penelitian dengan Covid-19 parah, memiliki mutasi pada gen yang terlibat dalam pertahanan antivirus. Selain itu, sekitar 10 persen pasien dengan penyakit parah menciptakan antibodi otomatis yang menyerang sistem kekebalan, alih-alih melawan virus.

Ini merupakan hasil studi yang dilaporkan dalam makalah jurnal Science, yang dipimpin oleh Jean-Laurent Casanova, Investigator Institut Medis Howard Hughes di The Rockefeller University. Studi mengidentifikasi beberapa akar penyebab Covid-19 yang mengancam manusia.

Antibodi berbahaya yang ada pada 101 dari 987 ini menjadi pengamatan yang menakjubkan, “Kedua makalah ini memberikan penjelasan pertama mengapa Covid-19 bisa begitu parah pada beberapa orang, sementara kebanyakan orang lain yang terinfeksi oleh virus yang sama baik-baik saja,” katanya seperti dikutip MedicalXpress, Jumat (25/9).

Casanova menuturkan pekerjaan tersebut memiliki implikasi langsung untuk diagnostik dan perawatan. Jika seseorang dites positif terkena virus, mereka harus secara mutlak dites untuk auto-antibodi juga dengan tindak lanjut medis.

Upaya global

Tim Casanova yang bekerja sama dengan dokter di seluruh dunia, pertama kali mendaftarkan pasien Covid-19 dalam penelitian mereka pada bulan Februari 2020 lalu, ketika wabah pandemi mulai menyebar ke berbagai negara.

Pada saat itu, mereka mencari orang muda dengan bentuk penyakit yang parah untuk menyelidiki apakah pasien ini mungkin memiliki kelemahan mendasar dalam sistem kekebalan mereka yang membuat mereka sangat rentan terhadap virus.

Rencananya adalah memindai genom pasien — khususnya, sekumpulan 13 gen yang terlibat dalam kekebalan interferon terhadap influenza. Pada orang sehat, molekul interferon berperan sebagai sistem keamanan tubuh.

Tim Casanova sebelumnya telah menemukan mutasi genetik yang menghambat produksi dan fungsi interferon. Orang dengan mutasi ini lebih rentan terhadap patogen tertentu, termasuk yang menyebabkan influenza.

Tim menemukan mutasi serupa pada orang dengan Covid-19. Ini diharapkan dapat membantu dokter mengidentifikasi pasien yang berisiko mengembangkan bentuk penyakit yang parah. Itu juga bisa menunjukkan arah baru untuk pengobatan, katanya.

Pada Maret, tim Casanova bertujuan untuk mendaftarkan 500 pasien dengan Covid-19 parah di seluruh dunia dalam penelitian mereka. Pada bulan Agustus, mereka memiliki lebih dari 1.500, dan sekarang mereka memiliki lebih dari 3.000 peserta.

Saat para peneliti mulai menganalisis sampel pasien, mereka mulai mengungkap mutasi berbahaya, pada orang tua dan muda. Tim menemukan bahwa 23 dari 659 pasien yang diteliti membawa kesalahan pada gen yang terlibat dalam memproduksi interferon antivirus.

Para peneliti menduga tanpa pelengkap penuh dari pelindung antivirus ini, pasien Covid-19 tidak akan bisa menangkis virus,. Pikiran itu memicu ide baru. Mungkin pasien lain dengan Covid-19 parah juga kekurangan interferon — tetapi karena alasan yang berbeda.

Mungkin juga beberapa tubuh pasien merusak molekul ini sendiri. Seperti pada gangguan autoimun seperti diabetes tipe 1 dan rheumatoid arthritis, beberapa pasien mungkin membuat antibodi yang menargetkan tubuh.

Analisis tim terhadap 987 pasien dengan Covid-19 yang mengancam jiwa mengungkapkan hal itu. Sedikitnya 101 pasien memiliki auto-antibodi terhadap bermacam-macam protein interferon. Antibodi ini memblokir tindakan interferon dan tidak ada pada pasien dengan kasus Covid-19 ringan.

"Ini penemuan yang belum pernah terjadi sebelumnya. Dengan menguji keberadaan antibodi ini, Anda hampir dapat memprediksi siapa yang akan menjadi sakit parah," kata rekan penulis studi Isabelle Meyts, seorang dokter anak di Rumah Sakit Universitas KU Leuven, di Belgia.

tim menemukan sekitar 94 persen pasien dengan antibodi berbahaya adalah laki-laki. Menutur Meyts, pria lebih mungkin mengembangkan bentuk Covid-19 yang parah, dan pekerjaan ini menawarkan satu penjelasan untuk variabilitas gender itu.

Laboratorium Casanova sekarang mencari pendorong genetik di balik antibodi otomatis tersebut. Menurutnya, hal ini bisa dikaitkan dengan adanya mutasi yang terjadi pada kromosom X.

Mutasi semacam itu mungkin tidak mempengaruhi wanita, karena mereka memiliki kromosom X kedua untuk mengkompensasi cacat apa pun pada yang pertama. Tetapi bagi pria, yang hanya membawa satu X, bahkan kesalahan genetik kecil pun bisa menjadi konsekuensi.

Peluang Masa Depan

Secara klinis, pekerjaan tim dapat mengubah cara berpikir dokter dan pejabat kesehatan tentang strategi distribusi vaksinasi, dan bahkan perawatan potensial. Sebuah uji klinis dapat memeriksa, apakah orang yang terinfeksi yang memiliki auto-antibodi dan memeriksanya lebih lanjut.

Cara lain lagi misalnya plasmapheresis, prosedur medis yang menghilangkan antibodi dari darah pasien. Meyts mengatakan bahwa metode mana pun berpotensi melawan efek antibodi berbahaya ini, terhadap pasien Covid-19.

Selain pekerjaan saat ini, Meyts, Casanova, dan ratusan ilmuwan lain yang terlibat dengan konsorsium internasional bernama Covid Human Genetic Effort bekerja untuk memahami bagian kedua dari teka-teki virus corona.

Alih-alih mencari faktor yang membuat pasien sangat rentan terhadap Covid-19, mereka justru mencari hal sebaliknya — faktor genetik yang mungkin melindungi. Mereka sekarang merekrut orang-orang dari terdekat pasien dengan COVID-19 parah — orang yang terpapar virus tetapi tidak mengembangkan penyakit tersebut.

Simak berita lainnya seputar topik artikel ini, di sini :

Virus Corona Imunitas tubuh
Editor : Mia Chitra Dinisari
Bisnis Indonesia bersama 3 media menggalang dana untuk membantu tenaga medis dan warga terdampak virus corona yang disalurkan melalui Yayasan Lumbung Pangan Indonesia (Rekening BNI: 200-5202-055).
Ayo, ikut membantu donasi sekarang! Klik Di Sini untuk info lebih lengkapnya.

Bergabung dan dapatkan analisis informasi ekonomi dan bisnis melalui email Anda.

Artikel Terkait



Berita Terkini Lainnya

BisnisRegional

To top