Bisnis.com
Epaper Bisnis Indonesia BIGStore Koran Bisnis Indonesia Bisnis Indonesia Group

Oxford Klaim Vaksin Covid-19 Buatannya Hasil Positif

David Matthews, peneliti studi utama dari Bristol University mengatakan kendati studinya belum ditinjau dan bukan kesimpulan akhir, tetapi hasilnya menunjukkan adanya kabar baik dari vaksin tersebut.
Syaiful Millah
Syaiful Millah - Bisnis.com 23 Oktober 2020  |  08:38 WIB
Universitas Oxford
Universitas Oxford

Bisnis.com, JAKARTA – Para ilmuwan di University of Oxford yang sedang mengerjakan vaksin virus corona baru telah mendapat dorongan besar setelah sebuah penelitian menunjukkan bahwa vaksin yang tengah diuji itu menunjukkan tanda positif.

David Matthews, peneliti studi utama dari Bristol University mengatakan kendati studinya belum ditinjau dan bukan kesimpulan akhir, tetapi hasilnya menunjukkan adanya kabar baik dari vaksin tersebut.

Vaksin Covid-19 dari AstraZeneca dan Oxford yang dikenal dengan ChAdOx1 nCoV-19 dan AZD1222 sekarang sedang menjalani uji klinis fase tiga, setelah menjalani pengujian yang ketat untuk memastikan standar kualitas dan keamanan tertinggi.

Tim dari Bristol University menggunakan teknik yang dikembangkan baru-baru ini untuk lebih memvalidasi bahwa vaksin tersebut secara akurat mengikuti instruksi genetik yang telah diprogramkan ke dalamnya oleh tim dari Oxford.

Analisis tersebut memberikan kejelasan dan detail yang lebih besar serta terperinci tentang bagaimana vaksin tersebut berhasil memicu respons imun yang kuat terhadap virus corona baru penyebab pandemi global.

Matthews mengatakan bahwa studinya itu penting karena mereka dapat memastikan bahwa instruksi genetik yang mendasari vaksin dari AstraZeneca dan Oxford berjalan dengan benar saat masuk ke dalam sel manusia.

"Hingga saat ini, teknologi belum dapat memberikan jawaban dengan begitu jelas, tetapi kami sekarang tahu bahwa vaksin melakukan semua yang kami harapkan dan itu menjadi kabar baik dalam perjuangan kami melawan penyakit,” katanya seperti dikutip Express UK, Jumat (23/10).

Sarah Gilbert, profesor vaksinologi dari University of Oxford mengatakan bahwa Ini adalah contoh luar biasa dari kolaborasi lintas disiplin dengan menggunakan teknologi baru untuk memeriksa secara tepat apa yang vaksin lakukan ketika masuk ke dalam sel manusia.

"Studi tersebut menegaskan bahwa sejumlah besar protein lonjakan virus corona diproduksi dengan sangat akurat, dan ini sangat membantu menjelaskan keberhasilan vaksin dalam mendorong respons kekebalan yang kuat,” ujarnya.

Vaksin Oxford dibuat dengan mengambil virus flu biasa (adenovirus) dari simpanse dan kemudian menghilangkan sekitar 20 persen dari instruksi virus. Dengan ini, peneliti memastikan vaksin tidak dapat mereplikasi atau menyebabkan penyakit pada manusia, tapi tetap dapat diproduksi di laboratorium dalam kondisi khusus.

Menghapus instruksi genetik akan membebaskan ruang untuk menambahkan instruksi bagi spike protein dari SARS-CoV-2. Begitu berada di dalam sel manusia, instruksi genetik untuk protein lonjakan perlu 'difotokopi' berkali-kali - sebuah proses yang oleh para ilmuwan disebut sebagai transkripsi.

Dalam sistem vaksin apa pun, 'fotokopi' inilah yang langsung digunakan untuk membuat protein lonjakan dalam jumlah besar. Setelah protein lonjakan dibuat, sistem kekebalan bereaksi terhadapnya dan ini melatih sistem kekebalan untuk mengidentifikasi infeksi Covid-19 yang sebenarnya.

Oleh karena itu, ketika orang yang divaksinasi dihadapkan dengan virus SARS-CoV-2, sistem kekebalan mereka siap untuk menyerangnya. Adenovirus telah digunakan selama bertahun-tahun untuk membuat vaksin, dan selalu diuji untuk memastikan setiap batch vaksin memiliki salinan instruksi genetik yang benar yang tertanam dalam vaksin.

Studi pertama dalam konteks ini, para peneliti di Bristol juga dapat secara langsung memeriksa ribuan instruksi 'fotokopi' yang dihasilkan oleh vaksin Oxford di dalam sel. Akibatnya, mereka dapat langsung memvalidasi bahwa instruksi disalin dengan benar dan akurat, menawarkan jaminan yang lebih besar tentang kemanjuran vaksin.

Uji coba vaksin, yang sedang dikembangkan Oxford-AstraZeneca, masih berlangsung meskipun seorang sukarelawan meninggal di Brasil. Peneliti Oxford mengatakan bahwa penilaian yang cermat tidak mengungkapkan masalah keamanan, dan bahwa pria berusia 28 tahun yang meninggal itu sebenarnya belum diberi vaksin.

Simak berita lainnya seputar topik artikel ini, di sini :

Virus Corona Vaksin Covid-19
Editor : Mia Chitra Dinisari
Bisnis Indonesia bersama 3 media menggalang dana untuk membantu tenaga medis dan warga terdampak virus corona yang disalurkan melalui Yayasan Lumbung Pangan Indonesia (Rekening BNI: 200-5202-055).
Ayo, ikut membantu donasi sekarang! Klik Di Sini untuk info lebih lengkapnya.

Bergabung dan dapatkan analisis informasi ekonomi dan bisnis melalui email Anda.

Artikel Terkait



Berita Terkini Lainnya

Terpopuler

Download Aplikasi E-Paper sekarang dan dapatkan FREE AKSES selama 7 hari!
qrcode bisnis indonesia logo epaper

BisnisRegional

To top