Bisnis.com
Epaper Bisnis Indonesia BIGStore Koran Bisnis Indonesia Bisnis Indonesia Group

Animasi Karya Anak Negeri Mulai Mendominasi

Sejumlah animasi karya anak negeri tumbuh dan berkembang dari media sosial. Karya-karya itu sukses memikat warganet karena karakter dan kisah yang disajikan cukup menarik. Harapan animasi lokal menguasai negeri sendiri pun kian nyata.
Rezha Hadyan
Rezha Hadyan - Bisnis.com 23 Oktober 2020  |  07:49 WIB
Nussa
Nussa

Bisnis.com, JAKARTA - Bicara mengenai serial animasi asli Indonesia, tentunya tak bisa dilepaskan dari Nussa. Serial karya studio animasi The Little Giantz dan 4Stripe Productions ini menceritakan kehidupan sehari-hari Nussa, bocah laki-laki berusia 9 tahun yang periang dan penuh semangat.

Walaupun harus menggunakan kaki palsu untuk menggantikan kaki kirinya, Nussa tak pernah minder dan berak vitas layaknya anak-anak normal seusianya. Semangatnya mengejar cita-cita menjadi penghafal (hafizh) Alqur'an dan astronot tak pernah padam. Dia pun mendapatkan dukungan penuh dari sang ibunda yang dipanggil Umma dan Rara, adik perempuannya yang berusia 5 tahun untuk menggapai cita citanya tersebut.

Dari kisah Nussa ini sangat jelas animasi tersebut mengusung nuansa Islami. Selain sebagai sarana hiburan, Nussa memang disiapkan sebagai sarana edukasi sekaligus dakwah Islam bagi anak-anak. Menurut Chief Executive Officer sekaligus Co-Founder The Little Giantz Aditya Triantoro, Nussa sejak awal dirancang sebagai tontonan serta tuntunan bagi anakanak Indonesia, khususnya dari keluarga muslim. Selain itu, Nussa juga membawa pesan keterbatasan bukanlah penghalang untuk berkembang dan meraih cita-cita.

“Kami sengaja mendesain Nussa sebagai seorang difabel itu sebagai sebuah simbol. Anak difabel tapi dia mampu melakukan hal-hal yang terkadang tuh [merasa], kok dia bisa kenapa saya juga enggak bisa."

Mengenai nuansa Islami yang dibawa oleh Nussa, Aditya menilai hal tersebut tak terlepas dari demografi Indonesia yang penduduknya didominasi oleh muslim. Selain itu, dia juga tak menampik bahwa lahirnya serial animasi tersebut tak terlepas dari pengalaman pribadinya mendalami ajaran Islam.

Aditya menyebut tak sembarangan dalam mengangkat nilai-nilai ajaran Islam lewat Nussa. Dirinya dan tim selalu berkonsultasi dengan sejumlah pemuka agama dan komunitas-komunitas Islam yang ada di tengah masyarakat sebelum menyiapkan jalan cerita serial animasi tersebut.

Walaupun demikian, dia menegaskan bahwa Nussa tidak dibuat ekslusif untuk penganut Islam saja. Menurutnya, serial animasi tersebut fokus mengangkat nilai-nilai ajaran Islam yang sifatnya universal, khususnya nilai-nilai kebaikan.

“[Serial animasi ini] tetap mengajarkan hal-hal yang sifatnya dasar, tentang salam, menghorma orang tua, baca doa sebelum makan, baca doa sebelum kegiatan. Saya yakin semua agama punya hal esensi yang sama,“ tuturnya.

Pro dan kontra memang ada, tetapi hal tersebut tak membuat Nussa kehilangan penggemarnya. Antusiasme penonton serial animasi yang tayang di YouTube itu justru makin tinggi. Hal tersebut membuat sejumlah televisi akhirnya tertarik untuk menayangkannya.

Tentunya ketertarikan mereka disambut baik oleh Aditya dan teman-temannya di The Little Giantz. Dia menilai YouTube jangkauannya masih sangat terbatas di kota-kota dengan jaringan internet yang memadai saja. “Televisi masih jadi sarana atau andalan hiburan banyak masyarakat Indonesia, lewat kehadiran Nussa di televisi, kebaikan bisa disebarluaskan lebih luas lagi.”

Tak hanya itu, Nussa juga bersiap tayang di layar lebar berkat ketertarikan Visinema Pictures. Mereka ingin menjadikan Nussa The Movie sebagai film animasi perdananya. Namun, kondisi pandemi Covid-19 tidak menutup kemungkinan akan membuat rencana tersebut urung terlaksana.

ISENG-ISENG

Berbeda dengan Nussa yang membawa nilai-nilai Islami dan kebaikan, karakter animasi Si Nopal justru tampil dengan gaya kocak. Percakapan Nopal bersama keluarganya seper Cutie, Caty, Abah, dan Ibu kerap mengundang gelak tawa.

Naufal Faridurrazak adalah sosok di balik serial animasi yang beberapa waktu lalu sempat bekerja sama dengan Facebook untuk memberikan edukasi aman menggunakan media sosial.

Menurut Naufal, Animasi Si Nopal lahir dari kegemarannya menggambar komik ketika duduk di bangku kuliah 5 tahun silam. Dia menciptakan beberapa karakter sesuai dengan imajinasinya menggunakan aplikasi di ponselnya atau perangkat lunak di komputernya. Kemampuannya tersebut dipelajarinya secara otodidak.

Naufal mengaku tak berniat untuk mempopulerkan karyanya. Apa yang dia lakukan hanya sebatas untuk
mengisi waktu luangnya.

“Awalnya cuma iseng-iseng saja waktu kuliah 2015, tapi kok banyak yang suka. Pertama itu Si Nopal komik yang terbit di webtoon CIAYO dan Facebook, terus stopmotion komik [yang diunggah ke] YouTube. Lama kelamaan malah jadi serial animasi yang tayang pertama pada 2018,” ungkapnya.

Kepopuleran Animasi Si Nopal di YouTube berhasil mencuri perha an banyak pihak, tak terkecuali stasiun televisi nasional. Beberapa pihak stasiun televisi nasional pernah mengajukan penawaran tayang ke Naufal.

Namun, dia belum berani menerimanya lantaran merasa tak memiliki sumber daya memadai untuk memenuhi target yang diminta. Naufal tak mempersoalkan biaya produksi lantaran Animasi Si Nopal masih mengusung format animasi dua dimensi, yang notabene jauh lebih murah dibandingkan format animasi tiga dimensi.

“Tim kami masih keluarga, bisa dibilang masih isengiseng juga. Enggak kuat kalau kejar tayang di televisi
begitu."

Animasi Si Nopal memang bukan garapan studio animasi profesional, produksinya dilakukan dari rumah Naufal di Bogor. Naufal dibantu adik kandungnya, adalah adik kandung Naufal, Nadiah Rifatum Mumtaz. Dia mendapat tugas mengisi suara suara Cutie yang terdengar menggemaskan sekaligus menyebalkan bagi sebagian
orang.

Naufal punya harapan suatu saat karyanya bisa tayang di layar lebar dan mendunia. Bersama dengan karya animator lainnya, dia bermimpi animasi Indonesia akan mencuri perhatian dunia.

Sejauh ini, Si Nopal cuku populer di kalangan pengguna internet di Malaysia. Untuk menuju ke sana, dia berupaya memperkuat intellectual property terlebih dahulu, kemudian baru siap-siap lainnya.

"Sekarang animasi kita ini maju dan potensial, udah banyak yang tahun ini bisa ke layar lebar, dan makin banyak agensi yang produksi. Makin ramai, tapi bukan berarti pasarnya enggak ada, masih luas," katanya.

Simak berita lainnya seputar topik artikel ini, di sini :

Film animasi
Editor : Mia Chitra Dinisari
Bisnis Indonesia bersama 3 media menggalang dana untuk membantu tenaga medis dan warga terdampak virus corona yang disalurkan melalui Yayasan Lumbung Pangan Indonesia (Rekening BNI: 200-5202-055).
Ayo, ikut membantu donasi sekarang! Klik Di Sini untuk info lebih lengkapnya.

Bergabung dan dapatkan analisis informasi ekonomi dan bisnis melalui email Anda.

Artikel Terkait



Berita Terkini Lainnya

BisnisRegional

To top