Bisnis.com
Epaper Bisnis Indonesia BIGStore Koran Bisnis Indonesia Bisnis Indonesia Group bisnis tv bisnismuda

Studi : Polusi Udara Sebabkan Banyak Kematian Akibat Covid-19

Para peneliti mengatakan ada bukti keterkaitan yang cukup kuat antara tingkat udara kotor dengan kematian akibat Covid-19. Udara kotor harus dianggap sebagai faktor kunci dalam menangani pandemi, kendati penelitian lebih lanjut masih perlu dilakukan.
Syaiful Millah
Syaiful Millah - Bisnis.com 05 November 2020  |  10:19 WIB
Polusi udara Jakarta. Gambar diambil menjelang Asian Games tahun lalu. - Reuters
Polusi udara Jakarta. Gambar diambil menjelang Asian Games tahun lalu. - Reuters

Bisnis.com, JAKARTA – Peningkatan kecil dalam paparan jangka panjang orang terhadap polusi udara dikaitkan dengan peningkatan 11 persen kematian akibat Covid-19. Studi lain menunjukkan bahwa 15 persen kematian akibat virus corona baru disebabkan oleh udara kotor.

Para peneliti mengatakan ada bukti keterkaitan yang cukup kuat antara tingkat udara kotor dengan kematian akibat Covid-19. Udara kotor harus dianggap sebagai faktor kunci dalam menangani pandemi, kendati penelitian lebih lanjut masih perlu dilakukan.

Sebagian besar ilmuwan berpikir sangat mungkin polusi udara meningkatkan jumlah keparahan kasus Covid-19. Menghirup udara kotor selama bertahun-tahun telah menyebabkan penyakit jantung dan paru-paru, yang memperburuk infeksi virus corona.

Metode standar untuk mengkonfirmasi hubungan antara polusi udara dan Covid-19 adalah dengan menilai sejumlah besar pasien virus corona pada tingkat individu, usia, riwayat merokok, dan detail lainnya yang dapat diperhitungkan.

Dilansir dari The Guardian, Kamis (5/11) Francesca Dominici dari Harvard University mengatakan saat ini ada ratusan studi tingkat kelompok yang telah dilakukan terkait dengan tema ini, kendati sebagian besar belum dilakukan peninjauan.

Dia mengatakan ada cukup bukti untuk segera mengambil tindakan. Menurutnya, tim sudah memiliki banyak bukti tentang efek merugikan kesehatan dari polusi partikel halus sehingga perlu penerapan aturan yang lebih ketat.

“Jumlah bukti terkait Covid-19 juga cukup besar karena sama sekali tidak ada ruginya untuk memprioritaskan beberapa area yang lebih rentan,” tandasnya. Kebijakan yang diminta termasuk mengurangi polusi dan meningkatkan perawatan kesehatan di tempat paling berpolusi.

Penelitian baru yang diterbitkan dalam jurnal Science Advances mempertimbangkan dampak dari peningkatan satu dalam polusi partikel rata-rata selama 16 tahun sebelum pandemi terhadap kematian Covid-19 di 3.089 negara bagian Amerika Serikat, setara dengan 98 persen populasi.

Mark Miller, ahli tentang dampak kesehatan dari polusi udara di Edinburgh University mengatakan bahwa kendati penelitian ini dilakukan di Amerika Serikat, bukan tidak mungkin hal serupa juga terjadi di negara-negara lain.

Studi lainnya yang diterbitkan dalam jurnal Cardiovascular Research menggunakan data polusi udara global dan penelitian Harvard, untuk memperkirakan proporsi kematian akibat Covid-19 yang disebabkan oleh paparan jangka panjang terhadap partikel halus.

Mereka menyimpulkan bahwa 15 persen kematian di seluruh dunia mungkin disebabkan oleh kerusakan akibat udara kotor pada jantung dan paru-paru. Ini setara dengan 180.000 kematian dari total 1,2 juta kasus kematian akibat virus corona baru.

Tim juga membuat perkiraan untuk negara-negara tertentu terkait kematian kasus Covid-19 akibat polusi udara. China dengan angka 27 persen, Jerman sebesar 26 persen, Amerika Serikat 18 persen, dan Inggris dengan persentase 14 persen. Mereka menyebut studi lanjutan diperlukan pada individu untuk mengkonfirmasi hasil.

Anna Hansell dari University of Leicester mengatakan kendati sangat mungkin bahwa ada hubungan antara polusi udara dan kematian akibat Covid-19, masih terlalu dini untuk mencoba mengukurnya secara tepat mengingat bukti yang ada masih belum banyak.

“Namun, ada banyak alasan bagus lainnya untuk bertindak sekarang untuk mengurangi polusi udara, yang sudah dikaitkan dengan 7 juta kematian di seluruh dunia per tahunnya oleh World Health Organization (WHO),” katanya.

Simak berita lainnya seputar topik artikel ini, di sini :

polusi udara Virus Corona
Editor : Mia Chitra Dinisari
Bisnis Indonesia bersama 3 media menggalang dana untuk membantu tenaga medis dan warga terdampak virus corona yang disalurkan melalui Yayasan Lumbung Pangan Indonesia (Rekening BNI: 200-5202-055).
Ayo, ikut membantu donasi sekarang! Klik Di Sini untuk info lebih lengkapnya.

Bergabung dan dapatkan analisis informasi ekonomi dan bisnis melalui email Anda.

Artikel Terkait



Berita Terkini Lainnya

BisnisRegional

To top