Bisnis.com
Epaper Bisnis Indonesia BIGStore Koran Bisnis Indonesia Bisnis Indonesia Group bisnis tv bisnismuda

Ini Mutasi, Penyebaran, dan Vaksin Virus Corona

Virus corona baru sedikit berbeda karena mengakumulasi mutasi tapi pada tingkat yang lebih lambat.
Syaiful Millah
Syaiful Millah - Bisnis.com 07 November 2020  |  10:18 WIB
Ilustrasi Virus Corona (Covid/19)
Ilustrasi Virus Corona (Covid/19)

Bisnis.com, JAKARTA – Para ilmuwan di berbagai negara telah mengidentifikasi ratusan mutasi virus corona. Belum ada penelitian yang mengungkap apa arti dari peristiwa ini bagi penyebaran virus dan seberapa vaksin bakal efektif.

Peneliti awalnya sangat khawatir tentang bagaimana mutasi itu dapat mengubah secara ekstrem cara penyebaran virus dan dampaknya  pada manusia. Namun, virolog yang juga presiden dari Research Aid Network mengatakan perubahan itu mungkin tidak menimbulkan bencana bagi manusia.

Virus secara alami bereplikasi selama proses infeksi. Proses tersebut juga menghasilkan banyak kesalahan, yang berarti virus seperti flu bermutasi dengan cepat. Oleh sebabnya, orang perlu suntikan vaksin setiap tahun.

Namun, lanjutnya, virus corona baru sedikit berbeda karena mereka mengakumulasi mutasi tapi pada tingkat yang lebih lambat. Hal ini disebabkan virus mengoreksi genom yang direplikasi, yang merupakan sebuah proses panjang.

Perlu dicatat bahwa sebagian besar mutasi tidak akan berdampak pada virus atau penyakit yang dihasilkannya. Rossman mengatakan kadang mutasi akan memungkinkan pertumbuhan atau penularan yang lebih besar atau justru melepaskan diri dari sistem kekebalan.

“Untuk SARS-CoV-2, kemampuannya untuk menyebar secara asimptomatik dan pra-gejala adalah apa yang membuat pandemi jauh lebih sulit dikendalikan dan telah meningkatkan jumlah infeksi,” katanya seperti dikutip Express UK, Sabtu (7/11/2020).

Dia mencontohkan gambaran paralel mutasi D614G dari SARS-CoV-2 yang pertama kali diidentifikasi pada bulan Februari. Mutasi tersebut diterjemahkan sebagai lonjakan protein virus, yang memungkinkannya untuk ditularkan secara efektif dari orang-ke orang.

Akan tetapi, itu tidak memengaruhi tingkat keparahan penyakitnya. Akibat mutasi tersebut, D614G menjadi bentuk virus yang paling dominan pada Maret dan terus menjadi bentuk utama yang terlihat pada kebanyakan kasus virus saat ini.

Mutasi lain telah terjadi sejak saat itu dan semakin lama pandemi berlanjut, semakin banyak mutasi yang akan muncul. Menariknya, setiap virus dapat mengubah perilakunya secara drastis misal tingkat penyebarannya yang mungkin melambat.

Oleh karenanya tidak mungkin kemunculan vaksin atau pengobatan antivirus akan mengakibatkan virus lenyap. Rossman mengatakan penggunaan perawatan ini memberikan tekanan selektif pada virus, yang secara efektif memberi penghargaan pada mutasi yang membuat pengobatan tidak efektif.

DIa mencontohkan obat antivirus eksperimental remdesivir. Obat itu menargetkan protein polimerase yang mereplikasi genom virus dengan merusak fungsi protein virus kritis. Namun, jika SARS-CoV-2 bermutasi ke titik yang menghentikan kerja remdesivir, virus akan terus menyebar dan remdesivir akan menjadi pengobatan usang.

“Saat SARS-CoV-2 bermutasi secara perlahan, kemungkinan pengobatan baru akan mulai efektif dan perilaku virus tidak akan berubah secara dramatis selama beberapa bulan mendatang. Penting untuk bekerja menuju penahan virus dan mengakhiri pandemi karena semakin lama virus beredar, semakin besar kemungkinan munculnya mutasi baru,” katanya.


Simak Video Pilihan di Bawah Ini :

Simak berita lainnya seputar topik artikel ini, di sini :

mutasi Virus Corona Covid-19
Editor : Novita Sari Simamora
Bisnis Indonesia bersama 3 media menggalang dana untuk membantu tenaga medis dan warga terdampak virus corona yang disalurkan melalui Yayasan Lumbung Pangan Indonesia (Rekening BNI: 200-5202-055).
Ayo, ikut membantu donasi sekarang! Klik Di Sini untuk info lebih lengkapnya.

Bergabung dan dapatkan analisis informasi ekonomi dan bisnis melalui email Anda.

Artikel Terkait



Berita Terkini Lainnya

BisnisRegional

To top