Bisnis.com
Epaper Bisnis Indonesia BIGStore Koran Bisnis Indonesia Bisnis Indonesia Group bisnis tv bisnismuda

Tetap Bergerak Agar Tulang Bebas dari Osteoporosis

Masalah kesehatan yang harus diantisipasi seiring dengan pertambahan usia adalah osteoporosis.
Rezha Hadyan
Rezha Hadyan - Bisnis.com 11 November 2020  |  09:03 WIB
Pengeroposan tulang (osteoporosis) - Istimewa
Pengeroposan tulang (osteoporosis) - Istimewa

Bisnis.com, JAKARTA -  Risiko pelemahan massa dan struktur tulang yang umumnya dialami saat memasuki usia lanjut sering kali kurang mendapatkan perhatian. Hal itu, lantaran penyakit yang dikenal sebagai osteoporosis ini umumnya datang tanpa gejala (silent disease) sehingga mayoritas orang cenderung abai dan dak mengantisipasinya sejak awal.

Tulang sebagai kerangka penyangga tubuh tentunya menjadi bagian dari organ penting yang harus dijaga kesehatannya agar terhindar dari pengeroposan.

Memang secara medis ada beberapa risiko penyakit tulang yang perlu diwaspadai, antara lain osteomalasia yang ditandai dengan tulang rapuh dan lemah akibat kekurangan vitamin D, atau osteomielitis berupa infeksi bakteri yang menyebabkan peradangan

pada tulang atau tulang sumsum, serta kanker tulang. Namun secara statistik, osteoporosis menjadi kasus yang prevalensinya tergolong tinggi sehingga harus diperhatikan.

Staf Ahli Menteri Kesehatan, Achmad Yurianto memprediksi prevalensi osteoporosis di Indonesia akan mengalami peningkatan dalam beberapa tahun ke depan. Pasalnya, tak sedikit masyarakat yang masih abai terhadap penyakit yang saat ini diderita oleh 200 juta di seluruh dunia itu.

Yuri, demikian sapaan akrabnya menjelaskan bahwa lebih dari 50 persen kejadian patah tulang diakibatkan oleh osteoporosis. Sejauh ini, pihaknya mencatat angka patah tulang yang diakibatkan oleh penyakit tersebut di Tanah Air mencapai 200 kasus dari 100 ribu pasien patah tulang yang mendapatkan penanganan medis.

Angka tersebut masih belum termasuk kejadian patah tulang panggul yang menimpa 119 orang dari 100 ribu populasi. Patah tulang panggul hampir seluruhnya dialami oleh mereka yang usia paruh baya atau lebih dari 40 tahun.

Apa yang disampaikan Yuri menguatkan data yang dimiliki oleh Perhimpunan Osteoporosis Indonesia (Perosi). Data tersebut menyatakan bahwa osteoporosis lebih banyak terjadi pada perempuan berusia 50-70 tahun dengan persentase sebesar 23 persen. Persentase tersebut mengalami kenaikan hingga 53% untuk perempuan berusia lebih dari 70 tahun.

Walaupun demikian, bukan berarti mereka yang masih muda tak memiliki peluang mengalami kejadian tersebut. Kurangnya nutrisi yang dibutuhkan oleh tulang ditambah lagi dengan gaya hidup tidak sehat menjadi pemicunya.

“[Osteoporosis] bisa menjadi ancaman serius bagi pembangunan nasional karena osteoporosis atau penyakit pengeroposan tulang ini bisa menyerang siapa saja, tak terkecuali anak muda,” tegas Yuri.

Sebagai upaya untuk mencegah osteoporosis, Yuri mengajak kalangan muda untuk tetap aktif bergerak, alih-alih hanya memenuhi nutrisi yang dibutuhkan oleh tulang saja. Menurutnya, pandemi Covid-19 bukan halangan untuk tetap melakukan aktivitas fisik yang bisa dilakukan di rumah.

Terakhir Yuri mengungkapkan bahwa pemerintah yang dalam hal ini adalah Kementerian Kesehatan telah melakukan sejumlah upaya yang melibatkan berbagai pihak untuk menekan prevalensi osteoporosis di Indonesia.

“Kami terus melakukan riset operasional dan melakukan pendekatan berbasis kemitraan, peningkatan dan pengembangan sumber daya serta meningkatkan intervensi,” tutupnya.

Sementara itu, Ketua Perosi dr. Fiastuti Witjaksono mengatakan osteoporosis pada dasarnya bisa dicegah dengan pola makan yang baik sejak usia muda. Selain mencukupi asupan kalsium dan vitamin D yang dibutuhkan oleh tulang, hal yang perlu dilakukan adalah menghindari makanan atau minuman dengan kadar garam tinggi dan kafein.

“Makanan dan minuman seperti soda, kopi sebaiknya dikurangi atau dihindari. Demikian halnya dengan makanan dengan kadar garam yang tinggi dan rokok,” ujarnya.

Selain itu, yang tak kalah penting adalah melakukan aktivitas fisik yang teratur dan terukur. Adapun, terukur yang dimaksud oleh Fiastuti adalah aktivitas fisik yang disesuaikan dengan usia dan kondisi tubuh masing-masing individu dipandu oleh instruktur berpengalaman.

Adapun, terkait dengan peluang seseorang mengalami osteoporosis, menurut Fiastuti perempuan yang berusia lebih dari 50 tahun merupakan golongan yang paling rentan.

“Osteoporosis menyerang satu dari tiga wanita di usia lebih dari 50 tahun. Sedangkan untuk pria dengan usia yang sama perbandingannya adalah satu dari lima pria,” ungkapnya.

Dokter spesialis kesehatan olahraga yang juga menjabat sebagai Ketua Bidang Pendidikan dan Pelatihan Perhimpunan Warga Tulang Sehat dr. Ade Tobing SpKO mengatakan bahwa osteoporosis merupakan penyakit yang dikategorikan sebagai penyakit serius. Namun, masih banyak masyarakat yang tak menyadarinya lantaran tidak ada gejala awal yang mereka rasakan.

“Osteoporosis adalah penyakit yang serius karena bisa mengakibatkan disabilitas atau bahkan kematian. Disebut dengan silent disease karena nggak ada gejala. Orang nggak akan datang untuk periksa osteoporosis. Karena nggak ada rasa nyeri atau apapun yang mereka rasakan. Datang dengan keluhan patah [tulang],” paparnya.

Simak berita lainnya seputar topik artikel ini, di sini :

kesehatan penyakit tulang
Editor : Novita Sari Simamora
Bisnis Indonesia bersama 3 media menggalang dana untuk membantu tenaga medis dan warga terdampak virus corona yang disalurkan melalui Yayasan Lumbung Pangan Indonesia (Rekening BNI: 200-5202-055).
Ayo, ikut membantu donasi sekarang! Klik Di Sini untuk info lebih lengkapnya.

Bergabung dan dapatkan analisis informasi ekonomi dan bisnis melalui email Anda.

Artikel Terkait



Berita Terkini Lainnya

BisnisRegional

To top