Bisnis.com
Epaper Bisnis Indonesia BIGStore Koran Bisnis Indonesia Bisnis Indonesia Group

Iklan YouTube Diperbanyak, bisa Tayang di Video yang Tidak Dimonetisasi

Pemasangan iklan di konten yang tidak dimonetisasi oleh kreatornya merupakan salah satu kebijakan layanan (terms of service) di YouTube. Adapun sebelumnya, iklan hanya dipasang di konten yang terdaftar dalam YouTube Partner Program (YPP).
Rezha Hadyan
Rezha Hadyan - Bisnis.com 20 November 2020  |  14:02 WIB
Logo youtube - Akbar Evandio
Logo youtube - Akbar Evandio

Bisnis.com, JAKARTA – Jangan kaget apabila baru-baru ini iklan yang tayang di YouTube lebih banyak dari biasanya. Karena platform berbagi video itu telah mengeluarkan kebijakan baru yang mana iklan dapat ditayangkan di seluruh video, alih-alih hanya di video yang dimonetisasi saja.

Pemasangan iklan di konten yang tidak dimonetisasi oleh kreatornya merupakan salah satu kebijakan layanan (terms of service) di YouTube. Adapun sebelumnya, iklan hanya dipasang di konten yang terdaftar dalam YouTube Partner Program (YPP).

Sebagai catatan, YPP merupakan program monetisasi konten lewat penayangan iklan. Kreator konten akan mendapatkan pendapatan dari iklan yang tayang di konten-konten mereka. Syarat yang harus dipenuhi oleh kreator konten untuk bergabung dalam program tersebut adalah memiliki setidaknya 1.000 pelanggan (subscribers) dan telah ditonton selama 4.000 jam.

Iklan adalah sumber pendapatan yang besar bagi YouTube dan perusahaan induknya, Google. Pendapatan yang diperoleh YouTube melalui penayangan iklan mencapai US$5 miliar. Tentunya, pendapatan tersebut masih harus dibagi lagi ke kreator konten yang terdaftar dalam YPP.

Iklan juga menjadi sumber pendapatan sebagian besar kreator konten di YouTube. Bahkan, tak sedikit dari mereka yang tidak bisa hidup atau memproduksi konten-konten baru tanpa adanya dukungan dari iklan.

Melansir The Verge pada Jumat (20/11/2020), kebijakan terbaru dari YouTube itu tidak diterima dengan baik atau mendapatkan penolakan dari para kreator konten. Tentunya hal tersebut merusak hubungan antara kreator konten dengan YouTube yang terjalin selama bertahun-tahun.

Kreator konten di YouTube sebenarnya sudah beberapa kali mengeluhkan kebijakan yang dinilai merugikan mereka. Pada akhir 2016 dan awal 2017, mereka tiba-tiba mengalami penurunan pendapatan iklan karena platform tersebut berjuang untuk memuat video anak-anak yang mengganggu dan konten berbahaya lainnya.

Kemudian pada tahun 2018, insiden Logan Paul menyebabkan perubahan pada kebijakan YPP dan semakin sulit bagi pembuat konten untuk mulai mendapatkan pendapatan.

YouTube tidak mengatakan berapa banyak pembuat konten yang akan melihat iklan dijalankan di videonya tanpa membayarnya, tetapi perusahaan mengonfirmasi bahwa saluran dari semua ukuran dapat melihat iklan muncul.

YouTube juga mengonfirmasi bahwa iklan tetap tidak akan berjalan di video dari pembuat non-mitra yang berpusat pada topik sensitif. Ini termasuk politik, agama, alkohol, dan perjudian.

Simak berita lainnya seputar topik artikel ini, di sini :

iklan youtube
Editor : Mia Chitra Dinisari
Bisnis Indonesia bersama 3 media menggalang dana untuk membantu tenaga medis dan warga terdampak virus corona yang disalurkan melalui Yayasan Lumbung Pangan Indonesia (Rekening BNI: 200-5202-055).
Ayo, ikut membantu donasi sekarang! Klik Di Sini untuk info lebih lengkapnya.

Bergabung dan dapatkan analisis informasi ekonomi dan bisnis melalui email Anda.

Artikel Terkait



Berita Terkini Lainnya

BisnisRegional

To top