Bisnis.com
Epaper Bisnis Indonesia BIGStore Koran Bisnis Indonesia Bisnis Indonesia Group bisnis tv bisnismuda

Awas Infeksi Virus Corona Ulang, Ini Informasi yang Wajib Diketahui

Orang yang sudah pernah terinfeksi virus corona (Covid-19) akan lebih mudah terinfeksi kembali.
Syaiful Millah
Syaiful Millah - Bisnis.com 08 Januari 2021  |  17:43 WIB
Petugas medis memasukkan sampel tes usap seorang pasien dalam kunjungan pemeriksaan kesehatan ke rumah-rumah di New York, AS, Selasa (4/8/2020). - Bloomberg/Angus Mordant
Petugas medis memasukkan sampel tes usap seorang pasien dalam kunjungan pemeriksaan kesehatan ke rumah-rumah di New York, AS, Selasa (4/8/2020). - Bloomberg/Angus Mordant

Bisnis.com, JAKARTA – Ketika negara-negara di seluruh dunia masih berjuang melawan pandemi salah satunya dengan upaya vaksinasi, para ahli medis menemukan kemungkinan infeksi ulang virus corona (Covid-19) yang lebih baru.

Sejauh ini, hanya beberapa ratus kasus di seluruh dunia yang telah diidentifikasi terkait infeksi ulang. Akan tetapi, menurut pendapat para ahli, ada cukup bukti untuk mengatakan bahwa infeksi ulang adalah ancaman yang sangat nyata dan menimbulkan kekhawatiran kebangkitan pandemi.

Kekebalan rendah, respons antibodi meruncing, peningkatan kerentanan terhadap infeksi kronis dan risiko sindrom pasca covid, ada banyak kerentanan yang bahkan dapat ditimbulkan oleh paparan ringan terhadap covid-19. Mereka yang memiliki riwayat komorbid ditemukan lebih berisiko tinggi.

Dilansir Times of India, Jumat (8/1/2021) saat ini, penelitian yang lebih baru telah muncul yang juga menunjukkan bahwa orang yang menderita beberapa bentuk penyakit yang sudah ada sebelumnya mungkin tidak terlindungi lama dari virus.

Banyak ahli percaya bahwa infeksi ulang Covid-19 dapat memiliki arti yang berbeda saat ini, apakah itu jejak viral load yang tersisa dalam tubuh, mengalami serangan infeksi lebih ringan, tubuh tidak membangun cukup antibodi, respons pencegahan, dan banyak faktor lain yang bisa menyebabkan infeksi ulang.

Seperti yang dipahami saat ini, banyak hal bergantung pada respons antibodi yang dihasilkan dalam tubuh. Seseorang memperoleh antibodi setelah infeksi, yang membantu tubuh meningkatkan respons pertahanan yang baik di masa depan.

Namun, karena sifat pandemi yang tidak dapat diprediksi, sulit untuk memastikan berapa lama antibodi bertahan dan melindungi orang. Apa yang ada saat ini menyatakan antibodi bertahan selama 3-6 bulan setelah infeksi dan pemulihan yang sehat.

Dari bukti yang ada sekarang, keberadaan antibodi juga dapat berkurang atau tetap konsisten tergantung pada jenis keparahan infeksi dan penyakit yang ada sebelumnya. Sebuah penelitian oleh PGI menemukan bahwa penderita diabetes memiliki risiko tinggi untuk sakit karena Covid-19 lebih dari sekali.

Demikian pula mereka dengan kekebalan yang terganggu, mungkin juga memiliki respons antibodi yang terganggu. Hal ini akan memberi ruang bagi Covid-19 untuk kembali menyerang orang di masa depan dan menyebabkan sakit pada pasien.

Sementara itu dalam beberapa kasus, orang mungkin tidak mengembangkan antibodi sama sekali. Analisi kasus pada April-Juli 2020 menemukan bahwa pasien dengan diabetes memiliki risiko lebih tinggi mengalami efek samping dan infeksi ulang dibandingkan mereka yang tidak menderita diabetes.

Konsultan penyakit dalam dari Aster R Hospital S.N Aravinda menegaskan bahwa lebih dari sekadar komorbid, tindakan pencegahanlah yang menentukan risio seseorang terkena Covid-19 dan seberapa kuat kekebalan tubuh.

Dia menyampaikan sistem kekebalan bereaksi berbeda untuk setiap orang yang terinfeksi Covid-19, tergantung pada kekuatan dan jumlah viral load yang mereka hadapi, serta penyakit penyerta mereka. Beberapa mungkin mengembangkan tanggapan yang kuat dan sebaliknya.

Banyak dari hal tersebut bergantung pada respons kekebalan tubuh. Jika orang telah membahayakan kekebalannya, satu-satunya hal yang akan membuat orang aman adalah menjaga jarak, mengenakan masker, dan kebersihan yang baik.

“Tindakan pencegahan akan membuat Anda aman lebih lama, sementara vaksin akan membawa kita lebih dekat untuk mencapai kekebalan kelompok,” katanya.

Konsultan senior perawatan kritis di Columbia Asia Referral Hospital Yeshwanthpur, Pradeep Rangappa, mengatakan periode 6 hingga 12 setelah infeksi virus adalah waktu yang paling penting bagi pasien. Dia menambahkan bahwa infeksi ulang meskipun jarang tapi bisa terjadi.

Infeksi ulang pada semua virus biasa terjadi dan dapat terjadi dalam setahun. Dia menambahkan bahwa pasien yang mengalami infeksi tanpa gejala adalah orang yang paling berisiko. Menurutnya, infeksi ulang umum terjadi pada pasien dengan kekebalan bawaan.

Dia melanjutkan, pasien tanpa gejala atau gejala ringan diasumsikan memiliki kekebalan bawaan ini. Selain itu, kekebalan adaptif yang terjadi ketika ada replika virus yang ekstensif di dalam tubuh dan mereka mengalami pemulihan yang bergejolak.

“Penularan virus yang terjadi pada Covid-19 tampaknya lebih lama pada pasien tanpa gejala dan pasien ini ditemukan memiliki antibodi tingkat rendah. Ini adalah pasien yang kemudian menjadi jauh lebih rentan terhadap infeksi ulang,” katanya.

Simak berita lainnya seputar topik artikel ini, di sini :

Virus Corona Gejala Penyakit Covid-19
Editor : Novita Sari Simamora
Bisnis Indonesia bersama 3 media menggalang dana untuk membantu tenaga medis dan warga terdampak virus corona yang disalurkan melalui Yayasan Lumbung Pangan Indonesia (Rekening BNI: 200-5202-055).
Ayo, ikut membantu donasi sekarang! Klik Di Sini untuk info lebih lengkapnya.

Bergabung dan dapatkan analisis informasi ekonomi dan bisnis melalui email Anda.

Artikel Terkait



Berita Terkini Lainnya

BisnisRegional

To top