Bisnis.com
Epaper Bisnis Indonesia BIGStore Koran Bisnis Indonesia Bisnis Indonesia Group bisnis tv bisnismuda

Mengenal Gagal Jantung, Gejala, Bahaya dan Cara Mengatasinya

Dr Shah menyarankan untuk berhenti merokok, mengonsumsi alkohol, dan mengontrol kondisi tertentu seperti tekanan darah tinggi dan diabetes.
Ni Luh Anggela
Ni Luh Anggela - Bisnis.com 09 September 2021  |  09:47 WIB
Ilustrasi gagal jantung
Ilustrasi gagal jantung

Bisnis.com, JAKARTA – Heart failure atau gagal jantung adalah kondisi ketika jantung tidak memompa darah sebagaimana mestinya. Akibatnya, jantung tidak mampu mengalirkan darah ke seluruh tubuh dan cairan dapat menumpuk di paru-paru, menyebabkan Anda sulit bernafas.
 
Dr Vihang Shah, konsultan ahli jantung dari Pranayam Lung and Heart Institute, Vadodara, mengatakan bahwa gagal jantung merupakan masalah global yang berkembang pesat di antara orang-orang dari berbagai kelompok usia, melansir Indian Express, Kamis (9/9/2021).
 
Dia menambahkan, gagal jantung sering terjadi ketika kondisi lain seperti tekanan darah tinggi, kolesterol tinggi, diabetes, telah merusak atau melemahkan jantung. Ini juga berkembang ketika otot-otot jantung menjadi terlalu kaku untuk memompa darah.
 
“Detak jantung abnormal (aritmia) dan peradangan otot jantung (miokarditis) juga merupakan beberapa akar penyebab gagal jantung. Infeksi tertentu, seperti Covid, membuat jantung lemah dan dapat menyebabkan kondisi fatal ini,” katanya.
 
Gagal jantung adalah kondisi progresif dan semakin memburuk seiring waktu karena aksi pemompaan jantung semakin lemah.
 
Gejalanya meliputi sakit dada, sesak napas, pingsan, kelelahan, lemah, bengkak pada anggota badan, detak jantung cepat atau tidak teratur, batuk terus menerus dengan semburat darah atau lendir berwarna putih atau merah muda, pembengkakan di perut, kenaikan berat badan yang cepat, mual dan kurang nafsu makan, serta kewaspadaan menurun. Gejala ini dapat berkembang secara bertahap atau terjadi secara tiba-tiba.
 
Meskipun tidak ada obat permanen untuk gagal jantung, Dr Shah mengatakan sangat mungkin untuk mengelolanya secara efektif melalui perubahan gaya hidup, terapi dan prosedur medis.
 
Dr Shah menyarankan untuk berhenti merokok, mengonsumsi alkohol, dan mengontrol kondisi tertentu seperti tekanan darah tinggi dan diabetes.
 
“Karena obesitas juga merupakan salah satu akar penyebab gagal jantung, sangat penting untuk mengelola berat badan yang sehat dan mengikuti diet seimbang. Mengelola tingkat stres dan tidur yang cukup juga dapat membantu.” katanya.
 
Mengidentifikasinya pada tahap awal bisa sangat bermanfaat. Tergantung pada kondisi pasien, perawatan medis atau bedah direkomendasikan untuk mengurangi risiko kematian mendadak.
 
Untuk gagal jantung lanjut, operasi, perangkat implan seperti alat pacu jantung dan ICD (defibrillator cardioverter implan) dan terapi atau bahkan transplantasi jantung dianjurkan. Prosedur seperti alat bantu ventrikel kiri (LVAD), yang merupakan pompa mekanis yang dioperasikan dengan baterai, membantu ruang kiri jantung untuk memompa darah.
 
Disarankan untuk mewaspadai gejala yang menetap dan melakukan pemeriksaan rutin terutama tekanan darah, gula darah dan kolesterol, untuk memantau kesehatan jantung.

Simak Video Pilihan di Bawah Ini :

Simak berita lainnya seputar topik artikel ini, di sini :

obesitas serangan jantung
Editor : Mia Chitra Dinisari

Bergabung dan dapatkan analisis informasi ekonomi dan bisnis melalui email Anda.

Artikel Terkait



Berita Terkini Lainnya

Terpopuler

Download Aplikasi E-Paper sekarang dan dapatkan FREE AKSES selama 7 hari!
qrcode bisnis indonesia logo epaper
To top