Pengidap tuberkulosis (TB)/tuberkulosis.org
Health

Simak Terapi untuk Penderita Tuberkulosis Resisten Obat

Arlina Laras
Senin, 20 Maret 2023 - 20:42
Bagikan

Bisnis.com, JAKARTA - Tuberkulosis atau TBC adalah penyakit yang disebabkan oleh bakteri Mycobacterium Tuberculosis yang menyerang organ paru-paru yang bisa diidap oleh siapa saja.

Indonesia sendiri menjadi negara kedua dengan kasus TBC terbanyak di dunia setelah India, di mana secara kumulatif, Kemenkes telah mendeteksi 443.235 kasus TBC pada 2021 dan naik menjadi 717.941 kasus pada 2022.

Meski tersedia obat-obatan untuk menyembuhkan TB, tetapi peningkatan penderita resistensi obat menunjukkan adanya keadaan darurat global. Di Indonesia, ada sekitar 1,8 persen atau sekitar dengan 8.268 pasien mengalami tuberkulosis resisten obat (TB-RO). 

Salah satu penyintas TB-RO yang saat ini menjadi Ketua Perhimpunan Organisasi Pasien (POP) TB Indonesia Budi Hermawan turut menceritakan, penyebab seseorang ada di kondisi itu, biasanya berasal dari bakteri Mycobacterium Tuberculosis yang kebal akan obat. 

“Kalau dari pengalaman pribadi, saya sakit TB itu sudah dari tahun 2001. Tapi, karena kurangnya pengetahuan. Saya ingat betul di bulan keempat saya menghentikan pengobatan, akhirnya makin parah dan ternyata saya diidentifikasi kena TB-RO,” ujarnya dalam Virtual Media Briefing llumina, Senin (20/3/2023). 

Akibatnya, dia harus melakukan proses pengobatan selama 10 tahun, terhitung sejak 2001 hingga 2011. Dirinya mengakui, pengobatan TB-RO yang dijalani oleh Budi memberikan dampak besar, utamanya dalam ekonomi keluarga kecilnya. 

“Saya dulu harus kontrol ke dokter tiap hari. Dulu saya kerja di Bogor, secara waktu enggak memungkinkan untuk bolak-balik Jakarta. Pengobatan berjalan 24 bulan, jadi saya memilih resign,” ujarnya. 

Sambil terisak, dirinya kembali memutar memori pahit, bagaimana dia harus tinggal jauh dari keluarga kecilnya. Pasalnya, ada kehadiran malaikat kecil yang harus dia jaga. 

“Saat itu, saya punya anak kecil. Sehingga, saya harus kos di Jakarta Timur dan berjuang dari nol, dengan jualan paket data. Saat itu, sudah habis-habisan dan uang itu dipakai untuk makan sehari-hari saja,” ungkapnya. 

Kala itu, Budi menjalani hari-hari berulang selama dua tahun dengan penuh kesendirian dan penuh dengan efek samping obat yang selalu dirasakan. 

Tidak perlu ditanya lagi, ada satu obat yang rasanya pahit sekaligus memiliki efek “mengerikan” terhadap tubuh pasien.

“Saya dulu berpikir, ini benarkah obat yang saya minum? Kok ya diminum malah menimbulkan pusing, mual, seperti tak kunjung sembuh,” ungkapnya. 

Budi pun mengakui proses medis untuk deteksi tuberkolosis yang dirinya alami butuh waktu berbulan-bulan. 

“Saat itu, tiga bulan saya menghabiskan waktu untuk benar-benar tahu apakah saya mengidap tuberkolosis atau tidak,” ungkapnya. 

Terapi untuk Penderita TB-RO

Pada kesempatan yang sama, Director of AMEA Product Marketing & Emerging Markets Illumina Anna Carrera mengatakan, memang sebelum era genome sequencing, diagnosis untuk TB menggunakan pemeriksaan kultur dan butuh waktu sampai 8 minggu karena perlu menumbuhkan Mycobacterium tuberculosis yang memang tumbuh sangat pelan. 

“Karena organisme ini hidup, ada risiko paparan pada petugas di lab,” ujarnya. 

Sehingga, baginya pengurutan genom (genome sequencing) membawa babak baru dalam dunia kesehatan untuk mendukung pengujian resistensi obat TB

“Illumina saat ini menggunakan pendekatan kultur bebas untuk mengidentifikasi mikobakteri TB di lebih dari 100 spesies mikobakteri nonTB, dan untuk memprediksi resistensi terhadap 15 antibiotik," katanya. 

Dia memaparkan, hasil pengujian resistensi TB ini juga sudah bisa diketahui dalam 24 hingga 48 jam secara langsung dari sampel pernapasan primer. 

Hal ini seakan sejalan dengan sikap pemerintah yang tengah membentuk Biomedical & Genome Science Initiative (BGSi), sebagai bagian dari transformasi sistem kesehatan Indonesia dalam bio teknologi.

Peneliti di Badan Penelitian dan Pengembangan Kesehatan, Kemenkes RI Kindi Adam mengatakan, selain berperan penting dalam penanggulangan penyakit TBC. Teknologi pengurutan genom ini juga telah digunakan Indonesi untuk mengidentifikasi virus penyebab Covid-19 dan juga pembuatan vaksin.

“Kami sangat menyambut baik. Apalagi, genome sequencing sudah dipakai secara luas di banyak laboratorium di seluruh dunia untuk mendeteksi mekanisme resistensi obat,” ungkapnya. 

Penulis : Arlina Laras
Bagikan

Artikel Terkait

Berita Lainnya

Berita Terkini

Nyaman tanpa iklan. Langganan BisnisPro

Nyaman tanpa iklan. Langganan BisnisPro

Terpopuler

Nyaman tanpa iklan. Langganan BisnisPro

Rekomendasi Kami

Nyaman tanpa iklan. Langganan BisnisPro