Berpacu di malam hari

Lari, olahraga yang bisa dilakukan kapan saja, dimana saja, tanpa dipungut biaya, dan menggunakan alat minimalis. Cukup sepatu kets dan baju yang nyaman serta menyerap keringat.
News Editor
News Editor - Bisnis.com 24 September 2011  |  07:37 WIB

Lari, olahraga yang bisa dilakukan kapan saja, dimana saja, tanpa dipungut biaya, dan menggunakan alat minimalis. Cukup sepatu kets dan baju yang nyaman serta menyerap keringat.

Selama ini kegiatan lari di Jakarta berpusat di kawasan Senayan, hampir setiap pagi atau hari minggu ada saja orang berlari di sana, atau merambah ke Jalan Sudirman-Thamrin melalui bundaran Hotel Indonesia (HI) saat car free day.Kini, kegiatan lari juga marak dilakukan di malam hari. Sepulang kerja para karyawan, profesional, dan eksekutif, berusia 25 tahun hingga 45 tahun berkumpul untuk lari bersama di seputar Senayan hingga ke Jalan Sudirman. “Kami sengaja lari malam hari keluar, melewati jalan Sudirman yang ramai. Hal ini sebagai publikasi bahwa orang Jakarta tetap bisa meluangkan waktu untuk olahraga kapan saja, apalagi bagi mereka yang sulit bangun pagi di akhir pekan,” ujar Yasha Chatab, konsultan pemasaran sekaligus penggiat Indo Runners kepada Bisnis, baru-baru ini.Semangat komunitas ini untuk berlari di malam hari memang luar biasa. Hal ini terbukti ketika Bisnis menemui mereka beberapa waktu lalu. Saat itu Jakarta sedang diguyur hujan lebat dari sore.

Biasanya, jika hujan acara di luar ruangan batal, tetapi ada belasan orang yang berkumpul menunggu hujan reda untuk lari bersama. Mereka pun tetap tampil gaya dengan sepatu kets, baju olahraga, serta iPod atau BlackBerry yang dilengkapi aplikasi penghitung jarak tempuh ketika berlari.Sebelum mulai lari mereka melakukan pemanasan bersama-sama sembari mendiskusikan rute lari yang akan diambil. Akhirnya diambil keputusan malam itu mereka lari di Senayan, karena hujan, banyak genangan di sepanjang trotoar Jalan Jend. Sudirman.Pada awalnya, komunitas ini rutin lari pada Minggu pagi. Namun karena pada waktu itu puasa, banyak anggota komunitas yang tidak kuat lari karena berpuasa dan sulit bangun di pagi hari.

“Akhirnya kami mengambil momen malam jelang hari kemerdekaan untuk lari bersama dengan dress code merah putih. Ternyata animo cukup besar, lebih dari 60 orang dari sekitar 2.277 orang yang terdaftar di Facebook Indo Runners,” ujar pemain biola Maylaffayza yang aktif lari bersama suaminya, Yasha.Tingginya animo saat itu menunjukkan banyaknya orang yang ternyata senang lari di malam hari. Akhirnya Indo Runners pun memiliki jadwal tetap untuk lari bersama setiap Kamis malam.

Ada beberapa alasan pemilihan hari. Kamis malam diambil karena banyak orang sudah menyelesaikan pekerjaan utamanya di hari Kamis dan memerlukan olahraga untuk melepas kepenatan.

Jika dilakukan Jumat malam, kebanyakan waktunya sudah digunakan untuk perjalanan atau kegiatan akhir pekan bersama keluarga. Setiap kamis malam rata-rata terkumpul sekitar 40 hingga 60 orang peserta silih berganti. Ada yang rutin setiap pekan, ada yang dua pekan sekali atau lebih.Para anggota komunitas ini juga sering memacu diri mereka dengan mengikuti berbagai perlombaan lari 5 km atau 10 km dari dalam negeri hingga ke mancanegara. Paling sering ke negara tetangga terdekat, Singapura.Maylaf mengaku dirinya sering ke luar negeri bersama teman untuk mengikuti lomba lari. Tujuannya bukan memenangkan perlombaan, tetapi lebih pada meraih pencapaian pribadi, aktualisasi diri, belajar disiplin dan memperkuat mental, hingga ada yang ingin kurus.Yasha mengaku dirinya menemukan banyak ide dan bisa melepaskan kepenatan pekerjaan ketika berlari. Tidak hanya pasangan suami istri ini, Erwin Wibowo, pecinta lari yang tergabung dengan komunitas Adination of Runners Indonesia mengaku sering berlari sepulang kerja di Senayan minimal sekali dalam sepekan.“Saya mulai lari sejak 2007, awalnya kerena kesehatan, mau menurunkan berat badan. Lari menjadi pilihan karena simpel dan bisa dilakukan dimana saja. Ada tugas kantor ke luar kota atau luar negeri tinggal modal bawa sepatu,” ujarnya.Dia mengaku sudah beberapa bulan terakhir lari malam di Jakarta, biasanya keliling Senayan, tetapi beberapa pekan terakhir memutuskan mulai agak sore agar tidak terlalu malam selesainya.

Saat ini semakin banyak individu maupun komunitas lari yang melakukan olahraganya di malam hari. Berbagai hal menjadi faktor pemicunya, namun tetap masih ada keluhan terkait sarana di kota ini.

“Trotoar di Jakarta jarang yang ramah untuk pelari, mulai dari lampu penerangan hingga kondisinya, belum lagi ada pedagang hingga motor yang sering naik ke trotoar. Lari di taman menjadi salah satu solusi, meskipun belum senyaman di luar negeri atau kota lain,” ujar Erwin. (api) 

Simak berita lainnya seputar topik artikel ini, di sini :

Sumber : Fita Indah Maulani

Editor : Lingga Sukatma Wiangga
KOMENTAR


0   Komentar

Berita Terkait



Berita Terkini Lainnya

Top