Bisnis.com
Epaper Bisnis Indonesia BIGStore Koran Bisnis Indonesia Bisnis Indonesia Group bisnis tv bisnismuda

Film Sang Penari, menarik untuk ditonton

Sang Penari merupakan film yang terinspirasi dari novel karya Ahmad Tohari yang berjudul Ronggeng Dukuh Paruk. Film yang berlatar tahun 1960-an ini menceritakan kehidupan Srintil sebagai ronggeng dengan dibumbui kisah asmaranya dengan Rasus.
News Editor
News Editor - Bisnis.com 21 November 2011  |  05:53 WIB

Sang Penari merupakan film yang terinspirasi dari novel karya Ahmad Tohari yang berjudul Ronggeng Dukuh Paruk. Film yang berlatar tahun 1960-an ini menceritakan kehidupan Srintil sebagai ronggeng dengan dibumbui kisah asmaranya dengan Rasus.

 

Tak hanya kisah cinta, cerita sejarah politik tahun 1960-an pun turut mewarnai film ini. Menjadi seorang ronggeng adalah prestise tersendiri bagi wanita di sebuah desa kecil bernama Dukuh Paruk.

 

Keinginan menjadi ronggeng, telah dimiliki Srintil sejak kecil. Sebelumnya, Dukuh Paruk kehilangan ronggeng karena musibah keracunan yang menimpa desa mereka. Sang ronggeng dan beberapa warga tewas setelah memakan tempe bongkrek buatan orang tua Srintil.

 

Setelah dewasa, Srintil (Prisia Nasution) makin berambisi untuk menjadi ronggeng di Dukuh Paruk. Sang kakek, Sakarya (Landung Simatupang) pun percaya bahwa cucunya ada titisan ronggeng. Namun, keinginan Srintil menjadi ronggeng rupanya tidak sejalan dengan Rasus (Oka Antara), kekasih Srintil.

 

Melihat ambisi Srintil tersebut, Rasus pun memberikan keris kecil kepada Srintil, yang diambilnya dari ronggeng sebelumnya. Karena memiliki keris kecil tersebut, sang dukun ronggeng, Ki Kertareja (Slamet Rahardjo) dan warga percaya Srintil adalah titisan ronggeng.

 

Ternyata, menjadi ronggeng bukan hanya sekedar menari, Srintil juga menjadi “milik” warga Dukuh Paruk.  Semenjak Srintil menjadi ronggeng, Rasus menjauh dan menghilang dari Srintil.

 

Rasus meninggalkan pekerjaan sebagai buruh tani dan pergi ke markas tentara. Sersan Slamet (Tio Pakusadewo) melihat potensi Rasus, dan menyetujuinya menjadi tentara. Setelah menjalani pelatihan, dirinya kemudian diangkat menjadi abdi negara.

 

Sementara itu, Dukuh Paruk pun kedatangan Bakar (Lukman Sardi) yang merupakan aktivis PKI. Dia memberikan berbagai fasilitas untuk warga desa dan menjanjikan kehidupan yang layak. Warga yang tidak bisa membaca dan menulis juga direkrut Bakar sebagai anggota dari PKI.

 

Akibatnya, hampir seluruh warga desa ditangkap tentara karena dianggap menjadi bagian dari partai komunis tersebut. Mereka dibawa ke ruangan gelap dan diinterogasi satu persatu.

 

Ketika Rasus kembali ke Dukuh Paruk, dirinya menyadari bahwa Srintil telah dibawa tentara. Tak tinggal diam, Rasus mencari tahu keberadaan Srintil. Pencarian Rasus mencari Srintil membuahkan hasil, sayangnya dia tak berhasil membawa Srintil keluar dari tempat penahanan.

 

TAK MIRIP RONGGENG DUKUH PARUK

Secara keseluruhan, film ini tidak sepenuhnya sama dengan novel Ronggeng Dukuh Paruk. Misalnya usia Srintil dalam novel digambarkan sekitar 12 tahun. Sedangkan dalam film usia Srintil jauh lebih dewasa.

 

Tak hanya itu, dalam novel pun tak segamblang dalam menceritakan penangkapan massal yang dilakukan tentara. Film produksi Salto Film juga menceritakan kepada masyarakat mengenai sisi lain dari sejarah dalam penumpasan PKI.

 

Warga desa yang tak bisa membaca-menulis menjadi korban dari partai komunis dalam penyebaran ideologinya, serta menjadi korban penangkapan massal oleh tentara.

 

Beberapa adegan dalam film arahan Ifa Isfansyah ini pun agak membuat penonton bertanya-tanya. Tak diceritakan bagaimana Srintil bisa lolos dari penangkapan yang dilakukan oleh tentara.

 

Tak jelas pula mengapa Srintil tiba-tiba terobsesi dengan bayi. Meski demikian, melalui film ini kita dapat melihat sejarah bangsa Indonesia di mana situasi politik pada tahun 1960-an sangat berpengaruh bagi berbagai sisi kehidupan masyarakat kecil, termasuk tradisi.

 

Juga, peran yang dilakoni para pemain dimainkan apik. Prisia Nasution sendiri mengaku dirinya telah belajar menari selama 4 bulan untuk melakoni peran ronggeng. Shanty Harmayn menuturkan pembangungan set film dilakukan selama 3 bulan di 4 kabupaten yang menjadi lokasi syuting yaitu di Kabupaten Tegal, Banyumas, Purwokerto, dan Cilacap.

 

Shanty menambahkan, penulisan skenario film yang dilakukan Salman Aristo dan Ifa Isfansyah menghabiskan waktu hampir 2 tahun. Bagi Anda yang ingin mengetahui tradisi dan sisi lain sejarah bangsa, Sang Penari dapat menjadi tontonan menarik.

 


Simak Video Pilihan di Bawah Ini :

Simak berita lainnya seputar topik artikel ini, di sini :

Sumber : Bisnis-jabar.com

Editor : Rezza Aji Pratama

Bergabung dan dapatkan analisis informasi ekonomi dan bisnis melalui email Anda.

Artikel Terkait



Berita Terkini Lainnya

Terpopuler

Download Aplikasi E-Paper sekarang dan dapatkan FREE AKSES selama 7 hari!
qrcode bisnis indonesia logo epaper

BisnisRegional

To top