Bisnis.com
Epaper Bisnis Indonesia BIGStore Koran Bisnis Indonesia Bisnis Indonesia Group bisnis tv bisnismuda

Warung Apresiasi Cetak Seniman Kenamaan

Panggung ukuran 5x8 meter ini terletak di depan pintu kayu masuk ruangan yang luasnya sekitar 2 hektare saja. Di depan panggung tersebut ada kolam ikan kecil dan tanaman hias. Di sekitar kanan kirinya berjejer kursi dan meja untuk pengunjung.
Ipak Ayu H Nurcaya
Ipak Ayu H Nurcaya - Bisnis.com 24 Agustus 2015  |  09:13 WIB
Warung Apresiasi di Bulungan Jakarta Selatan hadirkan lahirkan musisi kenamaan - youtube
Warung Apresiasi di Bulungan Jakarta Selatan hadirkan lahirkan musisi kenamaan - youtube

Bisnis.com, JAKARTA -- Panggung ukuran 5x8 meter  ini terletak di depan pintu kayu masuk ruangan yang luasnya sekitar 2 hektare saja. Di depan panggung tersebut ada kolam ikan kecil dan tanaman hias. Di sekitar kanan kirinya berjejer kursi dan meja untuk pengunjung.

Di dinding ruang terdapat berbagai aksesoris seperti wayang, lukisan dinding, lemari kaca untuk album CD dan buku sastra yang dijual. Lampu kuning yang menghiasi setiap sudut ruang serta suara gemercik dari kolam membuat suasana ruang menjadi teduh.

Inilah kafé sederhana atau tempat kongkow asyik para seniman yang sudah ada sejak 12 Oktober 2002, namanya Warung Apresiasi (Wapress). Meski sudah memasuki usai lebih dari satu dekade namun semangatnya mengantarkan karya asli musisi dan seniman amatir pada masyarakat luas rasanya tak surut oleh waktu.

Wapress sendiri masih berada dalam lahan Gelanggang Olahraga Bulungan di Jalan Bulungan, Blok M, Jakarta Selatan. Berdirinya Wapress digagas oleh beberapa seniman dari berbagai komunitas salah satunya Gelanggang Remaja Jakarta Selatan (Gerajas) yang kerap berkumpul di GOR tersebut.

Sejarah sederhananya, Wapress ini berawal dari kehausan para seniman tersebut akan sebuah tempat yang bisa digunakan untuk berkarya dan disaksikan masyarakat. Jadi jangan harap pengunjung akan mendapati hidangan mahal ala kafé metropolitan.

“Hingga kini Wapress masih dengan konsep awalnya menyajikan sajian seni dan sastra sebagai menu utama kafé, juga lebih tepatnya sebagai lahan para seniman untuk berkarya dan berproses,” kata salah satu pengelola Wapress, Suluh Gembyeng Ciptadi.

Syarat utama untuk berkarya pada panggung tersebut hanyalah membawakan karya dan kreasi sendiri. Selain itu para seniman muda yang ingin tampil maupun sekadar berkunjung dilarang membawa alkohol atau obat terlarang lainnya.

Seniman Terkenal

Gembyeng menambahkan Wapress memiliki ideologi untuk menampung segala karya seniman yang asli dan bersih dari segala barang terlarang. Namun, dengan keyakinan ini banyak seniman terkenal yang lahir dan sering memamerkan karyanya di Wapress.

Sebut saja Band Nidji, D’Massiv hingga penyanyi almarhum Mbah Surip dan lainnya. Tidak hanya itu, seniman besar seperti Iwan Fals, Rieke Diyah Pitaloka dan W.S Rendra juga pernah manggung di Wapress.

“Jadi panggung ini tidak hanya digunakan untuk para musisi main musik. Tetapi sering juga menampilkan beragam karya sastra seperti puisi, teater, monolog, dan kalau yang rutin juga sekarang stand up comedy,” katanya.

Gembyeng juga mengatakan bahkan dulu pada periode band pop sedang naik daun, produser musik dari berbagai label ternama sering menghabiskan waktu di Wapress untuk melihat-lihat musisi baru. Namun, masa itu hanya berlangsung beberapa tahun setelah adanya trend band indie.

Wapress sendiri juga punya cerita pasang surut dalam perjalanannya menemani para seniman berkarya. Pada akhir 2013 hingga awal 2014, Wapress sempat tutup karena keterbatasan sumber daya manusia yang mengelolanya.

Batal Digusur

Gembyeng menambahkan Wapress pada masa Gubernur Jakarta dijabat oleh Sutiyoso dulu pernah akan digusur untuk dijadikan semacam pusat perbelanjaan kota. Namun, mantan gubernur almarhum Ali Sadikin kala itu masih hidup dan meminta untuk membatalkan rencana penggusuran lahan Wapress ini.

Sekarang meski tidak seramai dulu, di bawah pengelolaan Gembyeng dan teman-temannya Wapress lebih banyak menggandeng komunitas seni dan sastra untuk tampil kembali di panggung yang dibuka setiap senin sampai sabtu pukul 18.00-24.00 WIB.

“Di sini murni tempat untuk menampilkan karya. Kami hanya memungut biaya sebesar Rp50.000 untuk band yang ingin tampil dengan empat lagu. Uang tersebut juga kami gunakan sebagai perawatan alat musik yang berasal dari sumbangan para seniman,” katanya.

Untuk kuliner menemani pengunjung menikmati seni Wapress menyediakan beragam menu makanan dari ayam bakar hingga nasi goreng yang dijual dari harga Rp15.000. Sedangkan menu minuman sendiri tersedia beragam olahan kopi dan jus yang ditawarkan dari harga Rp5.000.


Simak Video Pilihan di Bawah Ini :

Simak berita lainnya seputar topik artikel ini, di sini :

food warung
Editor : Nancy Junita

Bergabung dan dapatkan analisis informasi ekonomi dan bisnis melalui email Anda.

Artikel Terkait



Berita Terkini Lainnya

Terpopuler

Download Aplikasi E-Paper sekarang dan dapatkan FREE AKSES selama 7 hari!
qrcode bisnis indonesia logo epaper

BisnisRegional

To top