Bisnis.com
Epaper Bisnis Indonesia BIGStore Koran Bisnis Indonesia Bisnis Indonesia Group

Mengenal Kelainan Tulang Belakang, Apa Tanda-tandanya?

Skoliosis dan kifosis merupakan salah satu contoh kelainan pada tulang belakang. Seperti apa tanda-tandanya?
Tisyrin Naufalty Tsani
Tisyrin Naufalty Tsani - Bisnis.com 20 Desember 2015  |  06:00 WIB
Tulang Belakang.
Tulang Belakang.

Bisnis.com, JAKARTA - Tulang belakang memiliki fungsi vital pada manusia, yaitu untuk menopang seluruh tubuh sehingga keseimbangan tetap terjaga. Namun pada orang-orang tertentu, bisa saja tulang belakangnya terkena gangguan ringan hingga serius.

Skoliosis dan kifosis merupakan salah satu contoh kelainan pada tulang belakang. Seperti apa tanda-tandanya?

Terkait skoliosis, penyebabnya belum diketahui secara pasti. Pada penderita skoliosis, punggung akan terlihat miring jika diamati dari belakang. Namun, untuk memastikan apakah itu benar skoliosis, bisa dilakukan ketika seseorang sedang menunduk. Apabila saat menunduk punggung seseorang terlihat asimetris atau seperti ada gunung di salah satu sisi punggung, artinya dia terkena skoliosis.

Skoliosis seringkali mulai muncul pada seseorang berusia 11 tahun-16 tahun. Pada penderita yang skala kemiringannya tidak terlalu berat, kondisinya punggungnya sekilas terlihat normal-normal saja.

Menurut Dokter Spesialis Ortopedi MRCCC Siloam Hospitals Semanggi S. Dohar  A. L. Tobing, kondisi tulang belakang penderita skoliosis biasanya bengkok dan melintir, sehingga dari luar punggungnya akan terlihat miring. “Hal itu menambah kesulitan penanganannya,” katanya.

Oleh karena itu, pada umumnya skoliosis tidak dapat sepenuhnya kembali sempurna. Upaya penanganan yang dapat dilakukan hanya berfungsi mengurangi keparahannya saja.
Untuk skoliosis dengan kemiringan 30 derajat hingga 40 derajat, penanganannya bisa dengan memasang brace. Sementara itu, jika skala kemiringannya mencapai 45 derajat hanya bisa diperbaiki dengan tindakan pembedahan untuk pemasangan pen.

Namun, operasi biasanya akan ‘mengunci’ pertumbuhan tinggi badan seseorang. Jadi apabila seseorang harus mengikuti operasi skoliosis pada usia muda, sebaiknya dilakukan tanpa ‘mengunci’ pertumbuhan tinggi badan. Selanjutnya, harus dilakukan pembedahan kembali setiap enam bulan hingga masa pertumbuhannya usai, untuk menyesuaikan pen yang dipasang dengan perubahan tinggi badan si penderita.

Prevalensi skoliosis sekitar 2%-3% dari populasi penduduk Indonesia. Dohar menjelaskan bahwa kondisi perkembangan skoliosis berbeda-beda pada setiap orang. Ada yang dalam beberapa bulan saja  tulang belakangnya semakin bengkok, ada pula yang perubahannya terjadi dalam waktu lama.

Selain merusak postur tubuh, skoliosis juga berpotensi mengganggu pernafasan karena tulang belakang yang bengkok dapat mempengaruhi posisi paru-paru. Sementara itu, tulang belakang yang bengkok tersebut juga memicu rasa nyeri di pinggang.

Di luar negeri, beberapa sekolah telah melakukan pemeriksaan dini untuk skoliosis yaitu dengan cara meminta para muridnya menunduk dan kemudian diamati apakah bentuk punggungnya normal atau tidak. Pemeriksaan dini di sekolah semacam itu belum ada di Indonesia, tetapi orangtua dapat mempraktikkannya sendiri di rumah.

KIFOSIS

Berbeda dengan skoliosis yang tidak diketahui secara pasti penyebabnya, pada kifosis salah satu penyebabnya adalah infeksi tuberkolosis (TBC) pada tulang belakang. TBC awalnya menginfeksi paru-paru, tetapi jika seseorang memiliki daya tahan tubuh yang kurang baik, infeksi dapat menyebar ke berbagai bagian tubuh termasuk tulang belakang. Karena itu, bagi penderita TBC harus mempertahankan asupan gizi yang penting dengan maksimal.

Pada penderita kifosis, punggung penderita terlihat seperti gunung dari samping saat kondisinya tengah berdiri. Tulang belakang yang normal berbentuk seperti susunan batu bata, sementara pada kifosis seolah-olah ada batu bata yang ambruk.

“Jika ada anak kecil yang mengeluh, rewel, dan kesakitan saat berjalan, orangtua sebaiknya waspada akan munculnya kifosis,” katanya.

Simak berita lainnya seputar topik artikel ini, di sini :

tulang belakang

Sumber : Bisnis Indonesia, Minggu (20/12/2015)

Editor : Fatkhul Maskur
Bisnis Indonesia bersama 3 media menggalang dana untuk membantu tenaga medis dan warga terdampak virus corona yang disalurkan melalui Yayasan Lumbung Pangan Indonesia (Rekening BNI: 200-5202-055).
Ayo, ikut membantu donasi sekarang! Klik Di Sini untuk info lebih lengkapnya.

Bergabung dan dapatkan analisis informasi ekonomi dan bisnis melalui email Anda.

Artikel Terkait



Berita Terkini Lainnya

BisnisRegional

To top